Langsung ke konten utama

Menyimak Tulisan H. Rosihan Anwar: Indonesia di Tahun 1947-1949

Oleh ADI PRATHOMO

INFORMASI mengenai sejarah perjuangan rakyat Indonesia dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan negara RI tampaknya masih banyak yang belum terungkap. Setidaknya, hal ini bisa kita simpulkan setelah membaca tulisan H. Rosihan Anwar pada suratkabar ini (13/6/96) yang mengungkapkan secara singkat seputar pergolakan politik di tanah air sesudah kemerdekaan Indonesia.

Fakta pergolakan politik yang diambil dari dokumen resmi ini telah membuka mata dan sekaligus membangunkan kesadaran kita akan arti sejarah kemerdekaan Indonesia. Terutama pada informasi mengenai orang-orang yang tidak mempunyai sikap politik yang tegas atau bermuka dua. Seperti yang dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung dari tahun 1947 hingga 1948 terhadap rakyat--khususnya para pemuda Bali--serta para pemimpin politik Indonesia yang saat itu sedang giat-giatnya memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Terus terang saja, tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai tindakan yang sangat tidak terpuji dan patut disesalkan karena hanya mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok (komunal?).

Apabila saat ini banyak kalangan mulai membicarakan konflik etnis di berbagai negara, barangkali, tindakan yang pernah dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung di era paska kemerdekaan Indonesia, dapat dijadikan bahan kajian tersendiri guna menambah referensi bagi generasi mendatang untuk dapat mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika tindakan yang serupa terjadi kembali di kemudian hari.

Pada kesempatan ini, penulis mencoba untuk mengemukakan secara ringkas beberapa peristiwa yang patut diperhatikan oleh kita semua sehubungan dengan tindakan mbalelo Anak Agung Gede Agung terhadap para pejuang kemerdekaan RI.

Paska Kemerdekaan

DARI buku-buku serta catatan sejarah perjuangan kemerdekaan negara RI, kita dapat mengetahui bahwa selama kurun waktu 1945-1949, Belanda masih tetap berupaya untuk menguasai kembali wilayah RI. Jalan yang ditempuh adalah dengan membonceng tentara sekutu, dalam hal ini bersama-sama dengan kedatangan bala tentara Inggris (NICA), yang diberi tugas untuk melucuti tentara Jepang sebagai pihak yang kalah perang dalam PD II.

Dengan cara demikian, Belanda dapat dengan mudah mempengaruhi tentara sekutu serta menerapkan politik "memecah belah" guna menguasai kembali wilayah RI. Implementasi dari politik memecah belah ini adalah dengan membentuk negara-negara boneka di wilayah barat dan timur Indonesia. Maksud Belanda untuk menguasai kembali wilayah RI tentunya sangat ditentang oleh rakyat Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945. 

Perlawanan terhadap pihak sekutu dan Belanda oleh rakyat Indonesia terjadi di beberapa tempat, antara lain di Surabaya yang dipimpin oleh Bung Tomo yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan. Kemudian di Semarang, di Ambarawa, di Magelang, di Bandung yang dikenal sebagai peristiwa Bandung Lautan Api, di Bali yang dipimpin oleh Ngurah Rai yang kemudian dikenal dengan Puputan Margarana.

Dari berbagai perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan itu dapat diketahui bahwa memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah bukanlah pekerjaan yang mudah. Belum lagi rongrongan dari dalam tubuh negara kesatuan RI sendiri, yaitu dari orang--orang atau kelompok-kelompok yang dengan sengaja memanfaatkan kehadiran Sekutu dan Belanda untuk kepentingannya sendiri. Seperti yang dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung.

Oleh karena itu sangat sulit untuk dimengerti tindakan Anak Agung Gde Agung setelah menjabat sebagai PM Negara Indonesia Timur yang justru mendukung Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948) dan anti kemerdekaan RI. Dan yang paling tragis lagi adalah melakukan kekejaman terhadap para pemuda Bali yang mendukung RI. Hal ini sama dengan tindakan menusuk dari belakang dan tidak menghargai perjuangan para pemuda Bali yang dipimpin oleh Ngurah Rai (20 November 1946) yang berjuang sampai titik darah penghabisan melawan tentara Sekutu.

Selain mengkhianati perjuangan pemuda Bali yang dipimpin oleh Ngurah Rai, sikap anti-RI Anak Agung Gde Agung tersebut dapat dikatakan mengkhianati pula perjuangan Bung Karno, Bung Hatta, Sutan Syahrir, Haji Agus Salim, Moh. Roem, S.H., Assat, S.H., Suryadarna, Syarifuddin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, Jenderal Soedirman, dll., baik dalam skala nasional maupun internasional.

Setelah Belanda menyatakan tidak terikat lagi pada perjanjian Renville (17 Januari 1948) yang menghendaki dilaksanakannya gencatan senjata antara pihak Indonesia dan Belanda, tentara Belanda secara sewenang-wenang melakukan penyerangan ke ibukota RI, Yogyakarta (Agresi Militer Belanda II, 19 Desember 1948). Karena pada saat itu, tentara nasional Indonesia baru saja menumpas pemberontakan PKI di Madiun (September 1948), Belanda dapat dengan mudah menguasai secara penuh Kota Yogyakarta dan menawan para pemimpin politik Indonesia.

Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Bangka. Sedangkan yang lainnya dibawa ke Prapat. Untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi negara RI, Bung Karno kemudian memberikan kuasa kepada Syarifuddin Prawiranegara, Menteri Keuangan, yang tengah berada di Bukit Tinggi, Sumatera, untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).

Dukungan terhadap agresi militer Belanda II oleh Anak Agung Gde Agung ini dapat diartikan sebagai: a) tindakan yang memang menginginkan terpecah-belahnya negara kesatuan Republik Indonesia, b) menyetujui pembentukan negara-negara boneka ciptaan Belanda, dan c) menyetujui kekuasaan Belanda atas wilayah RI atau Uni Indonesia-Belanda dengan Ratu Belanda sebagai ketuanya. Padahal di lain pihak, para juru runding RI sejak perjanjian Linggarjati hingga perjanjian Renville, selalu berupaya mewujudkan terbentuknya negara kesatuan RI sekalipun dalam perjalanannya harus melewati masa-masa transisi yang cukup sulit untuk dilalui. Dalam arti, selama perundingan berlangsung, para juru runding Indonesia seperti Sutan Sjahrir, Amir Syarifuddin, Bung Karno, dan Bung Hatta tidak dapat memasukkan sekaligus keinginan mereka untuk membentuk negara kesatuan RI secara de jure dan de facto dalam setiap perundingan dengan Inggris dan Belanda.

Hal ini dapat kita lihat pada hasil-hasil yang dicapai dalam perjanjian Linggarjati (12-15 November 1946), dan perjanjian Renville (17 Januari 1948). Seperti misalnya pada perjanjian Linggarjati, RI yang ketika itu diwakili oleh Sutan Syahrir masih memberi kelonggaran waktu bagi Belanda untuk meninggalkan wilayah-wilayah de facto RI (Sumatera, Jawa, Madura) selambat-lambatnya 1 Januari 1949, dan akan bekerja sama untuk membentuk negara Indonesia Serikat (RIS). Hanya saja, pada waktu itu Belanda dengan segala cara berupaya untuk memanfaatkan sikap luwes RI. Terbukti dengan dilakukannya Agresi Militer Belanda I (21 Juli 1947) dan Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948) yang hal ini menunjukkan bahwa Belanda tetap berupaya sekuat tenaga untuk membatalkan Proklamasi Kemerdekaan RI. Oleh karena itu keberpihakan Anak Agung Gde Agung pada Belanda, bisa kita artikan sebagai suatu tindakan emosional yang hanya mementingkan diri sendiri dan barangkali terkandung juga di dalamnya kepentingan kelompok(?) (komunal?). Selain itu, keberpihakan Anak Agung Gde Agung tersebut sangat menguntungkan keberadaan Belanda yang masih ingin menancapkan kukunya di bumi pertiwi ini.

Baru kemudian setelah diadakannya perundingan Roem-Royen (14 April 1949) serta keterlibatan secara aktif Dewan Keamanan PBB dan tentunya tekanan Amerika Serikat terhadap Belanda, penyerahan kedaulatan negara RI dari Belanda kepada RI dapat dilakukan secara penuh (de jure dan de facto). Peristiwa ini kemudian dikenal dengan Konferensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag dari 23 Agustus 1949 sampai dengan 2 November 1949. Dengan diadakannya Konferensi Meja Bundar, yang merupakan pengakuan Belanda atas kedaulatan RI (27 Desember 1949), berakhir pula kolonialisasi Belanda atas wilayah negara RI. Peristiwa ini tentunya menjadikan impian Anak Agung Gde Agung untuk membentuk negara dalam negara tidak pernah terwujud dan tidak akan terwujud.

Penutup

Sekalipun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai sikap dan tindakan politik yang dilakukan oleh Anak Agung Gde Agung terhadap perjuangan rakyat Indonesia khususnya terhadap masyarakat Bali ketika melawan penjajah, paling tidak, informasi yang diungkapkan oleh H. Rosihan Anwar pada harian ini banyak membantu kita untuk membuka wawasan serta menambah pengetahuan akan arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Selanjutnya, tugas kita sekarang adalah membuka kembali catatan-catatan sejarah tentang perjalanan berdirinya Republik Indonesia dan tidak tertutup kemungkinan kita akan menemukan lagi fakta-fakta baru yang selama ini tidak diungkapkan secara terbuka. Seperti yang telah dilakukan oleh H. Rosihan Anwar. ****

- Penulis adalah alumnus FISIP jurusan Hubungan Internasional, UNPAR, Bandung



Sumber: Pikiran Rakyat, 1 Juli 1996



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenang Peristiwa 8 Desember 1941 (I): Pearl Harbor Digempur Saat Tentara Amerika Pesta Pora

Oleh HARYADI SUADI Djepang itu naga pembawa bencana dengan keserakahan untuk mentjaplok dalam waktu jang tidak lama lagi akan terdjun ke dalam peperangan buas jang membahajakan dan keselamatan bangsa Asia dalam perlombaan melawan barat .... "Saudara-saudara, waktunja sudah dekat, di saat mana air biru samudra Pasifik akan menjadi korban berdarah jang tidak tandingnja di dalam sedjarah." ("Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia" oleh Cindy Adams) DI  awal tahun 1941, telah tersebar berita di tanah air kita, bahwa sebentar lagi tentara Dai Nippon akan datang ke Indonesia. Dikatakan lewat radio propagandanya yang disiarkan dari Tokio, bahwa datangnya Tentara Nippon ini bertujuan hendak mengusir penjajah Belanda dan sekaligus memerdekakan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, menurut radio tersebut, Jepang datang bukan sebagai musuh, tetapi sebagai "saudara tua" yang akan menolong "saudara mudanya". Dan untuk meyakinkan bangsa kita, maka dar...

Penyerbuan Lapangan Andir di Bandung

Sebetulnya dengan mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, orang asing yang pernah menjajah harus sudah angkat kaki. Tetapi kenyataannya tidak demikian. Masih ada saja bangsa asing yang ingin tetap menjajah. Jepang main ulur waktu, Belanda ngotot tetap mau berkuasa. Tentu saja rakyat Indonesia yang sudah meneriakkan semangat "sekali merdeka tetap merdeka" mengadakan perlawanan hebat. Di mana-mana terjadi pertempuran hebat antara rakyat Indonesia dengan penjajah. Salah satu pertempuran sengit dari berbagai pertempuran yang meletus di mana-mana adalah di Bandung. Bandung lautan api merupakan peristiwa bersejarah yang tidak akan terlupakan.  Pada saat sengitnya rakyat Indonesia menentang penjajah, Lapangan Andir di Bandung mempunyai kisah tersendiri. Di lapangan terbang ini juga terjadi pertempuran antara rakyat Kota Kembang dan sekitarnya melawan penjajah, khususnya yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1945. Lapangan terbang Andir merupakan sala...

Saat-saat yang Tepat Merenung Makna Perjuangan

A pa yang dialami oleh Subegjo pada 30 Oktober 1945 di depan Gedung Internatio Surabaya ( Suara Karya , 10/11), juga dialami oleh Moedjali (70 th, Kolonel Purn, yang kini sudah Haji), Oesman Bahrawi (76 th) dan Ali Bari (67 th). Mereka bertiga secara terpisah masing-masing mengungkapkan pengalamannya 49 tahun yang lalu kepada Suara Karya  awal pekan ini di Surabaya. Sebagaimana halnya Subegjo, ketiga pejuang yang kini sudah menikmati masa tuanya merasa bahwa 10 November selalu membangkitkan semangatnya untuk hidup lebih tangguh dan optimis. Orang-orang setua saya dan pernah merasakan kobaran api 10 November 1945 tak lagi memiliki ambisi lebih tinggi kecuali kelak ketika saya meninggalkan dunia ini, tidak membebani anak-cucu dengan atribut-atribut kontroversial dan berbau kemunafikan karena di dekat akhir hidup saya melakukan tindak korupsi, kolusi, aji mumpung, dan berbangga-bangga merasa diri pejuang. Demikian cetus salah seorang dari ketiga pelaku dan saksi 10 November 1945. Pert...

Petisi Soetardjo: Kesempatan yang Disia-siakan Hindia Belanda

Oleh: A. C. Ton PENGANTAR: A. C Ton, seorang sejarawan dan penerbit dari negeri Belanda menulis mengenai Petisi Soetardjo dan Volksraad yang dimuat di NRC Handelsblad tepat 50 tahun ulang tahun Petisi Soetardjo. Judulnya "Petitie-Soetardjo, 15 Juli 1936,: een gemiste kans voor Nederlands-Indie". Pandangan A. C Ton mengevaluasi peristiwa itu sangat menarik karena dibuat pada masa kini. Di bawah ini terjemahannya.  -- Redaksi TEPAT 50 tahun yang lalu di Volksraad, Nederlandsch Indie, terjadi sesuatu yang luar biasa. Pegawai Pamong Praja Soetardjo pada tanggal 15 Juli 1936 mengajukan usul di perwakilan rakyat dengan maksud memberikan kemerdekaan kepada Nederlandsch Indie dalam jangka waktu 10 tahun: Indie, sebagai dominion dalam Kerajaan Belanda. Dua tahun lamanya usul tersebut yang menjadi terkenal sebagai "Petitie Soetardjo" berhasil memikat perhatian orang di Indie. Petisi tersebut tidaklah bersifat revolusioner atau pun radikal. Kalau dibandingkan dengan perjuangan...

Sang Cipta Rasa, Mesjid dengan Sejarah yang Panjang

* Tempat Syekh Siti Jenar Dihukum Mati Jika kita mendengar kata Cirebon, mungkin ingatan kita tertuju kepada kota udang, sebagaimana julukan kota ini. Namun dalam kenyataannya lebih dari itu. Cirebon tidak hanya terkenal sebagai kota penghasil lauk dari udang, tetapi juga terkenal sebagai kota yang memiliki berbagai peninggalan purbakala seperti mesjid, kraton, dan kompleks makam. Sebagai bekas kerajaan yang bercorak Islam, peranan Cirebon dalam sejarah kuno Indonesia, khususnya sejarah Jawa Barat, tidak dapat dikatakan kecil. Hal ini antara lain ditandai dengan sejumlah bangunan purbakala seperti di atas dan hasil-hasil kesusastraan kuno. Jaman keemasan dan kemakmuran Cirebon, rupanya dialami pada masa pemerintahan Syarif Hidayatillah (Sunan Gunung Jati) pada tahun 1479-1568. Pada masa ini Syarif Hidayatillah menjabat sebagai susuhunan agama dan kepala negara. Salah satu bangunan purbakala yang berasal dari masanya adalah Mesjid Agung Sang Cipta Rasa. Mesjid Agung: Menurut Sejarah dan...

Pesawat RI-003: Dibeli dengan Emas Rakyat Sumbar

LIMA puluh tahun silam, di masa perjuangan, cara membeli pesawat terbang sangat sederhana. Barter, merupakan salah satu cara pembelian yang lazim. Cara ini pula yang ditempuh pemerintah dalam pengadaan sebuah pesawat kecil, Avro Anson, buatan pabrik terkenal Inggris, Avro. Itu pun tidak langsung dibeli dari pabriknya, melainkan lewat seorang pialang yang mengenal pemiliknya.  Uniknya lagi, pesawat bermesin ganda tersebut diterbangkan pemilik merangkap pilotnya asal Australia, Paul Keegan, langsung ke pembelinya, Pemerintah RI di Sumatera. Avro Anson mendarat di Bukittinggi awal bulan Desember 1947. Penumpangnya terdiri dari Opsir Udara III Muhammad Sidik Tamimi (Dick Tamimi), perwira penghubung AURI di Singapura, Ferdy Salim anggota supply mission  di Singapura dan seorang pialang dari Singapura. Pesawat delapan penumpang yang dapat mendarat di lapangan kecil ini, dianggap paling cocok untuk memecahkan masalah perhubungan di Sumatera. Setelah dilihat sendiri "barangnya", peme...

Kebangkitan Nasional: Dari Gerakan Kultural ke Aksi Struktural

Oleh Andi Syaiful Oeding K ebangkitan nasional yang dialami bangsa Indonesia di awal abad ke-20 tidak dapat dilepaskan dari persepsi kultural dan struktural yang dihayati pada masa itu. Maka sebagai sebuah fenomena "pergerakan" yang mengantarkan rakyat Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan, daya gerak kebangkitan nasional sesungguhnya dicapai lewat konvergensi, komplementasi, dan bahkan proses dialektis dari kekuatan kultural dan struktural. Munculnya kesadaran serta gerakan kultural dan struktural tidak dapat dilepaskan dari realitas sosiologis dan struktur sosial yang ada pada masa itu. Kelas sosial yang tampak dominan di awal abad ke-20 ialah kaum priyayi. Mereka adalah kaum terpelajar yang bekerja pada profesi-profesi yang terbuka waktu itu, terutama di bidang pemerintahan. Mereka inilah yang disebut ambtenaar  atau priyayi tinggi. Sementara itu mereka yang bekerja di luar pemerintahan, seperti dokter dan ahli hukum, berasal dari lapisan bawah. Pada mulanya kedua lapisan...