KEBUTUHAN pasokan gula putih masih menjadi persoalan rutin yang serius dibahas sejumlah pemangku kepentingan di Indonesia sejak bertahun-tahun terakhir. Terus berkurangnya pasokan tebu dan tak optimalnya sebagian unit pabrik gula di Pulau Jawa masih menjadi penyebab utama yang di masa lalu sempat jaya.
KEPENTINGAN penguasaan pabrik gula pun termasuk menjadi salah satu sasaran utama penguasaan pasukan Belanda semasa Perang Kemerdekaan Indonesia. Semasa Agresi Belanda I "Operasi Produk", pada 21 Juli s.d. 5 Agustus 1947, kawasan utama lokasi pabrik gula di Jawa Barat, yaitu di Cirebon dan Majalengka menjadi sasaran pergerakan pasukan Belanda dari Bandung.
Namun, setelah puluhan tahun pascaperang untuk penguasaan seluruh pabrik gula di Jawa Barat, kini hanya menyisakan tiga pabrik gula (PG) eks kolonial, yaitu PG Sindanglaut, PG Tersanabaru, dan PG Karangsuwung (ditambah dua pabrik gula baru yang didirikan tahun 1970-an dan 1980-an, yaitu PG Jatitujuh dan PG Subang). Sementara 19 pabrik gula lainnya di wilayah Majalengka dan Cirebon sudah musnah, baik karena perang maupun terpaksa ditutup akibat terus kekurangan bahan baku tebu. Hanya menyisakan catatan sejarah terlupakan semasa Perang Kemerdekaan Indonesia lalu yang saat itu masih disebut suiker fabriek (SF).
Salah seorang mantan tentara Belanda yang pernah ikut dalam Operasi Produk 21 Juli s.d. 5 Agustus 1947 untuk merebut kembali sejumlah pabrik gula di jalur Majalengka dan Cirebon, HP Dijkstra yang dituliskan dalam Java in Beeld 1947-1949 "de twee sleutels een soldaat in Nederlands-Indïė", menyebutkan, pasukannya sudah beraksi sejak Maret 1947 dengan langsung menguasai ratusan ton gula di gudang besar Pabrik Gula Kadipaten (Majalengka).
Walau suasananya sedang perang, Dijkstra pun memiliki kenangan atas suasana alam Majalengka di sekitar Pabrik Gula Kadipaten. "Pemandangan gunung, hamparan dataran luas, dan desa, pemandangan yang menakjubkan bagi kami," kenangnya.
Berikutnya, katanya, pasukan Belanda pun bergerak memasuki Jatiwangi, yang juga terdapat Pabrik Gula Jatiwangi. Saat itu didapati jembatan jalan raya di Jatiwangi sudah dalam keadaan kosong, tak ada pihak Indonesia yang melakukan penjagaan. Penjagaan dari pihak Indonesia baru tampak di mana ada sebuah pos TNI di sebuah jembatan di pinggir jalan perbatasan Jatiwangi (Majalengka) - Cirebon, yang meminta rombongan pasukan Belanda berhenti.
Namun, atas permintaan pihak TNI tersebut, kata Dijkstra, pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan lalu melewati jembatan tersebut. Selanjutnya, pasukan Belanda melihat banyak rumah dan bangunan lainnya sudah dalam keadaan kosong.
Disebutkan pula, pasukan Belanda kemudian bergerak ke perkotaan Cirebon untuk menduduki pabrik gas, pembangkit listrik, dan kantor polisi. Namun, pasukan Belanda di jalur Palimanan ke Cirebon tak begitu melihat ada perlawanan dari pihak Indonesia, yang justru baru ditemui di perbatasan kota, dengan hanya bersenjatakan seadanya, misalnya tombak.
Saat agresi militer Belanda Operasi Produk dimulai 21 Juli 1947, arsip surat kabar yang tersimpan di National Library of Australia, The Newcastle Sun, terbitan New South Wales 24 Juli 1947, mengabarkan, pihak Belanda mengerahkan 50 tank untuk mendobrak pertahanan di Kadipaten, untuk selanjutnya menuju ke Cirebon.
Pada Kamis 31 Juli 1947, diberitakan surat kabar Daily Mercury, terbitan Queensland, Jumat 1 Agustus 1947, operasional kereta api Kadipaten - Cirebon berupaya dipulihkan kembali.
Namun, diberitakan surat kabar The West Australian, terbitan Perth, Jumat 29 Agustus 1947, di mana perlawanan sengit dilakukan pihak Indonesia di Kadipaten, untuk menghadang laju konvoi pasukan Belanda menuju Cirebon.
**
INFORMASI dari National Archief Belanda, pada Agustus 1947, pasukan Belanda sudah menguasai Kompleks PG Sindanglaut Cirebon. Berbagai instalasi produksi berikut rangkaian lori pengangkut tebu beserta lokomotifnya pun diaktifkan kembali oleh pasukan Belanda.
Pasukan Belanda menemukan situasi di mana bangunan pabrik gula itu dalam keadaan siap dihancurkan oleh pihak Indonesia. Di dalam pabrik gula tersebut, pasukan Belanda menemukan bom yang disimpan di bawah mesin penggiling tebu.
Didapati pula ceceran tebu kering yang sengaja dirangkai "mengular" dari arah mesin-mesin sampai ke luar pabrik. Rangkaian ceceran tebu tersebut sudah disiram minyak yang diduga untuk menambah daya bakar setelah bom tersebut diledakkan.
Di sekitar Sindanglaut, disebutkan, pasukan Belanda pun menemukan banyak kerangka manusia berserakan yang diduga korban pembunuhan massal. Belanda menduga, serakan tulang belulang tersebut berasal dari etnis yang dinilai pro-Belanda.
Selama Operasi Produk merebut berbagai pabrik gula di wilayah Cirebon, pasukan Belanda di sekitar Pabrik Gula Arjawinangun merekrut pula pasukan Belanda terdapat pula 15 tentara tua terdiri atas pensiunan tentara KNIL. Para tentara berusia lanjut yang direkrut tersebut terdiri atas orang-orang Jawa, dan merupakan veteran yang pernah dikirimkan ke Perang Dunia I di Eropa tahun 1914-1918.
Disebutkan, di Ciledug pada malam hari antara tanggal 6-7 Oktober 1947, orang-orang Republik Indonesia menggerebek sebuah desa antara Tegal dan Cirebon. Aksi pihak Indonesia dilakukan terhadap kumpulan etnis yang mendukung Belanda.
Perwakilan Tinggi Mahkota, ZAAL Lovink mengunjungi sejumlah pabrik gula di Cirebon dengan didampingi oleh sejumlah pejabat sipil dan militer. Lovink pun mengunjungi Pabrik Gula Tersana Baru dengan diterima administraturnya, WHDJ Visser.
Pada September tahun 1948 data situs Troepenoverzicht, indie1945-1950.nl dan 6ebataljonstoottroepen.veteranen.nl, pasukan marinir Belanda mendarat di Cirebon dengan kapal laut SS Sibajak. Pasukan yang dipimpin Letkol van Cleef tersebut kemudian ditempatkan mengawasi wilayah Arjawinangun (SF Arjawinangoen), Palimanan (SF Gempol 1 dan SF Gempol 2), Karangsuwung (SF Karangsoewoeng), Tersana Baru (SF Nieuw Tersana), dan Leuweunggajah (SF Leuweung Gadjah).
Catatan mantan tentara Belanda yang saat itu ikut bertugas di kawasan tersebut, Sip Faber saat umurnya masih 19 tahun, setelah periode singkat tenang sampai Mei 1948, di wilayah selatan Cirebon berkobar lagi pertempuran pada bulan Juni dan Juli 1949. Pada tanggal 25 Juli 1948, aksi besar terjadi selatan dari Babakan dilakukan di mana hampir seluruh batalion pasukan Belanda terlibat. Pada tanggal 1 Agustus 1949, Kompi 1 pasukan Belanda dari Palimanan dipindahkan untuk memperkuat Linggarjati. Pihak Indonesia dan Belanda berupaya melakukan gencatan senjata pada Agustus 1949. Namun Laskar Pejuang Darul Islam tetap aktif melakukan perlawanan, dengan terus menembaki pos dan patroli pasukan Belanda.
Setelah genjatan senjata itu, batalion Belanda ditempatkan di Linggarjati, Sindanglaut, Leuweunggadjah, Panawuan, Pabrik Gula Tersana Baru, dan Kuningan (M-Inco). Pada tanggal 20 Agustus M-Inco meninggalkan daerah dan dipindahkan ke Surabaya.
Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada tanggal 29 Desember 1949, semua pos-pos kecil Belanda dihapus. Batalion tersebut ditarik dari Cirebon, Soetawangi (di sekitar Jatiwangi), Tersana Baru, dan Sindanglaut, lalu kemudian dipulangkan ke Belanda. (Kodar Solihat/"PR")***
Sumber: Pikiran Rakyat, 23 Mei 2016





Komentar
Posting Komentar