LIMA puluh tahun silam, di masa perjuangan, cara membeli pesawat terbang sangat sederhana. Barter, merupakan salah satu cara pembelian yang lazim. Cara ini pula yang ditempuh pemerintah dalam pengadaan sebuah pesawat kecil, Avro Anson, buatan pabrik terkenal Inggris, Avro. Itu pun tidak langsung dibeli dari pabriknya, melainkan lewat seorang pialang yang mengenal pemiliknya.
Uniknya lagi, pesawat bermesin ganda tersebut diterbangkan pemilik merangkap pilotnya asal Australia, Paul Keegan, langsung ke pembelinya, Pemerintah RI di Sumatera. Avro Anson mendarat di Bukittinggi awal bulan Desember 1947. Penumpangnya terdiri dari Opsir Udara III Muhammad Sidik Tamimi (Dick Tamimi), perwira penghubung AURI di Singapura, Ferdy Salim anggota supply mission di Singapura dan seorang pialang dari Singapura.
Pesawat delapan penumpang yang dapat mendarat di lapangan kecil ini, dianggap paling cocok untuk memecahkan masalah perhubungan di Sumatera. Setelah dilihat sendiri "barangnya", pemerintah memutuskan untuk membeli. Kesulitan timbul, dengan apa Avro Anson dibeli? Dana dari mana?
Akhirnya, dana dapat diatasi dari sumbangan masyarakat Sumatera Barat, berupa batangan emas dan permata. Khusus untuk dana Avro Anson, Wakil Presiden Mohammad Hatta menerima satu kaleng biskuit berisi batangan emas dari ketua Dewan Pertahanan Daerah Sumatera Barat.
Batangan emas tersebut yang akan diuangkan untuk membeli Avro Anson dengan cara mencari pembelinya di Songkhla, Siam (kini Thailand), kota yang disetujui sebagai tempat pembayaran. Menurut rencana setelah pembayaran, rombongan pembelian Avro Anson akan ke Bangkok, di mana Komodor Muda Udara Halim Perdanakusuma mengharapkan dapat bertemu dengan beberapa perwira tinggi Angkatan Udara Thailand yang dikenalnya selama pendidikan di Kanada semasa Perang Dunia II. Halim ingin mencari bantuan untuk AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) dari teman-temannya.
Pesawat berangkat 9 Desember 1947 dari Bukittinggi menuju Songkhla. Penumpangnya terdiri dari Paul Keegan, pialang Singapura, Dick Tamimi, Is Yasin (operator radio AURI yang akan ditempatkan di Singapura), dan Abu Bakar Loebis. Pilot pesawat adalah Iswahyudi, dan Halim Perdanakusuma bertindak sebagai navigator.
***
"SEBELUM berangkat dari Bukittinggi, diserahkan kepada saya satu kaleng biskuit berisi emas batangan," kenang Abu Bakar Loebis kepada Kompas, Rabu (7/6). Persinggahan pertama adalah Pekanbaru di mana mereka mendapati lapangan terbang Pekanbaru dalam keadaan siap siaga dengan senapan mesin diarahkan ke udara.
"Pesawat kami disuruh parkir di tepi lapangan dekat semak-semak dan ditutupi dahan-dahan. Kami sendiri tidak pergi ke ruang tunggu, tapi duduk di bawah pepohonan sehingga dari udara lapangan terbang kelihatan kosong."
Kira-kira 15 menit setelah Avro Anson mendarat, sebuah pembom Hudson Belanda, terbang di atas lapangan ke arah utara. Beruntung, pesawat itu tidak melihat Avro Anson mendarat, sebab kalau dilihat, mungkin sekali akan diserang. Rombongan menunggu kira-kira dua jam sebelum melanjutkan penerbangan, setelah menambah bahan bakar.
Rombongan Avro Anson tiba di Songkhla sudah agak sore. Uniknya lagi, mereka berangkat ke luar negeri tanpa paspor, karena pada waktu itu Indonesia belum mengeluarkan paspor. "Saya hanya membawa surat jalan yang ditandatangani Wakil Presiden, yang menerangkan bahwa saya adalah wartawan," kata Abu Bakar Loebis.
Sore itu juga dicari pedagang emas untuk membayar Avro Anson. Menurut Abu Bakar Loebis emas tersebut segera terjual sore hari itu juga, tetapi tidak semua, dan hanya dijual secukupnya untuk membayar dan pengeluaran lain. "Kami membayar pesawat dalam mata uang baht."
"Saya tidak ingat jumlahnya," ujar Loebis yang pada zaman perjuangan pernah ditempatkan di Indonesia sebagai Information Officer pada Perwakilan RI, pernah Dubes di Cekoslowakia, dan sekarang masih diminta membantu Menlu Alex Ali Alatas. Esok harinya, rombongan melanjutkan penerbangan ke Bangkok. Baru lima menit di udara, langit mulai menggelap dan menutup pandangan sehingga tidak bisa membedakan laut dan langit.
Akhirnya diputuskan untuk kembali lagi ke Songkhla. Baru saja rombongan duduk-duduk di kamar hotel, polisi datang menggerebek mereka. Semua koper dibongkar dan kamar diobrak-abrik.
Mereka dituduh polisi Thailand menyelundupkan candu, emas atau perhiasan. Karena menurut perwira yang memimpin penggerebekan, sewaktu rombongan Avro Anson mendarat, pesawat diminta diisi bahan bakar tapi ternyata tidak bisa membayar tagihannya. Sementara malam harinya, rombongan Avro Anson berpesta di restoran Cina. Sedang pagi hari sebelum berangkat, dapat membayar biaya bahan bakar. Sehingga dipertanyakan dari mana rombongan Avro Anson mendapat uang kalau bukan menyelundupkan sesuatu.
Dua batang emas yang tidak dijual, tidak berhasil ditemui tim penggerebek karena disembunyikan Dick Tamimi di atas balok penyangga loteng. Secara kebetulan pula polisi tidak sampai memeriksa celah-celah di bawah loteng itu.
Karena tidak puas, polisi akhirnya membawa rombongan Avro Anson ke gubernur. Beruntung gubernur bersimpati dengan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Namun diingatkan bahwa Kerajaan Thailand punya hubungan baik dengan Kerajaan Belanda, sehingga diminta jangan sampai masalah kedatangan para pejuang Indonesia dengan pesawat Avro Anson mengganggu hubungan tersebut.
"Kami diberi waktu dua puluh empat jam untuk meninggalkan wilayah Thailand," kenang Loebis. Keesokan harinya anggota rombongan selain Iswahyudi dan Halim yang akan menerbangkan kembali Avro Anson ke Bukittinggi, semua naik taksi menuju Penang, Malaya.
Di perbatasan, masalah lain timbul bagaimana dengan dua batang emas lainnya. Mereka sudah memastikan akan digeledah di pos perbatasan Thailand-Malaya. Penyelamatnya adalah Is Yasin yang mempunyai baby face dan masih muda. Emas batangan itu dimasukkan dalam kantung celana gombrong Is Yasin (emas tersebut menurut Abu Bakar Loebis kemudian dijadikan dana untuk membeli dua mesin cetak untuk pemerintah di Bukittinggi).
Semua digeledah, termasuk kopor, tapi Is Yasin tidak diperiksa sehingga mereka lolos. Di perbatasan Malaya mereka disambut hangat dan meneruskan perjalanan ke Penang untuk selanjutnya naik kereta api ke Singapura. Tidak sampai satu jam rombongan tiba di hotel, seorang petugas kantor perwakilan membawa kawat dari polisi Malaka, yang isinya menerangkan bahwa sebuah pesawat terbang Avro Anson dengan nomor registrasi VH-BBY, jatuh di pantai Tanjung Hantu, Selat Malaka.
Dalam pesawat ditemui dua jenazah berseragam yang mungkin seragam AURI, seorang kulit putih (Keegan) dan barang pecah belah piring dan mangkok serta barang-barang rumah tangga lainnya.
"Saya dapat memastikan bahwa itu memang pesawat yang baru dibeli dan jenazah berseragam adalah dua perwira AURI," ujar Abu Bakar Loebis.
***
MISI pembelian pesawat Avro Anson tersebut di AURI (sekarang TNI-AU) dikenal sebagai Operasi Penerbangan RI-003. Menurut catatan sejarah, pesawat Avro Anson kedua, RI-004 setelah beroperasi di Sumatera, tidak lama kemudian diterbangkan ke Maospati (kini Lanud Iswahyudi), Madiun, untuk menjalani perawatan besar. Avro kedua ini akhirnya rusak ketika Belanda menyerang Maguwo (sekarang Lanud Adisucipto), Yogyakarta.
Dalam sejarahnya ratusan Avro Anson telah dibuat, termasuk versi militer Avro 652A. Pada zamannya, Anson adalah pesawat paling populer di kalangan penerbangan. Dasar rancangannya adalah untuk dua pilot dan empat penumpang, tenaga dorongnya diperoleh dari dua mesin 270 PK Armstrong Siddeley Cheetah yang meluncurkan Avro 652 Anson dengan kecepatan 150 mil/jam dan jarak terbang sejauh 600 mil. Prototipenya diterbangkan perdana tanggal 7 Januari 1935.
(Dudy Sudibyo)
Sumber: Kompas, 19 Juni 1995

Komentar
Posting Komentar