Langsung ke konten utama

Selintas Sejarah Siliwangi (II)

DALAM rangka pendudukan Sekutu di Indonesia, maka pada tanggal 12 Oktober 1945 Brigade MC. Donald dari Divisi ke-23, tiba di Kota Bandung dengan menumpang Kereta Api, sesuai dengan persetujuan yang telah tercapai antara pihak dengan Pemeritah Republik Indonesia.

Tentara Pendudukan Sekutu di Indonesia pada hakikatnya senantiasa dibon oleh unsur-unsur dan kepentingan-kepentingan Kolonial Belanda, yang ingin menguasai kembali Tanah Air Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa kehadiran Tentara Pendudukan Sekutu di Indonesia berbuat pelanggaran, perkosaan, atau penteroran terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945. 

Pada waktu itu kita sedang bergulat dengan Jepang, dalam usaha pemindahan atau ambil alih kekuasaan ke tangan kita, baik secara damai seperti yang terjadi di PTT pada tanggal 27 September 1945, di Balai Besar Kereta Api pada tanggal 28 September 1945, di Pabrik Senjata & Mesiu tanggal 5 Oktober 1945, di Gudang Utara tanggal 6 Oktober 1945, maupun yang dilakukan secara pertempuran seperti pertempuran di Tegalega tanggal 11 Oktober 1945 dan di tempat lainnya.

Sewaktu datang Tentara Sekutu ke Kota Bandung secara mengadakan diplomasi, yang isinya pihak sekutu akan memberikan perlindungan atas pendudukan Kota Bandung. Akan tetapi peranannya sebagai "Wakil Kolonial" Belanda, hanya menimbulkan ketegangan-ketegangan dan bentrokan dengan pihak kita. Pada tanggal 23 November 1945, 2 orang serdadu India "menyeberang" ke pihak kita lengkap dengan persenjataannya, mereka menyerah kepada Kompi II Batalyon I/Abdulrakhman di Fokkersweg. Diplomasi Viaduk dari Batalyon II/Sumarsono menghasilkan 8 orang menyerah berikut satu set unit pemancar radio dan persenjataan. Pemancar tersebut dipergunakan untuk memanggil teman-teman mereka orang India agar menyeberang. Usaha tersebut menghasilkan 7 orang Tentara India menyerah lengkap dengan persenjataannya.

Pada tanggal 24 November 1945, dengan serempak kita memadamkan aliran listrik di seluruh kota, kemudian secara serentak pula mengadakan serangan-serangan terhadap kedudukan Sekutu di Kota Bandung yang berpusat di bagian Bandung utara, Hotel Preanger, dan Savoy Homan di bagian selatan.

Bulan November 1945 ini merupakan ujian berat bagi penduduk Kota Bandung. Karena di samping harus menghadapi serangan lawan, juga harus menghadapi bencana alam berupa banjir besar Cikapundung yang terjadi malam Minggu tanggal 25 November 1945.

Banjir tersebut sempat melanda daerah Lengkong, Sasak Gantung, Banceuy, dan Balubur, sehingga daerah itu berubah menjadi telaga. Lalu lintas mengalami kemacetan, karena jalan penuh kotoran, pohon-pohon tumbang yang terbawa air bah. Diduga ratusan orang menjadi korban, karena terbawa hanyut, belum lagi harta benda.

Dalam kejadian itu, seorang serdadu Gurkha yang sedang berada di Pos Savoy Homan dan Hotel Preanger dirampas senjatanya oleh pihak Pemuda, sehingga menimbulkan amarah bagi serdadu-serdadu Gurkha lainnya. Mereka dengan membabi buta, melepaskan tembakan-tembakan, menambah tegangnya keadaan.

Tanggal 27 November 1945 pagi, Jenderal MC. Donald meminta Gubernur Jawa Barat, Sutarjo, yang kemudian diganti oleh Datuk Yamin, untuk datang di Markas Tentara Sekutu/Inggris yang terletak di daerah utara Kota Bandung.

Dalam pertemuan tersebut, Jenderal Mc. Donald menyerahkan sebuah ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung, agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00, unsur-unsur bersenjata Republik Indonesia, sudah meninggalkan Bandung bagian utara dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Selain itu, pihak kita tidak diperbolehkan mendekati tempat-tempat RAPWI serta tempat-tempat yang ada penjagaan Jepang dalam jarak 200 meter.

Setelah batas waktu ultimatum yang dikeluarkan oleh pihak Inggris habis waktunya, maka pada tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 secara resmi Kota Bandung sudah dianggap telah terbelah menjadi dua, dengan batasnya rel kereta api yang membujur dari Barat ke Timur. Bagian utara dianggap daerah Inggris dan di bagian selatan merupakan wilayah antara Bogor dan Bandung, sehingga Republik Indonesia.

Walaupun sudah terbelah dua, tapi pada kenyataannya sebagian besar penduduk yang berdiam di Bandung utara tidak mau mempedulikan ultimatum Inggris itu. Sikap jantan dari mereka itu yang tidak mau tunduk begitu saja kepada Inggris menimbulkan kejengkelan di pihak tentara Inggris. Kampung-kampung yang menjadi tempat tinggal orang Indonesia dihujani dengan tembakan-tembakan membabi buta.

Selain itu beberapa orang pemuda datang menghadap atasannya, melaporkan Gedung Sate/Gedung PTT telah dikepung oleh tentara Inggris. Para pemuda itu atas nama kawan-kawannya bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate dan mengharap diberikannya bantuan senjata.

Sekalipun pihak atasannya berusaha untuk mencegah niat para pemuda itu, namun hasrat mereka tidak dapat ditahan. Mereka yang bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate tersebut antara lain: Samsu, D. Kosasih, satu Kompi Hizbullah, Pemuda PTT, Batalyon II Res. 8 Poniman, Paryadi, Ali Hanafiah dengan satu peleton, pasukan-pasukan Batalyon II Res. 9 Kompi Sujana dan Tatang Basyah.

Karena kekuatannya tidak seimbang, akhirnya Gedung Sate/Gedung PTT berhasil dikuasai oleh tentara Inggris, setelah mereka melangkahi dulu mayat-mayat para suhada yang telah gugur dengan penuh keikhlasan dan secara kesatria, tanpa sesuatu pamrih, menyerahkan hak milik mereka yang paling berharga bagi Nusa dan Bangsa.

Para Suhada yang gugur mempertahankan Gedung Sate hingga titik darah yang penghabisan itu di antaranya, Didi Kamarga, Suhodo, Muktaruddin, Rana, Subengat, Susilo, dan Suyono.

Gerakan-gerakan TRI di Kota Bandung tidak menurun. Bahkan pada tanggal 1 Desember 1945 menyerbu kedudukan-kedudukan Sekutu di kompleks Unpad sekarang, diserbu oleh Batalyon II Res. 9 dan Badan Perjuangan tanggal 6 Desember 1945 Badung utara mendapat giliran penyerbuan pasukan TRI, di antaranya Batalyon I Res. 8 Kompi Slamet dan Badan Perjuangan.

Dengan adanya serangan-serangan dari TRI, Tentara Sekutu menjadi kewalahan. Maka pada tanggal 6 Desember 1945 pagi Tentara Sekutu yang berkedudukan di Hotel Homan dan Hotel Preanger mulai bergerak dari utara menuju selatan melalui Jalan Lengkong, untuk membebaskan tawanan-tawanan Belanda di Tulndorp dan Ciateul, dengan lindungan tank panser, dan beberapa buah truk. 

Ketika pasukan itu tiba di Jalan Cikawao, mendapat serangan dari Tentara dan pejuang-pejuang kita dari Sabilillah, Hizbullah pimpinan Husinsyah, Batalyon II Res. 8 Sumarsono, Batalyon Ahmad Wiranatakusumah, dan barisan-barisan lainnya, secara gagah berani telah menyerbu tank-tank musuh seraya meneriakkan kata-kata: "Allahu Akbar ...!" Walaupun persenjataan dari pejuang-pejuang kita kebanyakan dari bambu runcing, golok, pedang, bambu, dan botol pembakar, pertempuran itu cukup sengit.

Pertempuran di Fokhersweg (Jl. Garuda sekarang), merupakan salah satu pertempuran yang terbesar, yang berlangsung selama 3 hari 3 malam. Jl. Garuda merupakan garis penghubung yang sangat vital bagi pihak sekutu, yang menghubungkan setiap konvoi Sekutu yang melalui jalan itu, selalu dijadikan bulan-bulanan oleh Tentara kita.

Ketika ada konvoi yang mengangkut pasukan-pasukan sekutu, Belanda/NICA dan dikawal kuat dengan kendaraan berlapis baja sedang dalam perjalanan dari Bogor menuju Bandung, Batalyon Sumarsono (Batalyo II Res. 8). Batalyon I/Abdulrakhman, badan-badan perjuangan yang menempati posisi strategis di sekitar Jalan Garuda, diperintahkan untuk menghadang dan menghancurkan konvoi tersebut. Pertempuran sengit pun berlangsung dari tanggal 20 Maret s/d tanggal 22 Maret 1946, dan banyak menelan korban baik materiil maupun jiwa dari pihak Sekutu, sedangkan dari pihak kita pun banyak pula jatuh korban, baik yang gugur maupun yang menderita luka-luka.

Pada tanggal 22 Maret 1946 Markas Sekutu menelepon markas kita, bahwa Panglima Komandemen I Jawa Barat beserta Menteri Keuangan Mr. Syafrudin Prawiranegara tiba di Bandung, membawa amanat Perdana Menteri Republik Indonesia yang menyetujui tuntutan Sekutu tertanggal 20 Desember 1945 tentang pengunduran unsur bersenjata kita dalam straal 10 km pusat Kota Bandung.

Pejuang-pejuang kita sangat taat kepada para pemimpinnya, sekalipun untuk melaksanakan dituntut pengorbanan perasaan yang tidak terhingga. Sebagai akibat dari kesemuanya itu, maka terjadilah peristiwa "atas Bandung Lautan Api" pada tanggal 24 Maret 1946, yakni sebagai konsekuensi pejuang kita menaati perintah Pemerintah. Di samping perintah tersebut di atas, terdapat pula perintah dari Markas Tertinggi Yogyakarta yang pada pokoknya berisi untuk jangan menyerahkan Bandung Selatan begitu saja kepada pihak Sekutu.

Sebelum para pejuang dan rakyat meninggalkan Kota Bandung, maka Kota Bandung dibumihanguskan. Mereka merelakan rumah-rumahnya dibakar, daripada harus dihuni oleh para Tentara Sekutu.

Para pejuang yang digembleng di berbagai medan pertempuran di Jawa Barat, baik yang bergabung dalam ketentaraan maupun badan perjuangan, menjadi cikal bakal daripada Divisi Siliwangi yang dibentuk kemudian, dengan maung-maung yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Sadar akan kepentingan negara dalam membela dan mempertahankannya, maka akhirnya badan-badan perjuangan yang beraneka ragam disatukan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) tanggal 24 Januari 1946.

Pada pertengahan bulan Mei 1946, dalam rapat pimpinan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Yogyakarta yang dipimpin oleh Jenderal Pangeran Purbonegoro ditetapkan nama-nama daripada divisi-divisi. Untuk divisi di Jawa Barat dua calon namanya, yakni "Taruma Negara" dan "Siliwangi". Akhirnya yang diterima adalah nama Siliwangi, karena nama Siliwangi itu mengandung nilai histori yang tinggi di kalangan rakyat Jawa Barat dan dirasakan telah menjadi milik rakyat Jawa Barat.

Tanggal 20 Mei 1946, Komandan I Jawa Barat yang pada saat itu berkedudukan di Tasikmalaya diresmikan menjadi Divisi I Siliwangi, di mana sebagai panglimanya ditetapkan Jenderal Mayor A. H. Nasution.

Siliwangi hijrah

Di saat perjuangan pahlawan terhadap Belanda di Jawa Barat sedang memuncak dan inisiatif berada di tangan kita, pihak Belanda sekali lagi memaksa diadakannya perundingan yang diselenggarakan di atas sebuah Kapal Amerika Serikat "RENVILE". Persetujuan yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 itu, isinya antara lain mengharuskan pasukan-pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah ke daerah yang masih dikuasai oleh Republik Indonesia.

Bila ditinjau secara politik, persetujuan "RENVILE" tersebut berarti pengakuan Republik Indonesia "de jure" atas kedaulatan Kerajaan Belanda atas Tanah Air kita tercinta.

Sedangkan dipandang secara militer, persetujuan ini berarti menyerahkan kantong-kantong gerilya kita yang tidak dapat direbut dan yang membuntukan serbuan-serbuan Belanda itu, kepada pihak Belanda. Dengan demikian hal tersebut membuat kita menjadi terkepung dan terancam.

Dipandang dari segi ekonomis, persetujuan itu berarti kita menerima dari keadaan, bahwa semua kota besar, pusat produksi dan perdagangan keluar, telah berada di dalam tangan Belanda. Ekonomi kita berada dalam keadaan terkepung, terblokade dan tercekik.

Pada saat menjelang hijrah bulan Februari 1948, unsur-unsur pimpinan Divisi Siliwangi tersebut, antara lain Panglima Divisi I; Kolonel A. H. Nasution, Kepala Staf; Kolonel Hidayat, Komandan Brigade I Tirtayasa di Banten; Letnan Kolonel Dr. Erie Sudewo yang menggantikan Letnan Kolonel Bratamenggala sekitar tanggal 17 Juli 1948. Komandan Brigade II/Suryakencana di Sukabumi; Letnan Kolonel A. W. Kawilarang, Komandan III/Kiansantang di Pursumah, Komandan Brigade I/Guntur II di Bandung Selatan; Letnan Kolonel Daan Yahya dan Komandan Brigade V/Sunan Gunung Jati di Cirebon; Letnan Kolonel Abimanyu.

Dalam melaksanakan perintah hijrah dari pemerintah pusat, tidak semua unsur-unsur jajaran Divisi Siliwangi digerakkan berhijrah. Misalnya saja Brigade I/Tirtayasa tidak disertakan dalam gerakan ini, karena masih menguasai keadaan sepenuhnya. Demikian pula berbagai unsur Badan Perjuangan ada yang tetap tinggal di kampung halamannya.

Ada persetujuan "RENVILE" tersebut, tidak saja menghilangkan kesempatan kepada Divisi Siliwangi untuk mencicipi "kemenangan" dalam menanggulangi Agresi Militer Belanda yang pertama di Jawa Barat, tetapi juga menyebabkan Divisi Siliwangi terdesak, untuk kemudian terlempar dari kampung halamannya sendiri.

Pada tanggal 22 Februari 1948 telah selesai dihijrahkan kurang lebih 29 ribu prajurit Siliwangi dari kantong-kantong gerilyanya.

Adanya perintah gerilya itu merupakan satu bukti dan kesaksian sejarah bahwa Jawa Barat tidak pernah berkapitulasi dalam menghadapi perang melawan penjajah Belanda yang pertama itu.

Setelah hijrah lalu datang pula Rekonstruksi dan Rasionalisasi untuk ketiga kalinya bagi Siliwangi. Bagi Siliwangi yang dalam pengembaraan itu, sangat berarti sekali dirasakan terutama oleh anak-anak yang tidak masuk formasi, di mana dia harus berpisah dari kawan-kawan dan pimpinannya yang selama ini senantiasa bersama-sama. Hal itu pun tidak sedikit pengaruhnya terhadap Siliwangi. Kesemuanya itu tertulis dalam lagu Siliwangi pada waktu hijrah. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 24 Mei 1994



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

Islamisasi Dinasti Prabu Siliwangi

Oleh AHMAD MANSUR SURYANEGARA D INASTI Sang Prabu Siliwangi pada abad ke-15 menjadikan Islam sebagai agamanya secara aman dan damai. Diawali dengan sebab adanya pernikahan kedua Sang Prabu Siliwangi dengan Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa, Syah Bandar Cirebon. Subang Larang adalah santri Syekh Kuro atau Syekh Hasanuddin dengan pesantrennya di Karawang. Dinasti Sang Prabu Siliwangi dari pernikahannya dengan Subang Larang, terlahirlah tiga orang putra putri. Pertama, Pangeran Walangsungsang, kedua, Nyai Lara Santang, dan ketiga, Raja Sangara. Ketiga-tiganya masuk Islam. Pesantren Syekh Kuro Syekh Kuro yang dikenal pula dengan nama Syekh Hasanuddin memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Persahabatan Ki Gedeng Tapa dengan Syekh Kuro menjadikan putrinya, Subang Larang, masantren  di Pesantren Syekh Kuro. Adapun kedudukan Ki Gedeng Tapa adalah sebagai Syahbandar di Cirebon. Menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih setelah wafat. Ki G...

Mengenang 60 Tahun Masa Penjajahan Dai Nippon (5): Testamen Tanaka: "Dai Nippon Harus Menguasai Dunia"

UNTUK menjelesaikan kesulitan-kesulitan di Asia Timur, Djepang harus mendjalankan politik darah dan badja. Untuk menguasai dunia, Djepang mesti menguasai Eropah dan Asia. Untuk menguasai Eropah dan Asia, Djepang lebih dulu mesti menguasai Tiongkok. Dan untuk menguasai Tiongkok, Djepang mesti mulai dengan menaklukkan Manchuria, dan Mongolia. Djepang ingin menjelesaikan program ini dalam 10 tahun. ("Testamen Tanaka" yang ditulis tahun 1927, dikutip dari "Nasionalisme" oleh Ruslan Abdulgani). Oleh HARYADI SUADI "INDONESIA merdeka di kemudian hari" telah disambut rakyat dengan gegap gempita dan kegembiraan yang meluap-luap. Dalam waktu cepat di seluruh rumah penduduk, gedung perkantoran, hotel, toko, sekolah, dan sebagainya, dari kota sampai ke pelosok di Pulau Jawa, dikibarkan sang Dwi Warna. Dan sesuai dengan bunyi maklumat Saiko Shikikan (Panglima Tertinggi), bendera kita harus selalu didampingi bendera Matahari Terbit sebagai lambang sehidup semati de...