Langsung ke konten utama

Gejolak Revolusi di Daerah

SETELAH diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, tidak berarti perjuangan melawan penjajah Belanda telah usai. Perjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan dan mencegah kembalinya penjajahan Belanda, terus berlangsung. Hal itu ditandai dengan adanya Agresi Militer I dan II Belanda.

TIDAK terkecuali di wilayah Ciamis, pertempuran melawan kolonial pun terus terjadi. Di wilayah Ciamis-Tasikmalaya, pertempuran warga setempat, tercatat dalam sejarah sebagai peristiwa pengeboman jembatan Karangresik pada 1948. Saat ini, untuk memperingati pertempuran tersebut, dibangun monumen yang menggambarkan pertempuran di Karangresik, Kota Tasikmalaya.

Namun mengenai pertempuran di Ciamis sendiri, hingga saat ini masih dalam perbincangan. Ada beberapa kalangan yang menyebutkan bahwa selain di wilayah Karangresik, pertempuran pun terjadi di wilayah Cikoneng dan Sindangkasih. Pendapat lain menyebutkan, pertempuran pecah di Kawali.

Sejarawan yang juga guru besar sejarah di Universitas Padjajaran Bandung dan Universitas Galuh Ciamis, Sobana Hardjasaputra menjelaskan, mengenai benar dan tidak pernah terjadi perang di Sindangkasih, pasca-Proklamasi Kemerdekaan, memerlukan penelitian secara khusus. Pihaknya belum menemukan dokumen tertulis yang menyangkut pertempuran Sindangkasih-Cikoneng. Namun, mengenai pertempuran di Karangresik, dia pun membenarkan.

Dikatakan dia, wilayah Sindangkasih dan Karangresik merupakan dua wilayah berbeda. "Setelah proklamasi kemerdekaan memang di beberapa daerah Jawa Barat terjadi pertempuran antara TNI Divisi Siliwangi dan Belanda. Hal itu terjadi setelah Belanda melanggar Perjanjian Linggarjati yang ditandatangani oleh kedua belah pihak tanggal 25 Maret 1947," katanya.

Pada tahun itu Belanda melakukan Agresi Militer I. Daerah yang menjadi objek serangan tentara Belanda adalah daerah Jawa Barat. Waktu itu daerah Priangan dipertahankan oleh pasukan Siliwangi Brigade IV Guntur.

Berdasarkan catatan sejarah, dikatakan Sobana, pada 21 Juli 1947, pasukan Belanda menyerang beberapa tempat di Jabar yang diduduki TNI (pasukan Siliwangi). Daerah yang diserang Belanda yang tercatat dalam dokumen di antaranya Bogor, Sukabumi, Cianjur, Purwakarta, Subang, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, dan Cirebon. Saat itu, TNI dibantu rakyat melakukan perlawanan secara gerilya.

"Apakah waktu itu daerah Ciamis juga termasuk diserang, sehingga terjadi pertempuran? Hingga saat ini, belum diketahui datanya dalam dokumen tertulis," ujar dia.

Bahkan, untuk menggali kebenaran peristiwa pertempuran di Ciamis, pihaknya pun sempat mewawancara beberapa pelaku yang turut bergerilya membantu pasukan Siliwangi di daerah Ciamis Utara. Dari beberapa informan itu menyatakan, pada akhir 1947, di sekitar jembatan Bojong di daerah Winduraja Kawali, mereka (pejuang yang ikut bergerilya -red.) membantu tentara Siliwangi mencegat konvoi tentara Belanda dari Cirebon yang akan menuju Ciamis dan seterusnya. Di tempat itu pun terjadi baku tembak antara kedua belah pihak.

"Namun, ada juga informan lain yang menyebutkan bahwa di Sindangkasih pun terjadi pertempuran. Akan tetapi, informan itu mengaku bahwa dia bukan pelaku sejarah. Mereka mengetahui hal itu dari orang lain. Berarti keabsahan informasi pertempuran Sindangkasih, sifatnya lemah," ujar Sobana.

Perlawanan secara gerilya mampu melumpuhkan Agresi Militer I Belanda. Kemudian, Belanda pun meminta dilakukan perundingan. Tanggal 8 Desember 1947, berlangsung perundingan Renville. Sebagai konsekuensi perjanjian itu, Jabar menjadi daerah kekuasaan Belanda.

"Pasukan Siliwangi terpaksa harus hijrah ke Jateng. Namun, laskar-laskar tidak turut hijrah. Waktu itu di Jabar berdiri Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo," katanya.

Belanda pun kembali melanggar perundingan Renville. Mereka melakukan Agresi Militer II. Pasukan Siliwangi melakukan long march ke Jabar. Perjalanan kembali ke Jabar, di beberapa tempat, pasukan Siliwangi dihadang Belanda. Penghadangan pun sempat terjadi di daerah Rancah dan Kawali. Pasukan Siliwangi berhasil menguasai kembali Jabar.

"Tahun 1980, saya dan beberapa rekan sejawat sempat menulis mengenai sejarah revolusi kemerdekaan di Jabar. Dalam sumber-sumber tertulis mengenai gejolak revolusi kemerdekaan di daerah Jawa Barat, baik Agresi Militer Belanda I dan II, tidak ditemukan informasi di Sindangkasih ada pertempuran melawan Belanda," ucapnya.

Dari cerita Yoyo (55) warga sekitar mengaku, dirinya pernah mendengar dari orang tuanya yang seorang veteran. Dari cerita orang tuanya itulah, memang di daerah sini (Karangresik -red.) telah terjadi pertempuran yang hebat, antara pasukan TNI yang dibantu warga pribumi dan pasukan Belanda pada tahun 1947.

"Waktu itu menurut bapak saya, pasukan Belanda datang dari arah Ciamis hendak menuju Tasikmalaya. Nah, di jembatan inilah pasukan Belanda tersebut disergap para pejuang kita dan terjadi pertempuran sengit. Pertempuran pun memakan korban yang banyak dari pasukan Belanda dan TNI," ungkapnya. (Ecep Sukirman/"PR")***






Sejarah Diabaikan Nasionalisme Pudar

"BANGSA yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya." Demikian salah satu amanat yang disampaikan Presiden I Republik Indonesia Soekarno untuk mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan. Sehingga, cita-cita mewujudkan bangsa yang besar dan beradab pun mampu terbangun tanpa melupakan jasa pahlawan. 

Akan tetapi, saat ini pesan itu pun seolah kiasan belaka. Tidak jarang, generasi penerus bangsa ini lupa, bahkan tidak mengetahui mengenai sejarah di daerahnya. Seperti halnya sejarah di Ciamis, tak banyak diketahui.

Sejarawan Sobana Hardjasaputra menuturkan, terhadap permasalahan sejarah daerah sendiri, bukan hanya generasi muda, tetapi bangsa ini pada umumnya memang hampir tidak menaruh perhatian. Salah satu faktor utama penyebab lunturnya pengetahuan mengenai sejarah bangsa ini, yakni mata pelajaran sejarah saat ini dianggap tidak penting.

"Di sekolah-sekolah, mata pelajaran sejarah diberikan kepada siswa ala kadarnya. Baik materi pelajarannya maupun guru yang mengajarkannya. Bahkan, di beberapa tempat, sebagian besar guru yang mengajarkan sejarah, tidak memiliki latar belakang pendidikan sejarah," katanya.

Di beberapa perguruan tinggi, mata kuliah sejarah sering diabaikan. Tidak heran bila jiwa nasionalisme dan penghargaan terhadap jasa para pahlawan menjadi luntur. "Dalam hal ini terkesan, baik pemerintah maupun masyarakat, belum memahami fungsi dan arti penting sejarah. Akibatnya terkesan pula banyak orang yang kehilangan jati diri," tuturnya.

Untuk menambah khazanah pengetahuan sejarah, peristiwa sejarah yang belum terungkap, katanya harus diteliti dan ditulis secara baik dan benar agar tidak menimbulkan pemahaman berbeda di masyarakat.

Dalam sisi lain, hasil penelitian sejarah harus disosialisasikan secara luas kepada masyarakat, yang didukung warga masyarakat khususnya golongan terpelajar memiliki budaya baca yang tinggi.

"Saya optimistis, apabila upaya-upaya itu ditempuh dan dibenahi, maka pengetahuan sejarah bangsa pun mampu bangkit lagi. Sehingga, masyarakat pun tidak melupakan jasa para pahlawannya," tutur dia. (Ecep Sukirman/"PR")***






Sumber: Pikiran Rakyat, 25 Januari 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hamdan Zoelva Siap Pimpin Syarikat Islam

BANDUNG, (PR).- Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Hamdan Zoelva (53), dicalonkan sebagai ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam periode 2015-2020 dan diperkirakan akan melenggang dalam pemilihan yang akan digelar Kamis (26/11/2015) malam ini. Hamdan bertekad untuk menyatukan kembali kekuatan Syarikat Islam, memperbanyak kaderisasi, dan menggerakkan program umat terutama pemberdayaan ekonomi. "Insya Allah saya siap kalau diberi amanah menjadi ketua umum Lajnah Tanfiziah Syarikat Islam. Saya hanya berucap bismika tawwakkaltu Alalloh laa hawla walaa quwwata illa billaah ," kata Hamdan saat pelaksanaan Majelis Tahkim ke-40 Syarikat Islam di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (25/11/2015). Ia didampingi Wakil Ketua DPW Syarikat Islam Jabar, Adam Anhari. Hamdan mengaku tak terlalu sibuk lagi setelah tidak mengomandani Mahkamah Konstitusi sehingga ingin mewakafkan sisa usianya. "Saya kini hanya menjadi dosen di Unpad, Unhas Makassar, Universitas Muh...

Palagan Bojongkokosan, 9 Desember 1945

Adang S Mantan Prajurit Yon 330/Kujang I Siliwangi  Pupuhu Caraka Sundanologi E DDI Soekardi, Komandan Resimen Tentara Keamanan Rakyat Wilayah Sukabumi yang masih bujangan itu tidak mau melihat iring-iringan kendaraan tentara Sekutu yang sering melewati kampung halamannya. Ia yang baru berusia 29 tahun itu pun merasa tersinggung, bahkan merasa dikhianati karena pihak Sekutu yang unggul dalam Perang Dunia II telah melanggar janji. Oleh karena itu, pejuang yang dikenal pemberani itu merencanakan untuk menghadang sekaligus menghancurkan iring-iringan kendaraan yang jumlahnya sudah diketahui; tidak kurang dari 150 unit. Alasan lain yang membuat sang komandan benar-benar nekat karena iring-iringan kendaraan yang bergerak dari Jakarta menuju Bandung lewat Sukabumi itu telah dimanfaatkan pihak penjajah Belanda. Meskipun di tahun 1945 dulu belum ada istilah "kesempatan dalam kesempitan", kenyataannya memang demikian. Penjajah Belanda yang ingin kembali menguasai Kota Bandung itu memb...

Masjid Indonesia, Perkawinan Budaya yang Kaya Raya

Aku diberitahu tentang sebuah mesjid yang tiang-tiangnya dari pepohonan di hutan  fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan digosok topan kutub utara dan selatan Aku rindu dan mengembara mencarinya DEMIKIANLAH penggalan bait pertama sajak Mencari Sebuah Mesjid yang ditulis penyair Taufik Ismail. Sajak yang keseluruhannya cukup panjang ini, dalam bentuknya yang besar ikut dipajang di salah satu pojok arena pameran Festival Istiqlal 1991. Setiap hari, banyaklah pengunjung yang ikut membacanya. Bahkan siswa-siswi SMP dan SMA rela duduk beralas karpet di hadapan sajak itu, untuk menyalinnya sampai habis. Tak salah jika dikatakan, "stand" sajak Taufik Ismail ini merupakan salah satu dari sekian banyak stand di arena pameran itu yang mendapatkan perhatian berlimpah dari pengunjung. Bait-bait sajak nan indah dan syahdu ini, seakan ingin memperlengkap koleksi benda-benda Islami yang dipamerkan pada pe...

Mengenang Peristiwa Bandung Lautan Api: Heroisme antara Tegallega dan Rel KA

TULANG  jemari terbungkus kulit keriput itu mencengkeram erat besi pegangan gerobak sampah. Bahunya yang tipis tampak melengkung, tertarik kuat tali pengikat gerobak. Langkah dan nafasnya terasa berat, menapaki Jl. Mohammad Toha, Tegallega, yang Sabtu sore kemarin (23/3), basah diguyur hujan. Beban sampah yang dibawanya, seakan tak sepadan dengan sosok tua yang kurus kering. Elan (60), sosok tua itu, sejenak memalingkan pandangannya pada sederet kata-kata dalam spanduk yang terpancang depan Markas Hubdam III/Siliwangi, "Markas Batalyon II Resimen 8 Divisi III Siliwangi Tahun 1946 - Panitia BLA 1996", demikian bunyi tulisan itu. Kawasan Tegallega jika dibalik ke masa 1946, adalah sejarah heroik ketika Tentara Republik Indonesia (TRI) bersama ratusan ribu warga Bandung, mempertahankan kemerdekaan. Pada 21 Maret 1946, kawasan itu sempat dibombarder tentara Sekutu. Akan tetapi secara kebetulan, kedudukan Batalyon II TRI (Sumarsono) di sana, tengah memperkuat posisi perte...

Manunggaling Kawula Lan Gusti: Ajaran Syech Siti Jenar yang Ditentang Wali Songo

Oleh: MUHAMMAD RIDLO 'EISY "KULONUWUN  (permisi), adakah Syech Siti Jenar. Beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Syech Siti Jenar tidak ada, yang ada Tuhan," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan kemari," kata Sultan Demak. Utusan kembali ke tempat Syech Siti Jenar. (Dalam sebagian kisah rakyat, yang memanggil Syech Siti Jenar bukan Sultan Demak, tetapi Sunan Kudus.) "Kulonuwun, adakah Tuhan, beliau dipanggil Sultan Demak," ucap utusan Sultan Demak kepada Syech Siti Jenar. "Tuhan tidak ada, yang ada Syech Siti Jenar," kata Syech Siti Jenar. Utusan kembali ke Demak dan melaporkan percakapannya kepada Sultan Demak. "Panggil Tuhan dan Syech Siti Jenar kemari," kata Sultan Demak. Setelah dipanggil atas nama Tuhan dan Syech Siti Jenar maka berangkatlah Syech Siti Jenar menghadap Sul...

Ziarah ke Musoleum Imam Syafe'i

SALAH seorang imam dalam Islam, adalah Imam Syafe'i. Imam Syafe'i termasuk pendiri dari salah satu empat mazhab dalam Islam, yaitu Sunni. Tiga mazhab lainnya adalah Hanafi, Hambali, dan Maliki. Beberapa ulama sekarang mengakui Syiah sebagai mazhab kelima. Imam Syafe'i yang dilahirkan pada 150 H di Gaza dan meninggal pada 204 H, tepatnya 19 Januari 820 M di Mesir, memiliki garis keturunan langsung dengan paman Nabi Muhammad SAW, yaitu Abu Thalib. Kendati usianya relatif pendek, hanya sekitar 50 tahun, ia adalah ilmuwan besar yang membuat sejarah dengan karya-karyanya yang besar. Ia tercatat sebagai pencetus pertama ilmu ushul fikih (ilmu cara mengeluarkan hukum) dan Ar Risalah (Missi) adalah kitabnya yang sangat terkenal dalam bidang ushul fikih. Syafe'i mengisi hidupnya dengan pemgembaraan, menimba ilmu pertama di Mekkah, kemudian belajar hadits dari Imam Malik di Madinah, lalu belajar hukum di Baghdad (Irak), kemudian pergi ke Yaman untuk menimba ilmu. Lalu ia kembali ...

Museum Sumpah Pemuda: Pernah Menjadi Hotel dan Toko Bunga

S uasana di gedung tua yang terletak di Jalan Kramat Raya 106 itu nyaris hening. Meski di depannya, hilir mudik kendaraan yang melintasi Jalan Kramat Raya tak henti-hentinya mengeluarkan suara raungan. Keramaian di jalan utama ibu kota itu seakan tak mampu menghidupkan suasana dalam gedung. Padahal sekitar 73 tahun yang lalu, di gedung ini pernah terjadi kesibukan yang menjadi tonggak penting bagi berdirinya negara Indonesia. Di tempat inilah para pemuda dari berbagai daerah memekikkan perlunya satu nusa, satu bahasa, dan satu bangsa. Namun kini gedung yang telah menjadi Museum Sumpah Pemuda (MSP) seakan menjadi saksi bisu bagi perjalanan bangsa Indonesia. Suasana hening dan sepi semakin meneguhkan gedung yang memiliki total luas 1.284 m2 ini sebagai bangunan bersejarah. Gedung tua ini memang sarat catatan sejarah. Sebelum diresmikan sebagai Museum Sumpah Pemuda tahun 1971, gedung ini sempat mengalami pemugaran. Pemugaran ini ditanggung oleh pihak pemerintah DKI Jakarta dan diresmikan ...