Langsung ke konten utama

Selintas Sejarah Siliwangi (II)

DALAM rangka pendudukan Sekutu di Indonesia, maka pada tanggal 12 Oktober 1945 Brigade MC. Donald dari Divisi ke-23, tiba di Kota Bandung dengan menumpang Kereta Api, sesuai dengan persetujuan yang telah tercapai antara pihak dengan Pemeritah Republik Indonesia.

Tentara Pendudukan Sekutu di Indonesia pada hakikatnya senantiasa dibon oleh unsur-unsur dan kepentingan-kepentingan Kolonial Belanda, yang ingin menguasai kembali Tanah Air Indonesia.

Sejarah telah membuktikan bahwa kehadiran Tentara Pendudukan Sekutu di Indonesia berbuat pelanggaran, perkosaan, atau penteroran terhadap Proklamasi 17 Agustus 1945. 

Pada waktu itu kita sedang bergulat dengan Jepang, dalam usaha pemindahan atau ambil alih kekuasaan ke tangan kita, baik secara damai seperti yang terjadi di PTT pada tanggal 27 September 1945, di Balai Besar Kereta Api pada tanggal 28 September 1945, di Pabrik Senjata & Mesiu tanggal 5 Oktober 1945, di Gudang Utara tanggal 6 Oktober 1945, maupun yang dilakukan secara pertempuran seperti pertempuran di Tegalega tanggal 11 Oktober 1945 dan di tempat lainnya.

Sewaktu datang Tentara Sekutu ke Kota Bandung secara mengadakan diplomasi, yang isinya pihak sekutu akan memberikan perlindungan atas pendudukan Kota Bandung. Akan tetapi peranannya sebagai "Wakil Kolonial" Belanda, hanya menimbulkan ketegangan-ketegangan dan bentrokan dengan pihak kita. Pada tanggal 23 November 1945, 2 orang serdadu India "menyeberang" ke pihak kita lengkap dengan persenjataannya, mereka menyerah kepada Kompi II Batalyon I/Abdulrakhman di Fokkersweg. Diplomasi Viaduk dari Batalyon II/Sumarsono menghasilkan 8 orang menyerah berikut satu set unit pemancar radio dan persenjataan. Pemancar tersebut dipergunakan untuk memanggil teman-teman mereka orang India agar menyeberang. Usaha tersebut menghasilkan 7 orang Tentara India menyerah lengkap dengan persenjataannya.

Pada tanggal 24 November 1945, dengan serempak kita memadamkan aliran listrik di seluruh kota, kemudian secara serentak pula mengadakan serangan-serangan terhadap kedudukan Sekutu di Kota Bandung yang berpusat di bagian Bandung utara, Hotel Preanger, dan Savoy Homan di bagian selatan.

Bulan November 1945 ini merupakan ujian berat bagi penduduk Kota Bandung. Karena di samping harus menghadapi serangan lawan, juga harus menghadapi bencana alam berupa banjir besar Cikapundung yang terjadi malam Minggu tanggal 25 November 1945.

Banjir tersebut sempat melanda daerah Lengkong, Sasak Gantung, Banceuy, dan Balubur, sehingga daerah itu berubah menjadi telaga. Lalu lintas mengalami kemacetan, karena jalan penuh kotoran, pohon-pohon tumbang yang terbawa air bah. Diduga ratusan orang menjadi korban, karena terbawa hanyut, belum lagi harta benda.

Dalam kejadian itu, seorang serdadu Gurkha yang sedang berada di Pos Savoy Homan dan Hotel Preanger dirampas senjatanya oleh pihak Pemuda, sehingga menimbulkan amarah bagi serdadu-serdadu Gurkha lainnya. Mereka dengan membabi buta, melepaskan tembakan-tembakan, menambah tegangnya keadaan.

Tanggal 27 November 1945 pagi, Jenderal MC. Donald meminta Gubernur Jawa Barat, Sutarjo, yang kemudian diganti oleh Datuk Yamin, untuk datang di Markas Tentara Sekutu/Inggris yang terletak di daerah utara Kota Bandung.

Dalam pertemuan tersebut, Jenderal Mc. Donald menyerahkan sebuah ultimatum yang ditujukan kepada penduduk Bandung, agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00, unsur-unsur bersenjata Republik Indonesia, sudah meninggalkan Bandung bagian utara dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Selain itu, pihak kita tidak diperbolehkan mendekati tempat-tempat RAPWI serta tempat-tempat yang ada penjagaan Jepang dalam jarak 200 meter.

Setelah batas waktu ultimatum yang dikeluarkan oleh pihak Inggris habis waktunya, maka pada tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 secara resmi Kota Bandung sudah dianggap telah terbelah menjadi dua, dengan batasnya rel kereta api yang membujur dari Barat ke Timur. Bagian utara dianggap daerah Inggris dan di bagian selatan merupakan wilayah antara Bogor dan Bandung, sehingga Republik Indonesia.

Walaupun sudah terbelah dua, tapi pada kenyataannya sebagian besar penduduk yang berdiam di Bandung utara tidak mau mempedulikan ultimatum Inggris itu. Sikap jantan dari mereka itu yang tidak mau tunduk begitu saja kepada Inggris menimbulkan kejengkelan di pihak tentara Inggris. Kampung-kampung yang menjadi tempat tinggal orang Indonesia dihujani dengan tembakan-tembakan membabi buta.

Selain itu beberapa orang pemuda datang menghadap atasannya, melaporkan Gedung Sate/Gedung PTT telah dikepung oleh tentara Inggris. Para pemuda itu atas nama kawan-kawannya bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate dan mengharap diberikannya bantuan senjata.

Sekalipun pihak atasannya berusaha untuk mencegah niat para pemuda itu, namun hasrat mereka tidak dapat ditahan. Mereka yang bertekad untuk mempertahankan Gedung Sate tersebut antara lain: Samsu, D. Kosasih, satu Kompi Hizbullah, Pemuda PTT, Batalyon II Res. 8 Poniman, Paryadi, Ali Hanafiah dengan satu peleton, pasukan-pasukan Batalyon II Res. 9 Kompi Sujana dan Tatang Basyah.

Karena kekuatannya tidak seimbang, akhirnya Gedung Sate/Gedung PTT berhasil dikuasai oleh tentara Inggris, setelah mereka melangkahi dulu mayat-mayat para suhada yang telah gugur dengan penuh keikhlasan dan secara kesatria, tanpa sesuatu pamrih, menyerahkan hak milik mereka yang paling berharga bagi Nusa dan Bangsa.

Para Suhada yang gugur mempertahankan Gedung Sate hingga titik darah yang penghabisan itu di antaranya, Didi Kamarga, Suhodo, Muktaruddin, Rana, Subengat, Susilo, dan Suyono.

Gerakan-gerakan TRI di Kota Bandung tidak menurun. Bahkan pada tanggal 1 Desember 1945 menyerbu kedudukan-kedudukan Sekutu di kompleks Unpad sekarang, diserbu oleh Batalyon II Res. 9 dan Badan Perjuangan tanggal 6 Desember 1945 Badung utara mendapat giliran penyerbuan pasukan TRI, di antaranya Batalyon I Res. 8 Kompi Slamet dan Badan Perjuangan.

Dengan adanya serangan-serangan dari TRI, Tentara Sekutu menjadi kewalahan. Maka pada tanggal 6 Desember 1945 pagi Tentara Sekutu yang berkedudukan di Hotel Homan dan Hotel Preanger mulai bergerak dari utara menuju selatan melalui Jalan Lengkong, untuk membebaskan tawanan-tawanan Belanda di Tulndorp dan Ciateul, dengan lindungan tank panser, dan beberapa buah truk. 

Ketika pasukan itu tiba di Jalan Cikawao, mendapat serangan dari Tentara dan pejuang-pejuang kita dari Sabilillah, Hizbullah pimpinan Husinsyah, Batalyon II Res. 8 Sumarsono, Batalyon Ahmad Wiranatakusumah, dan barisan-barisan lainnya, secara gagah berani telah menyerbu tank-tank musuh seraya meneriakkan kata-kata: "Allahu Akbar ...!" Walaupun persenjataan dari pejuang-pejuang kita kebanyakan dari bambu runcing, golok, pedang, bambu, dan botol pembakar, pertempuran itu cukup sengit.

Pertempuran di Fokhersweg (Jl. Garuda sekarang), merupakan salah satu pertempuran yang terbesar, yang berlangsung selama 3 hari 3 malam. Jl. Garuda merupakan garis penghubung yang sangat vital bagi pihak sekutu, yang menghubungkan setiap konvoi Sekutu yang melalui jalan itu, selalu dijadikan bulan-bulanan oleh Tentara kita.

Ketika ada konvoi yang mengangkut pasukan-pasukan sekutu, Belanda/NICA dan dikawal kuat dengan kendaraan berlapis baja sedang dalam perjalanan dari Bogor menuju Bandung, Batalyon Sumarsono (Batalyo II Res. 8). Batalyon I/Abdulrakhman, badan-badan perjuangan yang menempati posisi strategis di sekitar Jalan Garuda, diperintahkan untuk menghadang dan menghancurkan konvoi tersebut. Pertempuran sengit pun berlangsung dari tanggal 20 Maret s/d tanggal 22 Maret 1946, dan banyak menelan korban baik materiil maupun jiwa dari pihak Sekutu, sedangkan dari pihak kita pun banyak pula jatuh korban, baik yang gugur maupun yang menderita luka-luka.

Pada tanggal 22 Maret 1946 Markas Sekutu menelepon markas kita, bahwa Panglima Komandemen I Jawa Barat beserta Menteri Keuangan Mr. Syafrudin Prawiranegara tiba di Bandung, membawa amanat Perdana Menteri Republik Indonesia yang menyetujui tuntutan Sekutu tertanggal 20 Desember 1945 tentang pengunduran unsur bersenjata kita dalam straal 10 km pusat Kota Bandung.

Pejuang-pejuang kita sangat taat kepada para pemimpinnya, sekalipun untuk melaksanakan dituntut pengorbanan perasaan yang tidak terhingga. Sebagai akibat dari kesemuanya itu, maka terjadilah peristiwa "atas Bandung Lautan Api" pada tanggal 24 Maret 1946, yakni sebagai konsekuensi pejuang kita menaati perintah Pemerintah. Di samping perintah tersebut di atas, terdapat pula perintah dari Markas Tertinggi Yogyakarta yang pada pokoknya berisi untuk jangan menyerahkan Bandung Selatan begitu saja kepada pihak Sekutu.

Sebelum para pejuang dan rakyat meninggalkan Kota Bandung, maka Kota Bandung dibumihanguskan. Mereka merelakan rumah-rumahnya dibakar, daripada harus dihuni oleh para Tentara Sekutu.

Para pejuang yang digembleng di berbagai medan pertempuran di Jawa Barat, baik yang bergabung dalam ketentaraan maupun badan perjuangan, menjadi cikal bakal daripada Divisi Siliwangi yang dibentuk kemudian, dengan maung-maung yang disegani baik oleh kawan maupun lawan.

Sadar akan kepentingan negara dalam membela dan mempertahankannya, maka akhirnya badan-badan perjuangan yang beraneka ragam disatukan menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) tanggal 24 Januari 1946.

Pada pertengahan bulan Mei 1946, dalam rapat pimpinan Tentara Republik Indonesia (TRI) di Yogyakarta yang dipimpin oleh Jenderal Pangeran Purbonegoro ditetapkan nama-nama daripada divisi-divisi. Untuk divisi di Jawa Barat dua calon namanya, yakni "Taruma Negara" dan "Siliwangi". Akhirnya yang diterima adalah nama Siliwangi, karena nama Siliwangi itu mengandung nilai histori yang tinggi di kalangan rakyat Jawa Barat dan dirasakan telah menjadi milik rakyat Jawa Barat.

Tanggal 20 Mei 1946, Komandan I Jawa Barat yang pada saat itu berkedudukan di Tasikmalaya diresmikan menjadi Divisi I Siliwangi, di mana sebagai panglimanya ditetapkan Jenderal Mayor A. H. Nasution.

Siliwangi hijrah

Di saat perjuangan pahlawan terhadap Belanda di Jawa Barat sedang memuncak dan inisiatif berada di tangan kita, pihak Belanda sekali lagi memaksa diadakannya perundingan yang diselenggarakan di atas sebuah Kapal Amerika Serikat "RENVILE". Persetujuan yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 itu, isinya antara lain mengharuskan pasukan-pasukan Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah ke daerah yang masih dikuasai oleh Republik Indonesia.

Bila ditinjau secara politik, persetujuan "RENVILE" tersebut berarti pengakuan Republik Indonesia "de jure" atas kedaulatan Kerajaan Belanda atas Tanah Air kita tercinta.

Sedangkan dipandang secara militer, persetujuan ini berarti menyerahkan kantong-kantong gerilya kita yang tidak dapat direbut dan yang membuntukan serbuan-serbuan Belanda itu, kepada pihak Belanda. Dengan demikian hal tersebut membuat kita menjadi terkepung dan terancam.

Dipandang dari segi ekonomis, persetujuan itu berarti kita menerima dari keadaan, bahwa semua kota besar, pusat produksi dan perdagangan keluar, telah berada di dalam tangan Belanda. Ekonomi kita berada dalam keadaan terkepung, terblokade dan tercekik.

Pada saat menjelang hijrah bulan Februari 1948, unsur-unsur pimpinan Divisi Siliwangi tersebut, antara lain Panglima Divisi I; Kolonel A. H. Nasution, Kepala Staf; Kolonel Hidayat, Komandan Brigade I Tirtayasa di Banten; Letnan Kolonel Dr. Erie Sudewo yang menggantikan Letnan Kolonel Bratamenggala sekitar tanggal 17 Juli 1948. Komandan Brigade II/Suryakencana di Sukabumi; Letnan Kolonel A. W. Kawilarang, Komandan III/Kiansantang di Pursumah, Komandan Brigade I/Guntur II di Bandung Selatan; Letnan Kolonel Daan Yahya dan Komandan Brigade V/Sunan Gunung Jati di Cirebon; Letnan Kolonel Abimanyu.

Dalam melaksanakan perintah hijrah dari pemerintah pusat, tidak semua unsur-unsur jajaran Divisi Siliwangi digerakkan berhijrah. Misalnya saja Brigade I/Tirtayasa tidak disertakan dalam gerakan ini, karena masih menguasai keadaan sepenuhnya. Demikian pula berbagai unsur Badan Perjuangan ada yang tetap tinggal di kampung halamannya.

Ada persetujuan "RENVILE" tersebut, tidak saja menghilangkan kesempatan kepada Divisi Siliwangi untuk mencicipi "kemenangan" dalam menanggulangi Agresi Militer Belanda yang pertama di Jawa Barat, tetapi juga menyebabkan Divisi Siliwangi terdesak, untuk kemudian terlempar dari kampung halamannya sendiri.

Pada tanggal 22 Februari 1948 telah selesai dihijrahkan kurang lebih 29 ribu prajurit Siliwangi dari kantong-kantong gerilyanya.

Adanya perintah gerilya itu merupakan satu bukti dan kesaksian sejarah bahwa Jawa Barat tidak pernah berkapitulasi dalam menghadapi perang melawan penjajah Belanda yang pertama itu.

Setelah hijrah lalu datang pula Rekonstruksi dan Rasionalisasi untuk ketiga kalinya bagi Siliwangi. Bagi Siliwangi yang dalam pengembaraan itu, sangat berarti sekali dirasakan terutama oleh anak-anak yang tidak masuk formasi, di mana dia harus berpisah dari kawan-kawan dan pimpinannya yang selama ini senantiasa bersama-sama. Hal itu pun tidak sedikit pengaruhnya terhadap Siliwangi. Kesemuanya itu tertulis dalam lagu Siliwangi pada waktu hijrah. ***



Sumber: Pikiran Rakyat, 24 Mei 1994



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...