Langsung ke konten utama

Nyak Sandang, Salah Seorang Penyumbang Pesawat Pertama RI

DI usianya yang kini 91 tahun, kulit-kulit Nyak Sandang, keuchik atau kepala Kampung Lheut Lamno, Aceh Jaya, salah seorang warga Aceh yang punya andil menyumbangkan harta kekayaan keluarganya untuk membeli dua pesawat pertama Indonesia, Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002, benar-benar sudah berkeriput. Matanya pun tak awas lagi lantaran katarak di mata sudah menghalangi pandangannya secara jelas. Demikian pula kesehatannya tak seprima saat di usia 23 tahun, ia bersama ayahnya menemui Presiden Soekarno yang datang pertama kalinya ke Tanah Rencong.

Tapi sosok itulah yang pernah sangat berjasa untuk bangsa ini. Ketulusannya bersama sejumlah warga Aceh lain, menyumbang Pemerintah RI di awal terbentuknya untuk membeli pesawat dan kini berwujud menjadi maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia, tidak lekang diterpa zaman.

Surat obligasi Pemerintah Indonesia tahun 1950 menjadi bukti Nyak Sandang sebagai salah seorang yang ikut menyumbangkan harta kekayaannya untuk membeli pesawat pertama Indonesia yang digunakan Presiden Soekarno untuk mewujudkan eksistensi negara baru mengonsolidasikan Indonesia yang tercerai-berai wilayahnya.

Tercatat dalam sejarah, pada masa awal kemerdekaan, 16 Juni 1948, Presiden Soekarno berkunjung ke Aceh untuk mencari dana pembelian pesawat pertama RI. Dari pertemuan dengan sejumlah tokoh Aceh, Bung Karno membangkitkan semangat dan keinginan rakyat Aceh untuk turut membangun Indonesia.

Nyak Sandang bersama orang tuanya kemudian menjual sepetak tanah di kampungnya yang ditanam 40 batang pohon kelapa dan 10 gram emas. Hartanya waktu itu dihargai Rp 100 dan diserahkan kepada negara bersama sumbangan warga Aceh lainnya. Saat itu terkumpul 20 kilogram emas murni dan 120.000 dollar Singapura yang lalu dipakai untuk membeli pesawat jenis Dakota. Pesawat ini dinamakan Seulawah RI-001 dan Seulawah RI-002. Seulawah sendiri berarti gunung emas.

Awalnya, pesawat ini dioperasikan Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) dan pernah mengangkut Wakil Presiden Mohammad Hatta dan rombongan dari Maguwo (Yogyakarta) ke Jambi, Payakumbuh, dan Kotaraja. Pada Desember 1948, pembukaan jalur penerbangan ke luar negeri melalui Sumatera dinilai sangat mendesak. Sebab, hubungan dengan negara-negara lain dinilai penting untuk menunjang perjuangan. Apalagi wilayah Indonesia saat itu dipisahkan oleh laut yang amat luas. Belanda pun terus mengganggu, di antaranya melalui Agresi Militer II pada 19 Desember 1948. Saat itu, sebagian besar pesawat AURI hancur akibat serangan udara. Satu-satunya pesawat angkut yang masih utuh adalah Dakota Seulawah RI-001 yang kebetulan sedang dalam perbaikan mesin di India.

Oleh karena itu, pada 1949, seperti tertulis dalam buku Awal Kedirgantaraan Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1949, Kepala Biro Rencana dan Konstruksi AURI Wiweko Supono dan Kepala Kantor Perwakilan RI Maryunani mendirikan perusahaan penerbangan Indonesian Airways. Seulawah pun kemudian dioperasikan Indonesian Airways di Myanmar mulai 26 Januari 1949. Kini Indonesian Airways sudah menjadi Garuda Indonesia, salah satu anggota Star Alliance, aliansi penerbangan global pertama dan terbesar.

Tak mencari balas jasa

Kalau Nyak Sandang, yang dikenal dengan panggilan Ayah Sandang, menemui Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (21/3), tentu tak ada niatan untuk mencari balas jasa. Ditemani putranya, Maturidi, Nyak Sandang hanya menyampaikan tiga harapannya. Selain dapat dilakukan operasi katarak dan dibangun masjid di kampungnya di Lamno, Aceh, ia juga berharap dapat menunaikan ibadah haji. 

Presiden Jokowi pun berjanji membantu merealisasikan harapan Nyak Sandang tersebut. Namun, khusus untuk naik haji, Presiden Jokowi terus terang harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Menteri Agama. "Sementara umrah saja dulu, ya," kata Presiden menawarkan Nyak Sandang.

Tampaknya, akibat kelelahan, seusai bertemu Presiden, Nyak Sandang jatuh sakit. Salah satunya, Nyak Sandang kesulitan buang air kecil. Presiden pun menginstruksikan supaya perawatan segera dilakukan. Nyak Sandang kini dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Kepala RSPAD dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K)RI menjelaskan bahwa kondisi Nyak Sandang saat ini mulai membaik. Tim dokter kepresidenan, yang terdiri dari dokter spesialis mata, paru-paru, ginjal, urologi, jantung, dan spesialis penyakit dalam, sudah memeriksanya.

Di ranjangnya, Jumat (23/3), Nyak Sandang tetap bungah. Album foto saat dirinya diterima Presiden Jokowi di Istana Merdeka ditatap dan dipeluknya. Sejuta harapan tampak di mata.

Meski mata Nyak Sandang tak awas lagi untuk melihat, dari cerita Maturidi, Nyak Sandang dapat membayangkannya. "Dia senang sekali. Saya pun sebagai keluarga merasa sangat senang," ujar Maturidi, seperti ditulis siaran pers yang dikeluarkan Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Sabtu (24/3).

"Masya Allah, saya senang sekali bisa bertemu Presiden. Kalau seandainya ada kesempatan untuk bertemu lagi, saya mau memeluknya," ujar Nyak Sandang.

(NINA SUSILO)



Sumber: Kompas, 25 Maret 2018



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...