Pengantar
Periode penting dalam sejarah bangsa kita berlangsung dari tahun 1944 hingga sekitar 1949. Tahun-tahun sebelum kemerdekaan dan beberapa tahun sesudahnya tercatat sebagai bagian yang penuh dengan peristiwa penting, yang menentukan kelanjutan hidup negara dan bangsa Indonesia.
Sebagian besar tokoh-tokoh perjuangan kita saat ini sudah tiada. Yang masih hidup pun barangkali sudah dalam keadaan uzur dan sulit untuk mengingat kembali setiap peristiwa secara akurat.
Untunglah banyak juga di antara para tokoh yang terlibat langsung dengan perjuangan kemerdekaan itu yang memiliki catatan untuk diterbitkan, atau menyusun buku kenang-kenangan. Aboe Bakar Loebis adalah satu di antara banyak tokoh pejuang yang sudah menuliskan memoarnya.
Aboe Bakar Loebis turut serta dalam berbagai kegiatan persiapan proklamasi kemerdekaan dan selama satu tahun menjadi staf Biro Perjuangan, Kementerian Pertahanan. Ia juga ikut mendirikan dan menjadi wartawan surat kabar Berita Indonesia.
Aboe Bakar bahkan pernah ikut menyelundup ke Thailand, Malaya, dan Singapura dalam rangka mencari perbekalan bagi kebutuhan perjuangan dalam negeri.
Buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku dan Saksi merupakan rekaman pengalaman dan penilaiannya terhadap sejarah kemerdekaan.
Ia tidak hanya saksi, tetapi juga pelaku, sehingga sangat relevan kalau bagian dari bukunya kita nukil sebagai bagian dari peringatan emas Republik Indonesia pada 17 Agustus 1995 ini.
Nukilan--yang diringkas menjadi lebih padat--di bawah ini diambil dari bab ke-8 buku Kilas Balik Revolusi: Kenangan, Pelaku dan Saksi (diterbitkan oleh Penerbit Universitas Indonesia/UI-Press) yang merupakan bagian terpanjang. Judul bab ke-8: Hari-hari Sekitar Proklamasi, kami angkat sebagai judul tulisan.
Adapun pada bagian lain dari Laporan Utama ini, DANANEWS menampilkan pendapat dan komentar para tokoh perjuangan serta satu tokoh dari Angkatan '66.
PADA TANGGAL 7 SEPTEMBER 1944 PM JEPANG Jenderal Koiso Kuniaki mengumumkan di depan parlemen Jepang bahwa kemerdekaan Indonesia akan diakui kelak. Pernyataan ini merupakan suatu perubahan sikap yang besar, sebab sejak semula Jepang sebetulnya menghendaki wilayah ini merupakan milik dan bagian dari kerajaan Jepang jika mereka memenangkan peperangan.
Namun demikian, kepada kaum nasionalis yang diajaknya bekerja sama, Jepang selalu menghindari dari pembicaraan tentang kemerdekaan. Pada tanggal 20 Maret 1942 Jepang bahkan membubarkan semua organisasi politik di Jakarta. Bendera merah putih dilarang dikibarkan, lagu Indonesia Raya dilarang dinyanyikan.
Jepang membentuk organisasi politik yang diharapkan bisa menjadi alat propaganda mereka: Tiga A (Jepang Cahaya Asia, Jepang Pelindung Asia dan Jepang Pemimpin Asia), dan PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat). Namun kedua organisasi ini gagal. Organisasi PUTERA justru dimanfaatkan oleh pihak nasionalis untuk menebarkan kesadaran nasional.
Jepang lalu membentuk Jawa Hoko Kai, yang dilengkapi dengan barisan pemuda (Barisan Pelopor alias Suishintai). Namun ternyata dalam organisasi ini pun terjadi penebaran kesadaran nasional, bahkan dalam kadar yang lebih merata ke semua lapisan pemuda baik dari golongan atas maupun golongan yang kurang pendidikannya.
Dalam Barisan Pelopor terdapat sejumlah mahasiswa dari (asrama) Parapatan 10 seperti Nasrun, Tjoet Rachman, Rahadi Osman, Piet Mamahit, Djohar Noer, dan lain-lain. Ada juga organisasi lain yang dibentuk pada Oktober 1944: Barisan Pelopor Istimewa beranggotakan seratusan pemuda.
Jepang mengalami kekalahannya yang pertama dalam pertempuran laut dekat Pulau Midway pada bulan Juni 1942. Pulau Saipan jatuh ke tangan Sekutu, padahal pulau ini sangat strategis bagi Jepang. Jatuhnya Saipan menyebabkan jatuhnya kabinet Tojo dan diangkatlah Jenderal Koiso menjadi Perdana Menteri.
Keadaan di Indonesia menjadi amat sulit. Tindakan pemerintah militer Jepang menimbulkan ketidakpuasan dan menimbulkan pemberontakan rakyat di Singaparna (25 Februari 1944) dan Indramayu (Mei dan Agustus 1944).
Dalam keadaan demikian Jepang menyadari, jika ingin mendapat bantuan dari rakyat dalam mempertahankan Indonesia terhadap serangan Sekutu, maka kepada rakyat Indonesia harus diberikan--setidak-tidaknya dijanjikan--sesuatu yang memenuhi aspirasi rakyat, yaitu kemerdekaan.
Pernyataan Koiso itu disambut hangat oleh para pemimpin Indonesia umumnya, walaupun janji itu sangat samar-samar. Maka bendera merah putih boleh dikibarkan lagi dan lagu Indonesia Raya boleh dinyanyikan lagi.
Pernyataan yang samar itu tetap tidak memuaskan aspirasi kemerdekaan pemuda Indonesia di Jakarta, apalagi tidak ada tindak lanjutnya.
Kelompok-kelompok pemuda nasionalis yang anti Jepang kemudian banyak membahas keadaan perang pada umumnya, keadaan dalam negeri, cita-cita kemerdekaan, dan bagaimana mencapai cita-cita itu.
Tempat-tempat yang menjadi pusat kegiatan pemuda adalah Asrama Parapatan 10, Asrama Angkatan Muda di Menteng 31, dan Asrama Baperpi di Cikini 71. Setelah perguruan tinggi Islam dibuka, asrama sekolah ini juga menjadi pusat kegiatan pemuda yang bekerja sama erat dengan Asrama Parapatan 10.
Asrama perguruan tinggi Islam ini terletak di Jalan Kramat, beberapa ratus meter dari Asrama Parapatan. Di asrama ini antara lain terdapat Soeroto Koento, Soebianto (keduanya mahasiswa Ika Daigaku), Bagdja Nitidiwirja, Nasuhi, Janmar Adjam, Darsjaf Rachman, dan lain-lain.
Tetapi lebih luas dari kegiatan yang berkisar pada tiga asrama itu adalah kegiatan golongan pemuda yang dipimpin oleh Sutan Syahrir. Golongan ini sangat luas, karena mempergunakan jaringan partai Pendidikan Nasional Indonesia, yang dahulu dipimpin oleh Moh. Hatta dan Syahrir. Hampir di tiap kota terdapat anggota golongan ini.
Syahrir juga berhubungan dekat dengan suatu kelompok pemuda yang sudah sejak mula aktif dalam gerakan kebangsaan, misalnya dari Gerindo. Antara lain Sukarni, Maruto, Pandu Kartawiguna, Kusnaini, Adam Malik, dan Djohan Syahruzah.
Keenam pemuda ini mengangkat Sutan Syahrir sebagai pemimpin nasional. Mereka mengumpulkan dana dengan menjual pakaian tua, koran bekas, dan lain-lain.
Ternyata Syahrir juga menjalin hubungan dengan para perwira PETA di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Bagi saya waktu itu, Syahrir adalah sumber inspirasi dan sumber berita mengenai keadaan dalam dan luar negeri. Ia adalah pemimpin dan guru yang mengajar saya untuk berpikir, untuk mencintai tanah air dan mencintai rakyat.
Pada umumnya para peneliti Barat meremehkan gerakan dan usaha-usaha nasionalis anti Jepang ini. Mereka menganggap, apa yang mereka sebut gerakan bawah tanah selama pendudukan Jepang hanyalah merupakan kelompok-kelompok yang ngobrol membicarakan perang dan keadaan dalam negeri, lain tidak. Ini adalah kesimpulan yang salah.
Kegiatan nasionalis di Indonesia memang tidak dimaksudkan untuk melakukan perlawanan bersenjata pada waktu itu. Hal ini disebabkan oleh karena Jepang yang telah mengusir penjajah Belanda tidak dianggap sebagai musuh oleh masyarakat Indonesia umumnya, malah sebaliknya, mereka mula-mula diterima sebagai pembebas dari penjajahan. Pemimpin-pemimpin nasionalis terkemuka hampir semuanya bekerja sama dengan penguasa Jepang. Jadi jelas berbeda dengan yang terjadi di Perancis, Yugoslavia, atau Rusia.
Berita-berita perang selalu didengar sendiri oleh Syahrir melalui radio gelap yang dimilikinya, dan dibuatnya ringkasan yang tiap hari diteruskan kepada Hatta dan Soekarno. Ternyata Soekarno lebih mempercayai berita propaganda Jepang daripada berita dari siaran radio Sekutu. Waktu itu, semua pesawat radio disegel oleh Jepang agar tidak dapat dipergunakan untuk mendengarkan siaran dari luar negeri. Yang melanggar pasti akan disiksa atau mendapat hukuman mati.
Syahrir sendiri selain mengorek informasi dari radio gelap, juga sering pergi ke berbagai tempat untuk menemui kawan-kawannya dengan cara menyamar. Pembinaan yang dilakukannya selama pendudukan Jepang ternyata berhasil.
Saya berpendapat bahwa kemerdekaan itu adalah hak rakyat Indonesia, dan hak ini tidak bisa diberikan atau dijanjikan oleh orang lain. Jadi ada atau tidak ada pernyataan Koiso, kami tetap akan terus berjuang untuk merebut kemerdekan. Oleh karena sikap ini, maka saya tidak mau mengikuti upacara bendera yang diadakan di asrama. Saya tidak senang melihat bendera merah putih dikerek di samping bendera Jepang.
Sementara itu keadaan dalam negeri masih terus memburuk. Romusha yang sakit, penuh borok, lapar, dan yang mati bergelimpangan di taman Jalan Parapatan, di depan asrama kami, makin bertambah juga. Hal ini sangat menyakitkan hati dan menambah kebencian terhadap Jepang. Di asrama, kami sudah mulai disuruh makan bekicot.
Pada bulan Oktober 1944 di Jakarta didirikan satu asrama baru. Di situ diberikan pelajaran mengenai politik, ekonomi, dan hal-hal lain yang bersangkutan dengan kemerdekaan. Asrama yang terletak di Jalan Defensie Lyn van den Bosch 59 (sekarang Jalan Bungur Raya) ini didirikan oleh Laksamana Maeda, Kepala Kaigun Bukan, kantor penghubung Angkatan Laut Jepang di Jakarta. Guru-guru di asrama ini adalah guru-guru yang dulu mengajar di Asrama Angkatan Muda di Menteng 31, antara lain Soekarno, Hatta, Subardjo, dan ditambah Sutan Syahrir. Semua kegiatan sudah diarahkan kepada kemerdekaan. Kapan kemerdekaan itu terlaksana, tidak ada yang tahu.
Pada tanggal 12 Februari 1945 kesatuan PETA di Blitar memberontak. Meskipun bisa ditumpas, pemberontakan PETA ini menimbulkan kecemasan besar pada pihak Jepang.
Sementara itu dalam sidang Chuo Sangi In di Jakarta dilontarkan kritik-kritik pedas terhadap keadaan di dalam negeri, terutama di bidang ekonomi, dan juga terhadap tidak adanya perkembangan ke arah kemerdekaan yang sudah dijanjikan. Jepang membentuk "Badan Untuk Menyelidiki Persiapan Kemerdekaan" di Jakarta pada 1 Maret 1945 yang terdiri atas wakil-wakil Jepang dan tokoh-tokoh Indonesia.
Pembentukan badan penyelidik ini sama sekali tidak memuaskan para pemuda. Selain mengecam kebijaksanaan Jepang, mereka juga menuntut kemerdekaan sekarang juga!
Terjadi perbedaan pendapat mengenai bentuk negara Indonesia yang merdeka. Soekarno dan Muh. Yamin menginginkan negara kesatuan, sedangkan Mohamad Hatta menghendaki negara serikat. (Tetapi di kemudian hari, pada waktu perundingan dengan Belanda di Linggarjati, Soekarno dapat menerima pembentukan suatu negara Indonesia Serikat, yang diusulkan oleh Belanda).
Dengan perantaraan Chairul Saleh, Muh. Yamin meneganjurkan kepada para mahasiswa agar membujuk Hatta untuk menerima gagasan negara kesatuan. Maka rombongan mahasiswa pergi ke rumah Hatta di Jalan Diponegoro pada tengah malam jam 24.00, dipimpin oleh Moh. Kamal. Para mahasiswa menyampaikan "appeal" supaya Hatta menerima bentuk negara kesatuan untuk mencegah divide et impera oleh Belanda.
Pada tanggal 12 Mei 1945, diadakan rapat pemuda di bioskop Decca Park. Chairul Saleh memberi tugas kepada Nasrun Iskandar untuk berpidato. Di sana Nasrun dengan lantang mengatakan bahwa pemuda Indonesia menuntut kemerdekaan sekarang juga, Indonesia merdeka dan berdaulat berbentuk negara republik kesatuan.
Sendenbu, kantor pusat penerangan Jepang, masih berusaha untuk menarik keuntungan propaganda. Disiarkan dalam surat-surat kabar keinginan pemuda Indonesia untuk menegadakan suatu konferensi pemuda seluruh Jawa. Konferensi diadakan di Villa Isola, Bandung.
Kesempatan ini dipergunakan oleh para pemuda untuk saling berkonsultasi, memperluas hubungan, dan akhirnya diambil keputusan:
1. Semua golongan Indonesia, terutama pemudanya, bersatu dan bertekad bulat berdiri di bawah satu pimpinan nasional.
2. Pelaksanaan kemerdekaan Indonesia harus secepat mungkin, dan pemuda Indonesia siap mencurahkan seluruh jiwa raganya ke arah itu.
Setelah pertemuan di Villa Isola, di seluruh Jawa diadakan rapat-rapat pemuda. Hasil utama konferensi itu ialah munculnya rasa solidaritas yang besar antara pemuda seluruh Jawa.
Pada 3 Juni 1945 diselenggarakan pertemuan pemuda di gedung Asia Raya. Disusun ikrar untuk memperjuangkan "Indonesia Merdeka sekarang juga, atas kekuatan sendiri". Organisasi "Gerakan Angkatan Baru Indonesia" dibentuk dengan ketua B. M. Diah.
Kemudian diselenggarakan rapat seluruh pemuda pelajar Jakarta di Kebun Binatang (sekarang TIM) dalam rangka janji Indonesia Merdeka. Rapat menyatakan tekad untuk mencapai kemerdekaan dan tidak akan mundur.
Atas permintaan Soekarno, pada bulan itu juga para mahasiswa Ika Daigaku mendapat latihan militer penuh di Daidan I Jakarta. Latihan juga diberikan bagi mahasiswa Perguruan Tinggi Islam.
Organisasi Gerakan Rakyat Baru berdiri pada bulan Juli 1945. Organisasi ini dimaksudkan sebagai organisasi yang meliputi semua golongan. Sebelum rapat pada tanggal 6 Juli 1945, pihak pemuda memutuskan untuk mengajak atau memaksa golongan tua untuk mengambil sikap nasionalis yang lebih tegas.
Cita-cita kemerdekaan disebarluaskan dengan cara mengirimkan rombongan-rombongan ke pelbagai daerah di Pulau Jawa. Jawa Hoko Kai mengirimkan rombongan yang terdiri atas senior dan pemuda dari kalangan mahasiswa dan pelajar.
Saya juga diajak ikut serta. Selama dua minggu kami menjelajahi daerah Kudus, berbicara tentang kemerdekaan dan cara mencapai kemerdekaan, serta kemungkinan harus berperang untuk mencapainya. Sementara itu kapal selam Sekutu nampaknya sudah mulai memasuki perairan nusantara.
Keadaan perang sudah jelas mengarah kepada kekalahan Jepang, dan makin maju gerakan militer pihak Sekutu makin mendesaklah soal kemerdekaan bagi kita. Tanggal 1 Agustus 1945 kami mengadakan rapat di asrama Parapatan 10. Dalam rapat itu antara lain saya mengemukakan perkembangan perang, dan bahwa kita harus siap-siap menyatakan kemerdekaan kita sendiri, supaya kemerdekaan kita jangan dikatakan bikinan Jepang.
Para mahasiswa diminta untuk tetap tinggal di Jakarta. Mereka yang mendapat izin pulang diberi tugas untuk aktif turut serta dalam segala usaha persiapan kemerdekaan.
Sehari sesudah Hiroshima diserang dengan bom atom pada 6 Agustus 1945, Jepang mengumumkan pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan (PPKI), menggantikan Badan Penyelidik Untuk Persiapan Kemerdekaan.
Pada tanggal 9 Agustus Soekarno, Hatta, dan Dr. Radjiman secara rahasia pergi ke Saigon untuk menemui Terauchi. Pada tanggal 11 Agustus Soekarno dan Hatta dilantik sebagai Ketua dan Wakil Ketua PPKI. Juga ditetapkan bahwa PPKI akan bersidang untuk pertama kali pada tanggal 18 Agustus 1945.
Tanggal 14 Agustus 1945 rombongan Soekarno tiba di Jakarta dari perlawatannya ke Saigon. Sementara itu radio Sekutu telah menyiarkan berita bahwa Jepang sudah mendekati Sekutu dengan permintaan untuk menghentikan peperangan.
Di asrama pun telah tersiar berita bahwa Jepang sudah mau menyerang. Maka para mahasiswa merasa terdesak untuk berusaha supaya proklamasi kemerdekaan dilaksanakan secepat-cepatnya tanpa Jepang. Namun ada juga penghuni asrama yang hanya memikirkan sekolah, yakni mereka yang sama sekali tidak melibatkan diri dengan kegiatan politik.
Pada tanggal 15 Agustus dini hari, Sekutu mengumumkan bahwa Jepang sudah menyerah dan perang telah berakhir. Pukul 7.00 Kusnadi Hadibroto datang tergopoh-gopoh di Asrama Parapatan 10. Saya pun berangkat ke rumah Syahrir.
Di sana sudah berkumpul beberapa pemuda. Syahrir menjelaskan bahwa Jepang sudah menyerah, perlu sekali segera dilaksanakan proklamasi kemerdekaan sebelum Sekutu mengambil keputusan apapun mengenai Indonesia. Proklamasi harus dinyatakan sendiri oleh bangsa Indonesia tanpa Jepang, supaya jangan dianggap kemerdekaan Indonesia itu buatan Jepang. Kalau kemerdekaan dianggap bikinan Jepang, terdapat kemungkinan pihak Sekutu akan mengambil tindakan terhadap Indonesia.
Menurut Syahrir, satu-satunya pemimpin yang mempunyai cukup wibawa untuk memproklamasikan kemerdekaan adalah Soekarno. Hanya Soekarno yang mempunyai cukup pengaruh pada rakyat Indonesia. Proklamasi oleh orang lain tidak berarti. Demikian Syahrir. Saya pun kembali ke asrama, kemudian ke fakultas untuk menyampaikan berita.
Berita mengenai perkembangan terakhir segera disebarluaskan. Saya dan Djohar Noer kemudian meninggalkan fakultas. Di persimpangan jalan di depan bioskop Megaria, kami bertemu Chaerul Saleh, yang spontan menyuruh kami mengumpulkan para pemuda.
Sore harinya, pukul 17.00, para pemuda berkumpul di belakang laboratorium Pegangsaan 15, di tempat terbuka di tengah-tengah tanaman jarak sehingga tak terlihat dari jalan. Kelompok-kelompok pemuda yang tadinya curiga-mencurigai saat itu kelihatan bersatu, kompak, tanpa curiga dan sak wasangka satu sama lain.
Hal ini merupakan mukjizat dari rasa kebangsaan dan cita-cita kemerdekaan. Yang dihadapi adalah hari depan bangsa, kemerdekaan yang sudah lama dicita-citakan.
Rapat dipimpin oleh Chairul Saleh dan menghasilkan keputusan sebagai berikut:
1. Mendesak Soekarno dan Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan hari itu juga.
2. Menunjuk Wikana, Darwis, dan Soebadio agar menemui Soekarno dan Hatta untuk keperluan di atas, dengan penjelasan supaya proklamasi jangan dilakukan melalui PPKI karena badan itu bikinan Jepang.
3. Membagi tugas kepada mahasiswa dan pelajar serta pemuda di seluruh Jakarta untuk mempersiapkan diri merebut kekuasaan dari Jepang, yang akan dilakukan segera setelah proklamasi. Untuk keperluan keamanan didirikan pos-pos penjagaan di seluruh kota.
Usai rapat saya ikut berkumpul di asrama Baperpi, Cikini (sekarang gedung Bank Niaga Cikini). Rapat di Cikini itu memutuskan supaya Soekarno dan Hatta "diangkat" saja. Kemudian datang tiga orang, dua di antaranya berpakaian seragam PETA. Mereka adalah Sukarni, Shodancho Singgih, dan Yusuf Kunto. Atas dorongan semangat dari Sukarni, makin kuat tekad kami untuk menculik Soekarno-Hatta.
Esok paginya, kedua pemimpin itu serta ibu Fatmawati dan Guntur dibawa ke Rengasdengklok, ke asrama PETA di sana. Sukarni turut mengawal, bersama-sama dengan Dr. Sucipto, Chudancho Kesehatan PETA. Camat Rengasdengklok diberi tahu bahwa pernyataan kemerdekaan Indonesia akan dilakukan di sana. Maka camat yang bernama Sigfried Hadipranoto pada hari 16 Agustus 1945 menurunkan bendera Hinomaru di Rengasdengklok, diganti dengan bendera merah putih. Orang-orang Jepang pun ditangkap.
Sementara itu Syahrir telah mempersiapkan naskah Proklamasi. Dengan perkiraan bahwa Proklamasi akan dilaksanakan pada tanggal 15 Agustus, maka naskah yang dibuatnya sudah disebarluaskan ke berbagai kota. Di Cirebon, Dr. Soedarsono membacakan naskah Proklamasi yang didapat dari Syahrir. Maka dia tercatat sebagai orang kedua yang sudah memproklamasikan kemerdekaan sebelum tanggal 17 Agustus. Akibatnya, ia harus bersembunyi karena dicari-cari oleh Jepang.
Dini hari, menjelang subuh, tanggal 17 Agustus 1945, Chairul Saleh datang ke Parapatan 10 untuk menunjukkan naskah Proklamasi dan menyatakan bahwa proklamasi akan diucapkan pada pukul 10 pagi di lapangan Ikatan Atletik Indonesia (Ikada), Gambir. Tetapi karena kemungkinan ada bentrokan dengan pasukan Jepang, maka diputuskan untuk melakukan upacara itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56.
Karena khawatir kalau-kalau Jepang masih berusaha mencegah proklamasi, maka pada hari itu juga dilakukan upacara paralel di asrama Parapatan 10. Mamahit yang ditugaskan untuk menghadiri upacara di Pegangsaan Timur, selalu berhubungan dengan kami melalui telepon. Tepat pada waktu naskah Proklamasi dibacakan oleh Soekarno, hal yang sama juga dilakukan di asrama kami, lengkap dengan penaikan bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Proklamasi Kemerdekaan yang kami impikan, suatu proklamasi yang menyatakan hak hidup dan hak menentukan nasib sendiri bangsa Indonesia dengan cita-cita untuk membangun suatu masyarakat adil dan makmur di tanah air Indonesia, proklamasi yang kita susun sendiri tanpa campur tangan Jepang, dibacakan dengan semangat berapi-api oleh Soekarno tidak di suatu rapat raksasa seperti yang diimpikan. Namun begitu pada tanggal 17 Agustus 1945 kita sudah merdeka.
Sumber: Dananews Edisi 06 -- Juli 1995





Komentar
Posting Komentar