Langsung ke konten utama

Tanggal 9 Maret 1942 Belanda Menyerah kepada Jepang: Gubernur Jenderal Belanda Linglung

Oleh HARYADI SUADI

PERUNDINGAN antara pihak Jepang dan Pemerintah Hindia Belanda yang berlangsung di Kalijati, Subang, telah memakan waktu 2 hari. Perundingan hari pertama, tanggal 8 Maret, dibuka dengan sebuah pertanyaan dari pihak Jepang yang cukup mengejutkan Belanda.

Sebagaimana telah diungkapkan pada tulisan yang lalu, bahwa Imamura secara langsung menanyakan kepada Tjarda, apakah perundingan ini akan membahas soal penyerahan atau melanjutkan peperangan. Setelah pertanyaan itu diterjemahkan lewat juru bahasanya, langsung Tjarda dan kawan-kawannya tercengang. Dengan muka pucat dan menundukkan kepala, kemudian Tjarda menjawab perlahan: Itu tidak bisa.

Dengan cepat Imamura kembali bertanya: Apa sebab?

"Sebab hak saya sebagai gubernur jenderal untuk memimpin tentara sudah dicabut oleh Yang Mulia Ratu Wilhelmina," jawab Tjarda.

Rupanya Imamura tidak puas dengan jawaban tersebut. Kemudian panglima tertinggi Nippon ini berpaling ke arah Ter Poorten dan mengulangi pertanyaan yang sama. Ter Poorten menjawab singkat: Saya pun tidak punya hak seperti itu.

"Jadi apa tanggung jawab dan kewajiban tuan sebagai panglima tertinggi balatentara?" Imamura bertanya kembali. 

Ter Poorten: Saya sanggup memimpin balatentara.

Imamura: Kalau demikian, apa maksud tuan datang ke mari?

Ter Poorten: Kami datang ke mari bukan atas kemauan sendiri, tetapi diundang oleh tuan.

Imamura: Jika begitu, apa pasal tuan mengajukan usul gencatan pada tanggal 7 kemarin, dengan menggunakan utusan?

Ter Poorten akhirnya terdiam dan jawaban diambil alih oleh Tjarda: Kami mengajukan gencatan senjata, karena kami tidak sampai hati melihat Bandung mengalami kehancuran. Di samping itu kami bermaksud menjadikan Kota Bandung sebagai kota terbuka, sehingga kapan saja balatentara tuan boleh masuk.

Kemudian Imamura terus mendesak agar pihak Belanda lebih baik menyerah saja. Lagi-lagi Tjarda tidak bisa menjawab. Dia menghindari usul Imamura tersebut hanya dengan menjawab: Saya tidak berhak.

Imamura tampak mulai kesal, karena harus mengulang-ulang pertanyaan di atas yang dijawab oleh Tjarda maupun Ter Poorten dengan cara berputar-putar dan tidak jelas. Dan tatkala Imamura mendesak lagi dengan pertanyaan yang sama, akhirnya Tjarda menjawab: Yang punya hak untuk menyatakan menyerah, hanya Ratu Wilhelmina. Sedangkan untuk menghubungi beliau pada saat ini, tentunya mustahil.

"Kalau tuan sebagai gubernur jenderal tidak punya hak apa-apa, jadi apa gunanya tuan datang ke mari?" Imamura bertanya kembali dengan nada suara yang agak tinggi.

"Seperti telah saya katakan tadi, bahwa kami sudah tidak berdaya dalam soal kemiliteran. Tetapi di luar kemiliteran kami masih punya kekuasaan di bidang lain. Meskipun seluruh wilayah Hindia Belanda telah tuan kuasai." Demikian jawab Tjarda.

Apa yang dimaksud dengan kekuasaan di bidang lain, kemudian oleh Tjarda dijelaskan, bahwa pemerintah Hindia Belanda masih berkuasa dalam bidang pemerintahan dan perkonomian. Lebih lanjut Tjarda menambahkan, bahwa roda pemerintahan dan perkonomian harus tetap berputar. Sebab hal ini sangat penting bagi kehidupan rakyat. Hal inilah yang ingin mereka rundingkan dengan pihak Jepang. Tetapi penjelasan Tjarda itu dianggap tidak relevan oleh pihak Jepang. Apa yang dikemukakan oleh Gubernur Jenderal Belanda tadi, telah menyimpang dari maksud perundingan. Demikian tanggapan dari pihak lawan. Oleh karena itu Imamura segera menangkis pernyataan Tjarda dengan jawaban yang tegas:

"Sekarang kita berada di tengah-tengah peperangan. Perundingan ini bukan tempat untuk membicarakan soal diplomatik. Kita berada di sini hanyalah untuk membicarakan soal menyerah atau meneruskan peperangan."

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Imamura berdiam diri. Seolah-olah dia ingin menutup pembicaraan, karena kesal oleh jawaban-jawaban dari pihak Belanda yang berbelit-belit. Buktinya ketika Tjarda dan Ter Poorten secara bergantian menanggapi pernyataan Imamura, panglima tertinggi Jepang itu tampaknya sudah tidak berminat lagi untuk menyimaknya. Sebab apa yang dikemukakan kedua pucuk pimpinan Pemerintah Hindia Belanda ini, hanya berkisar soal tidak sampai hati apabila Kota Bandung dihancurkan. Oleh karena itu daripada mengorbankan penduduknya, lebih baik Kota Bandung akan diserahkan kepada Jepang. Apalagi pertahanan militer Belanda di kota itu sudah tidak berdaya. Pasukannya pun sudah mereka bubarkan. Demikian ucap Tjarda dan Ter Poorten.

"Apakah tuan setuju dengan maksud kami?" tanya Tjarda.

"Tentu, usul tuan-tuan kami terima. Tetapi kalau tuan memang sudah tidak berdaya dan tidak mampu melawan serangan kami, bukankah lebih baik menyerah dengan terus terang?"

Untuk kesekian kalinya Imamura mendesak lagi dengan pertanyaan seperti itu. Tetapi Tjarda tetap bersikeras menolaknya dengan menjawab: Kami tidak punya hak.

Imamura mulai mengancam

Jawaban pihak Belanda yang diulang-ulang itu, agaknya telah menimbulkan lagi rasa kesal Imamura. Dengan geram seperti menahan amarah dia berucap sambil melirik ke arah Ter Poorten: Kami kira pembicaraan bersama gubernur jenderal yang tidak punya hak apa-apa ini, sebaiknya tidak perlu dilanjutkan. Dan perundingan selanjutnya akan kita bicarakan bersama Panglima Tertinggi Ter Poorten saja. 

Setelah mengucapkan kata-kata itu, Imamura tidak pernah lagi melirik kepada Tjarda. Seakan-akan dia sudah tidak mengharapkan lagi kehadirannya di ruang perundingan tersebut. Kemudian pandangannya dia alihkan kepada Ter Poorten. Pada saat itu Jenderal Belanda ini tampak acuh tak acuh, seperti linglung dan putus asa. 

Tatkala Imamura mengajukan lagi pertanyaan kepadanya, dia menjawab dengan kata-kata yang ngelantur:

Yah ... kami mengakui. Memang kenyataannya kami sudah tidak mungkin lagi melawan Nippon. Kata-kata itu telah dia ucapkan sambil bergumam seolah-olah sedang melamun.

Lagi pula tidak jelas, kepada siapa kata-kata itu dia tujukan. Menyaksikan sikap Ter Poorten yang merendahkan martabat negerinya sendiri itu, Tjarda jadi gusar. Dengan geram dia menatap tajam ke arah wajah Ter Poorten yang duduk di sampingnya. Beberapa saat ulah kedua pemimpin Belanda itu sempat menarik perhatian para hadirin. Namun peristiwa itu cepat terlupakan, karena Imamura memulai lagi bertanya kepada Ter Poorten: Jadi kalau keadaannya demikian, bagaimana perintah tuan kepada pasukan tuan yang akan sia-sia melawan tentara kami?

"Sekalipun sudah jelas, kami tidak berdaya melawan tentara Nippon, namun kami tidak berhak menyerah. Dan seandainya kami perintahkan kepada pasukan kami untuk menghentikan peperangan, mungkin mereka masih tetap meneruskan perlawanan. Karena mereka sudah tidak mempercayai kami." Jawaban ini pun telah diucapkan oleh Ter Poorten dengan setengah tidak sadar, tanpa diketahui apa maksud dan tujuannya. Oleh karena itu pada saat itu, pihak Jepang telah menilai Ter Poorten sebagai Panglima Tertinggi Belanda yang lemah dan tidak teguh terhadap apa yang dia bicarakan.

"Itu tidak menjadi masalah," jawab Imamura dengan tenang, sambil menambahkan bahwa bangsa Nippon mempunyai sifat Bushido, yakni barang siapa yang mengakui kekalahannya dengan jantan kepada kami, niscaya kami akan memperlakukan mereka dengan baik dan terhormat. "Sebab," kata Imamura, "kekalahan itu bukan salah mereka, tetapi disebabkan situasi yang terpaksa."

Oleh karena itu Imamura menegaskan lagi, agar Ter Poorten segera mengeluarkan perintah kepada tentaranya untuk meletakkan senjata dan menghentikan peperangan.

Untuk mengelak dari imbauan Imamura ini, Ter Poorten segera menjawab dengan alasan-alasan yang dicari-cari: Tetapi kami tidak tahu, bagaimana cara menyampaikan perintah ini. Sebab hubungan telepon, baik di Jawa maupun di luar Jawa sudah terputus.

"Mudah saja. Gunakanlah pesawat radio," jawab Imamura singkat. Apakah Ter Poorten berpura-pura bodoh atau benar-benar sudah linglung, memang tidak diketahui. Namun yang jelas dia mulai lagi bergumam mengucapkan kata-kata yang tidak dipahami. Lagi-lagi dia berkata: kami tidak punya hak untuk menyerah atau Kota Bandung harus diserahkan kepada Nippon, untuk menyelamatkan penduduknya dari kehancuran.

Mendengar ucapannya itu, agaknya kekesalan Imamura sudah memuncak. Kemudian dengan tegas dan agak mengancam, dia pun segera angkat bicara: Tuan-tuan, menyerahkan Kota Bandung kepada balatentara Nippon, sungguh tidak berarti bagi kami. Merebut Kota Bandung adalah soal sepele, karena kami punya pasukan yang kuat. Mau hari ini atau besok Bandung kami hancurkan, itu cuma soal waktu. Jika tuan-tuan bersikeras tidak bersedia menyerah, tidak ada gunanya perundingan ini dilanjutkan. Sekarang tuan-tuan segeralah kembali ke Bandung.

Kalimat terakhir telah dia ucapkan dengan nada suara yang cukup mengejutkan pihak Belanda. Kemudian Imamura melanjutkan ancamannya dengan mengatakan bahwa kepulangan pihak Belanda menuju Bandung, tidak perlu dikhawatirkan. Pihak Jepang akan menyediakan tentaranya untuk mengawal mereka sampai garis medan pertempuran.

"Akan tetapi sesampainya tuan-tuan di Bandung, maka kami akan segera melancarkan serangan secara besar-besaran. Dan kami tidak bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan tuan-tuan. Ingat dan camkan kata-kata saya ini." Demikianlah akhirnya Imamura yang sudah hilang kesabarannya, mengeluarkan keputusan yang tegas.

Pihak Jepang mengajukan sepuluh syarat

Tentu saja Ter Poorten dan kawan-kawannya semakin kalang kabut. Sebab mereka menanggapi keputusan Imamura itu, bukan sekadar gertak sambel belaka. Kemudian Ter Poorten tampil dan berbicara kembali.

Tuan Imamura, "Saya tidak mengerti maksud tuan. Tadi tuan sudah menyetujui usul-usul kami tentang penyerahan Kota Bandung. Tetapi sekarang tuan hendak menghancurkannya."

"Benar. Memang itu telah saya katakan. Tetapi tuan-tuan harus mengetahui, bahwa pertempuran ini bukan cuma mengurus Kota Bandung saja. Tujuan kami adalah hendak menghancurkan semua balatentara Hindia Belanda secepat mungkin. Dan apabila tuan-tuan sudah menyerah kepada kami, dengan sendirinya penyerahan Kota Bandung pun akan kami terima. Tetapi apabila tuan-tuan cuma bermaksud menyerahkan Kota Bandung, sedang di daerah-daerah lain masih terjadi peperangan, sudah pasti usul tuan kami tolak," kata Imamura.

Selanjutnya Imamura menegaskan kembali, agar pihak Belanda secepat mungkin mengambil keputusan. Sebab dalam masa perang ini, kata Imamura, mereka tidak punya waktu untuk berbincang-bincang yang terlalu bertele-tele.

Dalam pada itu Gubernur Jenderal Tjarda yang sejak tadi tidak digubris oleh pihak tuan rumah, tampak mulai gelisah di tempat duduknya. Dalam suasana yang tegang itu, tiba-tiba Tjarda nyeletuk mengajukan pertanyaan:

Apakah saya diperbolehkan pulang ke Bandung?

Imamura yang sudah letih berbicara, masih meluangkan waktu untuk menjawabnya: Kalau tuan ingin pulang, itu terserah tuan. Tetapi kalau tuan pulang sendiri, kami tidak menyediakan tentara untuk mengawal tuan. Oleh karena itu sebaiknya tuan pulang bersama rombongan tuan.

Setelah itu Tjarda minta diri untuk meninggalkan ruang perundingan.

Waktu itu hari sudah mulai gelap dan jam menunjukkan pukul 19.00. Para delegasi Belanda memperlihatkan wajah-wajahnya yang sudah loyo. Begitu pula Ter Poorten lebih banyak merenung dan sudah tidak bersemangat lagi untuk berbicara. Tetapi berhubung belum diperoleh kata sepakat antara kedua belah pihak, maka Imamura membuka kembali pembicaraan.

Yang dibicarakan masih persoalan yang sama, yaitu mendesak Belanda agar segera menentukan sikap. Pada saat itu mental Ter Poorten beserta bawahannya memang sudah jatuh. Sekalipun belum mengucapkan kata ya untuk menyerah, namun agaknya mereka sudah tidak punya pilihan lain. Dan tatkala dari pihak tuan rumah menyodorkan 10 syarat penyerahan yang pasal demi pasal dibacakan oleh Kepala Staf Seisaburo Okazaki, mereka cuma berdiam diri.

Ke-10 syarat tersebut antara lain berbunyi sebagai berikut:

Pemerintah Hindia Belanda harus menyerah dan menghentikan permusuhan. Tanda menyerah harus mengibarkan bendera putih. Semua tentaranya harus meletakkan senjatanya dan berkumpul di tempat yang terbuka untuk menyerahkan diri. Dan barang siapa menemukan jenazah tentara Nippon berikut barangnya, agar secepatnya diserahkan.

Pada pasal terakhir ditegaskan, bahwa seandainya Belanda tidak mematuhi ke-10 syarat ini, pihak Nippon akan menyatakan perang lagi dengan Belanda.

Setelah dibacakan syarat-syarat tersebut, Imamura memulai lagi mengucapkan wejangannya dengan tenang: Jika tuan-tuan sudah menentukan sikap dengan pasti untuk menyerah kepada kami, saya harap tuan-tuan besok datang lagi ke mari, agar kami mengetahui jawaban tuan tentang ke-10 syarat yang kami ajukan. Selain itu kami ingin mengetahui pula, apakah perintah penghentian perang kepada tentara tuan sudah tuan laksanakan.

Ter Poorten yang sedari tadi enggan bicara, pada saat itu hanya bisa bertanya:

Pukul berapa kami besok boleh datang ke mari?

Mula-mula Imamura menentukan pukul 10.00. Namun Ter Poorten menyatakan keberatannya dengan alasan perjalanan Bandung - Kalijati penuh dengan rintangan. Oleh karena itu Imamura akhirnya memutuskan pertemuan keesokan harinya akan diadakan pukul 15.00.

Pada hari itu, sekitar pukul 20.00 rombongan Tjarda kembali ke Bandung dengan mengendarai 3 buah mobil yang dipasang bendera putih.

Sebelum meninggalkan Kalijati, Tjarda sempat memberi tahu kepada juru bahasa Miyoshi, bahwa Staf Kedutaan Jepang yang ditangkap Belanda, telah diinternir (ditahan) di Hotel Warnasari Sukabumi. Perlu diketahui, bahwa menjelang tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, semua orang Jepang termasuk staf kedutaannya, telah ditangkap kemudian ditahan. Dan sebagian lagi telah diusir.

Mereka yang diusir, selanjutnya pulang ke tanah airnya melalui Australia. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 23 Mei 1995



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Hari Pahlawan: MENGENANG 10 NOPEMBER 1945

Majalah Inggeris "Army Quarterly" yang terbit pada tanggal 30 Januari 1948 telah memuat tulisan seorang Mayor Inggeris bernama R. B. Houston dari kesatuan "10 th Gurkha Raffles", yang ikut serta dalam pertempuran di Indonesia sekitar tahun 1945/1946. Selain tentang bentrokan senjata antara kita dengan pihak Tentara Inggeris, Jepang dan Belanda di sekitar kota Jakarta, di Semarang, Ambarawa, Magelang dan lain-lain lagi. Maka Mayor R. B. Houston menulis juga tentang pertempuran-pertempuran yang telah berlangsung di Surabaya. Perlu kita ingatkan kembali, maka perlu dikemukakan di sini, bahwa telah terjadi dua kali pertempuran antara Tentara Inggeris dan Rakyat Surabaya. Yang pertama selama 3 malam dan dua hari, yaitu kurang lebih 60 jam lamanya dimulai pada tanggal 28 Oktober 1945 sore, dan dihentikan pada tanggal 30 Oktober 1945 jauh di tengah malam. Dan yang kedua dimulai pada tanggal 10 Nopember 1945 pagi sampai permulaan bulan Desember 1945, jadi lebih dari 21 har...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...