Langsung ke konten utama

Para Pemuda Tewas Bergelimpangan di Tugu Muda

Dilihat sepintas, bangunan kokoh berkubang air kolam itu terkesan biasa. Tetapi bagi saksi sejarah, lama mengamati beton menjulang bernama Tugu Muda Semarang itu, dipastikan mampu meneteskan air mata.

Pertempuran lima hari tak akan lepas dari ingatan warga Semarang. Informasi berbagai sumber termasuk dari Humas Kodya Semarang menyebut, peristiwa heroik 14 - 18 Oktober 1945 itu bermula saat tentara Jepang menyerang 8 polisi istimewa penjaga tandon air di Jalan Wungkal, Semarang. Tentara Jepang dikabarkan meracuni penampungan air tersebut. Masyarakat resah, ternak dan binatang piaraan dijadikan kelinci percobaan sebelum air ledeng dikonsumsi.

Merasa bertanggung jawab, Dr Karyadi, pimpinan Laboratorium RS Purusara Semarang nekat mengecek kabar yang mencemaskan tersebut langsung ke sumbernya. Lelaki muda itu tak peduli gentingnya situasi, terlebih mengingat tembak-menembak baru berakhir tiga jam sebelumnya. Tuhan memang sudah berkehendak, Dr Karyadi yang namanya diabadikan menjadi nama RS tempatnya bekerja itu tewas diberondong Jepang sebelum tiba di lokasi.

Selang dua jam, di tempat lain tahanan Jepang menyerang dan melarikan diri dari penjagaan politisi istimewa. Mereka berusaha mencapai perlindungan di markas Kidobutai Jatingaleh. Pemuda di markas Bojong 85 segera mengontak markas BKR seluruh Kota Semarang untuk melakukan pengejaran. Peristiwa heroik mulai berkobar.

Keesokan harinya sekitar pukul 03.00 WIB terbetik kabar Mayjen Nakamura tertawan pemuda Republik di Magelang. Sementara, sisa tahanan di sekolah pelayaran yang meloloskan diri berhasil mencapai markas Kidobutai Jatingaleh. Berdalih menyelamatkan orang-orang Jepang di Semarang dan membalas penangkapan Nakamura, Mayor Kido menghimpun 1000 tentara Jepang bersenjata lengkap melakukan penyerangan ke pusat kota.

Singkat cerita, pemerintah Indonesia tak pernah menduga munculnya penyerangan mendadak. Walau demikian, mobilisasi pasukan Jepang ke jantung kota selalu mendapat perlawanan seadanya dari para pemuda, BKR, dan polisi di sepanjang perjalanan. Tanpa kesulitan, mereka menguasai kawasan Tugu Muda. Orang Jepang yang dirasuk amarah itu melakukan pembantaian, kekejian, menyiksa dan membunuh pemuda Republik yang tertangkap. Kawasan Tugu Muda bersimbah darah. Menurut saksi mata, Mugiyono (71), ratusan mayat dengan luka mengerikan bergelimpangan di sana-sini. Melihat kenyataan itu, pemuda pejuang kita naik pitam. Mereka balas memberondong habis tahanan Jepang di Penjara Bulu.

Aksi orang Jepang dilanjutkan dengan menyerang pemuda di Lawang Sewu dan Rumah Gubernur. Korban pun berguguran di kedua pihak. Mereka menahan Gubernur Wongsonegoro dan keluarganya ke Jatingaleh, Semarang selatan. Tentara Jepang berhasil menduduki tempat-tempat penting, misalnya kantor telepon candi, pos polisi Bangkong termasuk sekolah MULO. Mereka juga memboyong Pimpinan RS Purusara (sekarang RS Dokter Karyadi), dr Soekaryo, Komandan Kompi BKR Sodanco Mirza Sidarta, dan lain-lain. Tetapi, niat menyerbu rumah penjara Mlaten untuk membebaskan tawanan Jepang mendapat perlawanan seru dari BKR.

Peristiwa Semarang mengundang simpati pasukan dari wilayah lain. Bantuan prajurit berbagai daerah mulai berdatangan dan langsung terlibat pertempuran. Mereka memutus listrik, saluran air, dan telepon ke arah markas Jepang. Kekuatan menjadi berimbang. Sementara beberapa kekuatan pelajar belum seluruhnya dikerahkan. Yustianus Bohang (66) yang dulu menjadi anggota Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) wilayah Cepu mengaku sudah siap diberangkatkan, tapi karena kekuatan dirasa cukup, mereka urung berangkat, meski demikian mereka diharap bersiaga penuh.

Sementara saksi Heru Himawan menuturkan, ketika diajak patroli salah seorang rekan, ia menjumpai banyak pemuda beristirahat di halaman Sekolah Xaverius di Jalan Karenweg (sekarang Jalan Dr Cipto). Warga Jalan Wilis Semarang itu ditanya pemuda yang datang dari luar Semarang tersebut, apakah dirinya mempunyai peluru untuk senjata mereka. Himawan keheranan dan mempertanyakan peluru-peluru di tempat istirahat darurat tersebut. Belakangan terungkap, semua kaliber peluru terlalu besar untuk dipasangkan pada senjata yang dimiliki para pemuda.

Pertempuran pada hari ketiga makin berkobar. Jepang membagi kekuatan dalam dua kelompok. Tetapi taktik serangan gerilya yang menghindarkan serangan frontal dan terbuka sangat merepotkan dan melelahkan pasukan Jepang. Masyarakat sekitar lokasi peperangan turut bergerak dengan inisiatif sendiri-sendiri, mereka bangkit menyerang tetapi langsung menghilang. Pasukan tiban ini sulit diatur dalam satu komando dan terus bergerak bebas ke segala penjuru kota.

Selanjutnya, Pemuda Indonesia mengadakan pembersihan terhadap kaki tangan Belanda dan Jepang. Pada saat bersamaan pasukan Jepang juga beraksi di RS Purusara. Dua mayat Jepang ditemukan dalam penggeledahan sehingga emosi kembali memuncak. Beberapa pemuda yang dicurigai langsung disiksa dan dibunuh. Aktivitas RS menjadi goncang.

Banyak pegawai tak berani bekerja sehingga rumah sakit kekurangan tenaga medis, sementara korban pertempuran dari berbagai penjuru terus mengalir. Ruangan penuh pemuda yang mengalami luka-luka. Jenazah pemuda belum terkubur, berjejalan di kamar mayat. Serangan membabi buta pasukan Jepang menyebabkan petugas PMI tak bisa bergerak leluasa untuk menolong korban pertempuran.

Sementara, dapur umum di Hotel Du Pavillon (sekarang Dibya Puri) mulai kekurangan bahan makanan. Rakyat bergotong royong dengan kesadaran sendiri menghimpun bahan makanan meski mereka sendiri mulai kekurangan.

Di tengah dahsyatnya pertempuran, 15 anggota BKR dan AMRI menyusup mengambil alih penjagaan Penjara Bulu yang merupakan tempat tawanan tentara Jepang dan Belanda. Situasi makin genting, para pemuda menghubungi Walikota Semarangg Mr Kuncoro minta pertimbangan masalah penjara. Kewenangan menyelesaikan sendiri semua persoalan penjara oleh Kuncoro, ditindaklanjuti dengan membabat habis semua tawanan Jepang dan membebaskan tawanan orang Indonesia. Mobilitas pasukan Jepang waktu itu agak terhambat karena menipisnya persediaan bahan bakar. Pengiriman suplai terhambat akibat pemblokiran oleh sekelompok pemuda di beberapa jalan vital. Di sisi lain, siasat gerilya telah memaksa Jepang tak menggunakan senjata berat agar korban kalangan rakyat tidak berjatuhan. Pertempuran hari keempat juga menelan korban jiwa tak sedikit.

Sementara, jatuhnya beberapa pertahanan BKR dan pemuda mengakibatkan posisi pemuda terpencar tanpa koordinasi, karena beberapa pimpinan banyak yang gugur atau tertangkap. Berbagai penyerangan bersifat sporadis tak banyak membuahkan hasil. Syukurlah, bantuan pasukan wilayah lain mulai memasuki Semarang.

Pasukan gabungan dikoordinir melakukan penyerangan bersama. Sebelumnya, tanpa menimbulkan kecurigaan, penduduk wanita dan anak-anak diungsikan ke Demak, Kudus, dan tempat aman lainnya. Mereka berharap penyerangan nantinya lebih leluasa tanpa menghiraukan korban dari kalangan rakyat.

Pertempuran berkecamuk hingga tengah malam. Pasukan gabungan merebut pertahanan Jepang dan menutup garis suplainya, sehingga mereka kekurangan bahan pangan. Jepang di Semarang makin kritis. Untuk menyelamatkan pasukannya, Gubernur Wongsonegoro yang berstatus tawanan Jepang dibawa ke beberapa tempat bekas pertempuran menyaksikan korban dari kalangan rakyat. Gubernur didesak untuk menghentikan pertempuran. Gubernur Wongsonegoro sepakat menghentikan pertempuran dengan pertimbangan dampak peperangan, di samping tujuan utama menghadapi tentara Belanda yang membonceng sekutu ke Semarang.

Tugu Muda Semarang terus membisu, termasuk ketiika pemerintah mengkilas balik sejarahnya tiap tahun. Tetapi semangat juang para pahlawan pasca kemerdekaan terus menggelora. Bayang gelimang pemuda mati kembali terlihat. (Andira/Petrus)



Sumber: Suara Karya, 9 November 1996



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Peristiwa Surabaya 40 Tahun Lalu: Bagaimana Brigjen Mallaby Terbunuh?

Hari itu, Selasa 30 November 1945. Hari menapak senja. Suasana di depan Gedung Internatio, Surabaya, tegang. Tiba-tiba meriam Inggris dari jendela gedung memuntahkan tembakan membabi-buta ke arah rakyat yang tengah berkerumun. Soengkono  salah seorang anggota Kontak Biro, meloncat ke kolong mobil merek Chysler yang ditumpangi Brigjen Mallaby. Sambil mengendap-endap, ia menyaksikan komandan Pasukan Sekutu di Surabaya itu didorong-dorong dengan bayonet dan bambu runcing oleh para pemuda pejuang Surabaya sampai masuk ke mobil. Saat itu jarum jam menunjuk pukul 17.00 petang. "Dari bawah mobil saya dengar Mallaby merintih. Sekitar pukul 19.00 rintihan terhenti. Saya kira di waktu itulah dia meninggal," tutur Soengkono (alm), seperti dituturkan kembali oleh istrinya , Ny Isbandiah , kepada seorang wartawan. Itu satu versi cerita sekitar terbunuhnya Brigjen Mallaby, komandan Brigjen ke-49, yang mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Sampai kini, peristiwa tewasnya Jenderal Inggr...

100 Tahun Nasionalisme Bangsa

I STILAH ' kebangkitan nasional' dipopulerkan Perdana Menteri Hatta 1948. Saat itu, negeri Indonesia masih diwarnai perang kemerdekaan, ketika situasi politik bergejolak hebat. Melihat kondisi tersebut, Soewardi Sorjaningrat (Ki Hajar Dewantoro) dan Dr. Rajiman Wediodiningrat mengusulkan kepada Presiden Soekarno, Perdana Menteri Hatta, serta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Ali Sastroamijoyo untuk memperingati kebangunan nasional melalui berdirinya perkumpulan Boedi Oetomo. Perkumpulan yang didirikan 20 Mei 1908 tersebut, dianggap bisa mengingatkan semua orang bahwa persatuan bangsa Indonesia sebenarnya sudah dicanangkan sejak lama. Usulan tersebut kemudian disetujui pemerintah Republik Indonesia dengan melaksanakan Peringatan Kebangunan Nasional yang ke-40 di Yogyakarta. Namun, diperingatinya pendirian perkumpulan Boedi Oetomo sebagai Hari Kebangkitan Nasional sempat menjadi perdebatan tokoh-tokoh nasional saat itu. Menurut Guru Besar Sejarah Unpad Prof. Dr. Hj. Nina Herlina ...

Masih Perlukah Harkitnas

Ahmad Mansur Suryanegara Sejarawan Muslim Tinggal di Bandung HARI Kebangkitan Nasional (Harkitnas), 20 Mei, sebagai produk keputusan Kabinet Mohammad Hatta (1948). Didasarkan 20 Mei 1908 sebagai Hari Jadi Boedi Oetomo (BO). T ERNYATA  keputusan politik ini sangat bertentangan dengan realitas sejarahnya. BO yang didirikan (1908) oleh Soetomo ketika masih siswa Stovia. BO juga dibubarkan oleh dr Soetomo (1931). BO sebagai gerakan eksklusif priyayi Jawa, aksi dan pemikirannya melawan arus gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942). Tidak hanya saat didirikannya, tetapi juga ketika BO telah berusia 20 tahun. Dalam kongresnya di Surakarta (1928), menurut AK Pringgodigdo dalam Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia , tetap menolak pelaksanaan cita-cita persatuan nasional Indonesia, yang diperjuangkan oleh Jong Islamieten Bond-JIB (1925). BO dibubarkan sendiri oleh dr Soetomo. Berubah menjadi Persatoean Bangsa Indonesia (PBI), dan berubah lagi menjadi Partai Indonesia Raja (Parindra...

Langgar Bubrah, Sebuah Akulturasi Hindu-Islam

Furqon Ulya Himawan   Tak hanya Menara Kudus. Ada bukti lain akulturasi budaya Hindu dan Islam di Kudus, dan lebih dahulu berdiri. L ANGGAR Bubrah namanya. Langgar adalah sebuah tempat ibadah umat Islam seperti masjid, tetapi bangunannya lebih kecil sehingga orang Jawa menyebutnya langgar. Mirip dengan Menara Kudus, bangunannya terdiri dari tumpukan batu bata merah yang tertata. Namun, karena tidak utuh atau hancur, sehingga dinamakan bubrah atau hancur. Langgar tersebut terletak di desa dan di tengah-tengah rumah warga. Tepatnya di Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 8,74x8,40 meter itu memiliki panjang 6,30 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 2,75 meter. Adapun luas bangunannya sekitar 37,80 m2. Pada abad ke-15 Masehi, tepatnya 1546, sebelum Menara Kudus berdiri, para ulama di Kudus terlebih dahulu membangun sebuah bangunan yang difungsikan sebagai masjid. Menurut Zaimul Azzah, arkeolog Islam dari Ba...

Jembatan Merah, Nyaris Hilang dari Pandangan

N ILAI kepahlawanan tercermin jelas dalam peperangan pada tanggal 10 November 1945 di seputar Jembatan Merah dan Tanjung Perak, Surabaya. Para pejuang Indonesia di bawah komando Bung Tomo begitu gigih dalam pertempuran melawan pasukan Inggris, yang membonceng Sekutu. Karena itulah momentum 10 November dijadikan sebagai Hari Pahlawan dan diperingati hingga sekarang. Peristiwa pertempuran "Arek-arek Soeroboyo" melawan pasukan Inggris, memang demikian dahsyat dan mendebarkan. Karena itu pemerintah Inggris bahkan mengakui, betapa heroiknya para pejuang Indonesia yang terjun dalam pertempuran tersebut. Para pejuang Indonesia tanpa rasa takut terus maju menggempur musuh, sehingga pasukan musuh yang sebetulnya memiliki persenjataan lebih canggih keder juga. Berdasarkan catatan prajurit Inggris, Mayor RB Houston dalam bukunya berjudul What Happened in Java , kiprah para pejuang Indonesia saat itu benar-benar memusingkan pasukan Inggris. Rakyat Indonesia hanya dapat diusir dari bumi S...

Jejak Kerajaan Pasai Ditemukan: Diduga Wilayah Agraris

LHOKSEUMAWE, KOMPAS -- Ada titik terang terkait jejak Kerajaan Samudra Pasai. Tim peneliti setempat menemukan bukti penting berupa makam kuno dan stempel kerajaan. Temuan baru ini memperkaya bukti jejak kerajaan yang berdiri di pesisir timur Sumatera pada abad ke-13 itu. "Bukti sejarah Kerajaan Pasai itu terkonsentrasi di empat gampong (desa) di Kecamatan Samudra, Kabupaten Aceh Timur. Sebagian besar dalam kondisi telantar. Oleh karena itu, pemerintah harus melindungi agar tidak hilang," kata Ketua Yayasan Waqaf Nurul Islam Tengku Taqiyudin Muhammad, di Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam, Sabtu (21/3). Taqiyudin menduga empat gampong, yaitu Kuta Krueng, Beuringen, Blang Mee, dan Keude Geudong, di Kecamatan Samudra, merupakan pusat Kerajaan Pasai. Ribuan batu nisan di tempat ini memperkuat dugaan itu. "Di antara batu nisan yang kami temukan ada yang lebih tua dari batu nisan yang pernah ditulis oleh sumber sejarah," tutur Taqiyudin, alumnus Universitas Al Azhar Ca...

Peristiwa Sejarah 30 September 1948: Pasukan Siliwangi Merebut Madiun

Oleh H. Sani L. Abdurahman MELETUSNYA perang dunia ke-II (PD II) di kawasan Asia Pasifik pada 7 Desember 1941, dimulai dengan serbuan mendadak berupa serangan dari udara oleh Angkatan Udara Jepang untuk melumpuhkan/menghancurkan Armada Laut Amerika yang berpangkal di Pelabuhan Teluk Mutiara Kepulauan Hawaii. Penyerbuan ini, sebagai awal ofensif Jepang untuk serentak menyerbu ke wilayah Asia Selatan (ASEAN) sesuai dengan rencana operasinya (Konsep Perang Kilat), yang didukung oleh keunggulan di udara dan laut dengan menginzet empat kesatuan Army Group, antara lain kesatuan Army ke-16 pimpinan Letnan Jenderal Imamura Hitoshi yang menyerbu dan mendarat di Pulau Jawa, berakhir dengan penyerahan Pemerintahan Hindia Belanda pada 8 Maret 1942 di lapangan udara Kalijati, Subang. Masa periode pendudukan tentara Jepang selama 3,5 tahun (1.264 hari), merupakan peluang bagi bangsa Indonesia yang sejak perjuangan selama 350 tahun mendambakan mendapatkan latihan keterampilan keprajuritan, sebagai pa...