Langsung ke konten utama

Kisah-kisah Perjuangan: Mencari Bambu Runcing Sakti Parakan

Oleh Moh Hari Soewarno

Ketika proklamasi kemerdekaan dikumandangkan di Jakarta, 17 Agustus 1945, semua orang menyambut gembira. Mereka merasa sudah terbebas dari penjajahan Belanda dan Jepang. Namun perasaan merdeka itu segera terusik. Ketika terdengar lewat radio, bahwa pasukan Sekutu (Inggris) tiba di Surabaya yang diboncengi pasukan Belanda, kita pun rasanya cukup khawatir, namun tetap tegar akan mempertahankan kemerdekaannya.

Ketika itu saya sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sekolah tertinggi di kabupaten-kabupaten. Sekolah saat itu juga merupakan pelopor perjuangan, tentu saja bersama Tentara Rakyat (TRI) yang sebelumnya dikenal sebagai Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) bentukan Urip Soemoharjo yang meminta Bung Karno-Hatta agar segera disusul pembentukan pasukan perlawanan terhadap musuh yang sudah mulai membahayakan kemerdekaan kita yang baru saja diproklamasikan.

Di sekolah kita memperoleh buku tipis dari kertas merang yang berisi ramalan Jayabaya. Katanya, Jayabaya berarti zaman sudah jaya (memperoleh kemenangan/kemerdekaan) namun masih berbahaya karena mulut buaya (Belanda) mulai menganga hendak mencaplok kembali wilayah yang dulu disebut Hindia Belanda (sebelum 1942).

Dalam buku tipis itu diungkapkan gejala yang mengandung teka-teki, karena sifatnya sindiran belaka. Di antaranyya mengatakan: "Mbok Rondho kelangan Kisa, isine gula-klapa" (Sang Janda (- Ratu Wilhelmina) kehilangan kisa (wadah), isinya gula kelapa.)

Yang dimaksudkan dengan Sang Janda kiranya identik dengan Ratu Belanda, Wilhelmina, yang pada masa Perang Dunia II negeri Belanda dijajah Jerman, lalu mengungsi ke Inggris. Juga wilayah jajahannya yang disebut Hindia Belanda (Indonesia) telah dicaplok Jepang (1942), praktis Belanda mulai saat itu kehilangan wadah (kisa). Wadah ini berisi Gula-Klapa (Merah Putih), karena sudah sejak HOS Tjokroaminoto (1917) menuntut kemerdekaan Indonesia, bahkan sudah disanggupi oleh Gubernur Jenderal Limburg Stirum sejak meletusnya Perang Dunia I (1914-1918). Tetapi belakangan Belanda ingkar janji, sehingga usai Perang Dunia I kaum pergerakan makin mekar bertambah dan makin santer mengumandangkan kemerdekaan Indodnesia itu. Sekurang-kurangnya Hindia Belanda dituntut oleh kaum pergerakan politik agar diadakan parlemen di mana wakil-wakil rakyat bisa ikut berunding mempersiapkan kemerdekaan ini. Pergolakan dunia belum berhenti, bahkan timbul Perang Dunia II. Sejak inilah Belanda kehilangan Kisa (Indonesia) yang berbendera Gula-Klapa (Merah-Putih).

Setelah Perang Dunia II berakhir, dengan kemenangan Sekutu, Belanda merasa lega dan pasti bisa memperoleh bekas jajahannya lagi. Tiba-tiba Indonesia telah memproklamasikan negeri ini oleh wakil-wakil bangsa Sukarno-Hatta. Belanda kecelik. Secara hukum internasional perjuangan Sukarno-Hatta sudah sah. Masalahnya kini tinggal adu jotos. Siapa yang kuat pasti menang. Namun Sekutu (Inggris/AS) tidak menghendaki perang lagi, maka mau tak mau Belanda dipaksa untuk merundingkan masalahnya dengan wakil-wakil bangsa Indonesia, hingga timbul Perjanjian Linggarjati (14 Maret 1947). Di saat inilah kaum pejuang yang tidak kebagian senjata berusaha untuk memperoleh senjata apa pun wujudnya demi mempertahankan kemerdekaan.

Kabarnya di daerah Banyumas gudang senjata Jepang telah diserahkan kepada pasukan kita yang dipimpin oleh Pak Dirman sehingga pasukan kita cukup memiliki senjata baru dari gudang itu. Kaum pejuang yang berada di wilayah Jawa sebelah timur dan tengah lainnya berusaha ke sana, namun sudah habis dibagi-bagikan kepada pasukan kita yang terdekat dengan Banyumas. Isu tentang adanya senjata Jepang yang diserahkan kepada kita sudah habis, buntutnya terdengar lagi, arus orang pencari senjata supaya mengalihkan perjalanannya lewat kereta api bumel jurusan Keparakan, Temanggung. Di sana seorang Kiai Parakan dikenal sebagai kiai yang sakti. Doa-doanya yang ditiupkan ke air dalam botol yang kemudian disiramkan ke bambu runcing (geranggang) bisa dijadikan senjata pula melawan Belanda. Konon Belanda sangat takut bila menghadapi  barisan/-kelaskaran yang bersenjatakan bambu runcing ini. Para pemuda bersemangat mencari senjata ini ke Parakan. Di sana ternyata ribuan orang berjajar antre untuk mendapatkan bambu runcing sakti. Penulis bersama kakak dkk ikut berdesakan di atas gerbong kereta api ikut pergi ke Parakan untuk mendapatkan sebotol air dan bambu runcing yang sudah dimantra-mantrai Kiai Keparakan. Doanya dibaca terus-menerus sambil antre memperoleh bambu runcing Parakan ini.

Hasilnya, kita menjadi makin pemberani menghadapi musuh yang datang kemudian hari sampai menimbulkan perang kemerdekaan (clash pertama). Barisan Hizbullah banyak memiiliki granggang Parakan ini tentu saja diselipi satu dua senapan dan granat bikinan Bandung berani menghadapi pasukan Belanda dengan tank-tanknya. Kakak saya, Moh Maufur setelah clash kedua selesai melawan pasukan Front Demokrasi Rakyat (FDR/-PKI) di Madiun (Pacitan) ikut batalion Siliwangi hijrah ke Barat. Sampai di Kebumen (Desa Sumolangu) bergabung pasukan Kiai Sumolangu yang punya pasukan ribuan banyaknya dan sebagian besar bersenjatakan bambu runcing dari Parakan ini.

Mereka berani juga menghadang patroli-patroli Belanda, bahkan lebih berani ketimbang pasukan Batalion 'Kuda Putih' pimpinan Pak Sarbini (almarhum) yang memiliki senjata senapan lengkap. Kata kakak saya, "Pasukan Kuda Putih ini kalau bertempur melawan Belanda selalu berada di belakang pasukan Sumolangu." Tentu saja dengan senjata bambu runcing yang dibanggakan itu tidak berarti apa-apa menghadapi mitraliyur Belanda yang disapukan lewat di atas truk-truk Belanda. Banyak korban bergelimpangan, namun pasukan Kiai Sumolangu (AUI = Angkatan Ulama Indonesia) selalu tegar tak gentar sedikit pun. Sayangnya, pasukan AUI ini setelah Indonesia merdeka penuh (1950) terpaksa berontak melawan Pemerintah Natsir (kawan sendiri) yang mengadakan rasionalisasi tentara, melanjutkan program Kabinet Hatta (Februari 1948). Pasukan AUI tak mau diciutkan personilnya sesuai dengan senjata yang dimiliki.

Sebelum pemberontakan meletus, kakak saya dan rombongan dari Pacitan yang mengikuti jejak Kiai Khabib Dimyati memilih pulang kembali ke Pacitan, mampir di Pondok Krapyak. Di saat ini pula saya ikut menyusul ke Yogyakarta meneruskan belajar lagi di SMP II Negeri. Tidak lama lagi pindah ke Surakarta, karena di Sala telah dibuka SMP Negeri No 6 Sala, khusus untuk menampung pelajar-pelajar pejuang hingga tahun 1952 baru kembali lagi ke Yogyakarta meneruskan SMA di sana (hingga 1955).

Kisah perjuangan penulis sendiri akan diungkapkan lagi dalam bab-bab yang lain sejak peristiwa-peristiwa diculiknya Syahrir, Tan Malaka, terbunuhnya Kolonel Sutarto, dan diculiknya Dr Muwardi yang mempunyai laskar Barisan Banteng, terbesar di Surakarta dan cukup mengimbangi kelaskaran Front Demorasi Rakyatnya PKI di samping pasukan TP Brigade XVII pimpinan Mayor Achmadi di Sala yang saya pun ikut bergabung di dalamnya. Meskipun saya merasa ikut andil dalam perang kemerdekaan, namun setelah kembali bersekolah lagi, kita pun tidak ikut meminta-minta didaftarkan memperoleh uang santunan yang berasal dari Pemerintah sebagai ganti masa bakti dalam perjuangan dahulu. 

Uang KUDP namanya, yakni singkatan dari Kantor Urusan Demobilisan Pelajar.

Kita merasa tak perlu memperoleh Uang KUDP itu, karena sejak awal kita berjuang tidak mengharap-harapkan tunjangan KUDP itu: "Sudah selesai perang ya sudah, kita kembali belajar lagi." Begitu sikap saya dan tidak latah ikut mendaftarkan diri untuk memperoleh uang KUDP tersebut. Tapi kemudian ndongkol juga ketika tahu ada anak yang tidak pernah ikut berjuang, malahan di kemudian hari (setelah tahun 1950) ikut memperoleh uang KUDP. Ya biarlah! Tokh kita ikhlas. Ayah saya masih bisa membiayai anak-anaknya yang kembali bersekolah lagi. ***



Sumber: Suara Karya, 10 April 1995



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pantulan Historis Perjalanan Bangsa (1/2)

TAUFIK ABDULLAH . Ahli Peneliti Utama PMB-LIPI. Memperoleh gelar Ph.D. dari Cornell University, Ithaca, dengan disertasi berjudul School and Politics: The Kaum Muda Movement in West Sumatra (1970). Bukunya, antara lain Sejarah Lokal di Indonesia, Islam di Indonesia , dan Trends and Perspective of Social Science in Indonesia  (Ed.). Proklamasi membedakan dengan tajam antara pahlawan dan pengkhianat. Mengapa sejarah mengagung-agungkan seorang tokoh dan seakan-akan membunuh tokoh lain? Betulkah sejarah itu tidak adil? Dari sejarah ke mitos B ARANGKALI benar juga "sejarah" itu tidak adil. Mengapa sejarah mencatat suatu peristiwa atau mengagung-agungkan seorang tokoh, tetapi melupakan peristiwa lain dan seakan-akan "membunuh" tokoh lain? Tapi, kalau dipikir-pikir, bukankah sejarah, sebagai milik masyarakat (bukannya milik para sejarawan yang sibuk membongkar-bongkar hal yang terlupakan), tak lebih daripada ingatan kolektif? Ingatan memang bersifat selektif, dan kadang-ka...

Hari-hari di Bawah Tanah Menjelang Proklamasi (3/3)

Sebagai jawaban, Supeno bertanya, apa yang akan terjadi bila rencana gagal. Subardjo menjawab, "Bila segalanya gagal, saya bertanggung jawab penuh. Bung bahkan boleh menembak saya bila itu sampai terjadi." Baru setelah Subardjo mengatakan hal itu, ia diperkenankan bertemu dengan Soekarno dan Hatta. Subardjo bergegas mengajak mereka berdua ke mobil, lalu mereka tancap ke Jakarta.  Dengan tidak sabar saya menunggu kedatangan Subardjo di tempat kediaman Maeda. Hari sudah pukul 11.00 malam. Dan sangat gelap. Seorang perwira Jepang sedang menebasi pohon wijen dengan samurainya, melampiaskan kekecewaan akibat menyerahnya Jepang. Jepang telah menganjurkan menanam pohon wijen untuk diambil minyaknya, sehingga di Jawa tanaman ini ditemukan di mana-mana. Seorang Kempei berdiri di bawah sebatang pohon menjaga tempat kediaman ini--mungkin menyangka akan terjadi huru-hara. Saya mendengar kemudan bahwa Nakatami Yoshio, penerjemah Angkatan Darat, juga menjaga rumah ini dari samping gedung. ...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

JEJAK NASIONALISME BANDA (2) Kisah Perdagangan Rempah-rempah di Banda

S ampan kecil alias kole-kole  dengan dinding kapal nyaris menyentuh permukaan air laut dikayuh perlahan di tepi pantai Pulau Neira, Kepulauan Banda Neira, Provinsi Maluku. Suasana senyap. Sesekali terdengar senda gurau anak-anak di tepi pantai. Di sisi lain bola dunia, "saudara Kepulauan Banda", yakni kota New York, Amerika Serikat, sepanjang hari sibuk dipenuhi manusia dan kendaraan yang lalu lalang. Pada tahun 1600-an, Kepulauan Banda dan wilayah yang kini disebut kota New York pernah dipersatukan oleh ikatan sejarah perebutan rempah pala antara Inggris dan Belanda. Koloni Nieuw Amsterdam dan Pulau Manhattan dan Pulau Run di Banda menjadi obyek Perjanjian Breda tahun 1667 antara Inggris dan Belanda. Memang ironis. Pada saat Belanda memperoleh Pulau Run dari Inggris kelihatannya mereka untung secara finansial. Harga satu genggam pala ketika itu senilai dengan satu genggam emas dengan bobot sama! "Inggris sepertinya merugi dengan menerima Pulau Manhattan dan Nieuw Amste...

Masjid-masjid Tua di Pecinan

Oleh Alwi Shahab G lodok atawa Pecinan bukan hanya jadi kawasan dagang, tapi di antara bangunan bersejarah dan berusia ratusan tahun juga terdapat area agamis. Kawasan Jakarta yang menjadi pusat perdagangan dan bisnis di pecinan yang konon pada 1960-an menjadi tempat perputaran sekitar 70 persen uang di Indonesia ini juga memiliki belasan masjid yang usinya tidak kalah dengan kota tua itu sendiri. Berdekatan dengan pusat bisnis yang hiruk pikuk di China Town itu, di belakang Pasar Pagi terdapat masjid kecil. Masjid bernama Al-Anshor ini, menurut salah seorang pengurusnya, dibangun 355 tahun lalu (1648). Menurut keterangan masjid ini didirikan para pendatang India dari Malabar. Sebagaimana masjid-masjid tua di DKI, setelah mengalami renovasi biasanya gaya lamanya menghilang atau agak hilang. Untungnya empat buah tiang penyangga masjid Al-Anshor ini masih utuh, sekalipun telah berusia 3 1/2 abad. Masjid yang dulu di sekitarnya terdapat pemakaman umum itu kini menyatu dengan rumah-rumah p...

Kepiawaiannya Membuat Sunan Kudus Jadi Idola Kaum Muda

S elain dikenal sebagai tokoh penyebar Islam di daerah pesisir utara Jawa, Sunan Kudus juga merupakan pujangga besar. Kepiawaiannya mengarang cerita-cerita yang sarat filsafat dan jiwa keagamaan, praktis membuat dia menjadi idola kaum muda kala itu. Gending maskumambang  dan mijil  merupakan dua buah ciptaannya yang melegenda hingga kini. Khusus dalam ilmu agama, Sunan Kudus yang bernama asli Ja'far Shodiq ini merupakan sosok paripurna. Dia sangat menguasai ilmu tauhid, ushul fiqh, hadist, tafsir, juga mantiq. Karena itu, di antara sembilan wali, Sunan Kudus dikenal sebagai waliyul ilmi. Sebagai ahli ilmu agama, Sunan Kudus memiliki begitu banyak murid dan kader yang terserak di berbagai pelosok daerah. Karena itu, hampir di setiap kampung di seputar Kudus kini terdapat makam murid Sunan Kudus yang turut berjasa dalam syiar Islam di Jawa pada tahap awal ini. Dalam melakukan syiar Islam, cara yang ditempuh Sunan Kudus sebenarnya tak banyak berbeda dengan wali-wali lain: m...

92 Tahun Syarikat Islam: Tonggak Kebangkitan Nasional yang Makin Terlupakan

Ketika Republika  menghubungi seorang kenalan di Banjarnegara, Jawa Tengah ihwal rencana meliput HUT ke-92 SI (Syarikat Islam) di Alun-alun "Kota Gilar-Gilar" ini, kawan itu justru keheranan. "Lho, masih hidup tho , Syarikat Islam? Saya kira sudah mati," ucapnya serius. Tentu itu pertanyaan yang menyiratkan kian kurang dikenalnya organisasi yang pernah mengharubirukan perpolitikan nasional zaman Hindia-Belanda. Pertanyaan serupa muncul pula dari sejumlah aktivis ormas Islam yang sempat ditemui Republika  dalam perjalanan ke kota itu. Agaknya, hanya di Banjarnegara lah SI punya pengaruh cukup besar. Ini diakui sejumlah fungsionaris DPP SI yang dikonfirmasi Republika  di sela-sela acara itu. Jumlah anggota SI sendiri, tutur Sekretaris Panitia Nasional ke-92 SI, H Barna Soemantri, kini sekitar 3,6 juta orang. Jumlah anggota yang relatif tak terlampau besar dibandingkan misalnya NU atau Muhammadiyah. Perhatian media massa juga tak banyak. HUT SI tingkat nasional yang di...