Langsung ke konten utama

R. Kotjosungkono, Satu-satunya Pemaraf Sumpah Pemuda yang Masih Hidup

Oleh: Drs. Suhadiyono

Pada tanggal 28 Oktober 1928 seorang pemuda yang bernama R. Kotjosungkono, ikut menentukan tonggak sejarah perjuangan pemuda Indonesia. Dia adalah seorang di antara pemuda yang lain ikut memaraf Naskah Sumpah Pemuda yang terkenal itu, dalam suatu Kongres Pemuda Indonesia yang kedua pada persidangan rapat yang ketiga (terakhir), di Gedung Indonesische Clubgebaouw (sekarang Gedung Sumpah Pemuda Jalan Kramat Raya 106) Jakarta.

Perlu diketahui, penyelenggara Kongres Pemuda tersebut adalah sembilan organisasi/perhimpunan pemuda yakni Jong Java, Jong Sumatra (Pemuda Sumatra), Pemuda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum Betawi, dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Masing-masing utusan dari organisasi pemuda itu (yang duduk di dalam Bestur Congres/panitia inti) membubuhkan paraf pada naskah Sumpah Pemuda, setelah isinya disetujui secara aklamasi oleh seluruh peserta Kongres.

Naskah Sumpah Pemuda itu sendiri adalah merupakan manifestasi pengakuan pemuda terhadap persatuan tumpah darah, persatuan bangsa dan persatuan bahasa yang satu; yang sebelumnya merupakan satu resolusi yang diajukan dalam forum kongres tersebut. Untuk itu penulis ingin mengemukakan sejauh mana peranan R. Kontjosungkono pada momentum bersejarah itu mengingat beliau satu-satunya yang masih hidup, di antara sembilan pemuda yang ikut memberi paraf pada Naskah Sumpah Pemuda pada hari Minggu malam tanggal 28 Oktober 1928. Di samping penulisan ini kami maksudkan dalam rangka menyongsong Hari Sumpah Pemuda/Pemuda yang ke-54 tanggal 28 Oktober 1982 mendatang.

PENGALAMANNYA DALAM PERGERAKAN PEMUDA SEBELUMNYA

Sebagai seorang putra Madura yang dilahirkan di Pamekasan tanggal 24 Oktober 1908 dari orang tuanya yang bernama R. Rio Danoko Sosro Danoe Koesoemo, R. Kotjosungkono sebagai orang Islam mempunyai prinsip bahwa: "Takdir Allah S.W.T. melakukan kehendaknya atas hambanya". Hal inilah yang tidak akan terlepas terhadap pengalaman dari perjuangannya khususnya dalam pergerakan pemuda di masa silam. Dia sekarang sudah berusia lanjut dan hidup bersama keluarganya di kampung Klampak, Parelegi, Purwodadi, Lawang, Jawa Timur, tetapi dalam mengisi sisa-sisa hidupnya beliau juga masih memancarkan perjuangan hidupnya dengan membuat penulisan-penulisan dan membaca buku-buku yang berbobot.

R. Kotjosungkono mulai ikut dalam dunia pergerakan pemuda sejak tahun 1925, dengan menjadi anggota Jong Java cabang Bandung, ketua ranting Kebon Jati. Ikut menulis di dalam majalah cabang Bandung dan ikut serta dalam Kongres Jong Java yang diadakan di Bandung 1925. Di sana mulai berkenalan dengan mahasiswa-mahasiswa Technische Hoogeschool (T. H.) dan atas anjuran Bung Sudjadi berkenalan dengan Bung Karno (Candidaat Ingeneur atau Insinyur). Hampir setiap minggu Bung Karno di rumahnya menerima R. Kontjosungkono sampai Bung Karno telah lulus ujian Insinyur. Bung Sudjadi sering kali memberi majalah Indonesia Merdeka kepadanya, yang berisi ide-ide tentang persatuan Indonesia.

Antara permulaan dan pertengahan tahun 1926, beliau masuk Nationale Padvinders Organisatie, suatu organisasi kepanduan yang didirikan oleh Mr. Soenario (sekarang masih hidup dan tinggal di Jl. Raden Saleh 22 Jakarta). Akhirnya berkenalan dengan Mr. Sartono, Mr. Iskaq Tjokrohadisoerjo, Mr. Boediarto, Dr. Samsi; yang membawa semangat dan prinsip-prinsip Perhimpunan Indonesia dari negeri Belanda ke Bandung. Tahun itu pula, R. Kotjosungkono mengambil inisiatif bersama mahasiswa Technische Hoogeschool bernama Soegiono, yang sama-sama dekat dengan Bung Karno, untuk mendirikan Jong Indonesia. Inisiatif mana disetujui dan disokong oleh mahasiswa-mahasiswa Technische Hoogeschool yaitu Soekamso, Soemantri, Soemono, Slamet, dan lain-lain; yang tidak puas dengan sifat-sifat kedaerahan. Soegiono kemudian melanjutkan propaganda di antara murid-murid sekolah A. M. S Bandung, yang mula-mula mendapat persetujuan dari Boediono, Sutan Sjahrir, Mulyadi, Soepangkat, dan lain-lain.

Sebelum ikut mengambil inisiatif tersebut, pada bulan Mei 1926 berkenalan dengan seorang yang selalu berpakaian adat Jawa sebagai murid A. M. S Bandung dan sebagai anggota Jong Java yang bernama Sigit (kemudian dikenal Prof. Abdullah Sigit). Sigit tidak senang juga dengan sifat kedaerahan dan setelah lulus dari A. M. S masuk ke Rechts Hooegeschool (R. H.) di Batavia (Jakarta). Di Recht Hoogeschool (sekolah tinggi hukum) inilah Sigit mendirikan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (P. P. P. I) atas dasar Indonesia Bersatu menuju ke Indonesia Merdeka, pada bulan September 1926.

Di Solo waktu itu ada gejala serupa. Pada Kongres Jong Java bulan Desember ada mahasiswa R. H. anggota P. P. P. I. yang juga selalu berpakaian adat Jawa (masih tetap menjadi anggota Jong Java dari mula) angkat bicara di atas mimbar Kongres (sebagai ketua) dengan melepaskan isi kalbunya: "Bukan selalu Jawa Raya yang menjadi tujuannya, tetapi cita-citanya ialah Indonesia Bersatu menuju ke Indonesia Merdeka".

Namanya yaitu R. T. Djaksodipoero yang kemudian terkenal dengan K. R. M. T. Mr. Wongsonegoro.

R. Kotjosungkono setelah ikut meresmikan berdirinya Jong Indonesia di bawah pimpinan Soegiono pada tahun 1927, yang kemudian membentuk cabang pertamanya tanggal 20 Pebruari 1927 dengan ketua Ongko G. dan mendirikan ranting Jong Indonesia di Kebon Jati dengan ketua rantingnya Soemantri Lang lalu pergi ke Solo untuk membuat persoonlijke propaganda terutama kepada murid-murid A.M.S di sana. Selanjutnya atas penugasan Ketua Soegiono, pada 9 Oktober 1927 ikut meresmikan berdirinya Jong Indonesia Cabang Surabaya, di sana bertemu dengan kawan lama Ir. Anwari (salah seorang pendiri P.N.I, yang sebelumnya mendapatkan Ir juga sebagai anggota Jong Indonesia).

Di Solo dapat didirikan cabang Jong Indonesia baru pada tanggal 31 Oktober 1927, atas persetujuan dari murid A.M.S asal Jawa Timur (Soepingi, Soediono, Soedargo), asal Aceh (Teuku Mohammad), asal Bagelen (Basoeki), dari Tanah Sunda (Soeweta), asal Minahasa (Sondakh) dan berkat kemurahan hati dari dua orang Danatrice (penyokong wanita) dari kalangan bangsawan Mangkunegaran.

Berdirinya Jong Indonesia yang mendahului P.N.I itu, sebenarnya harus ditinjau dalam hubungannya dengan Situasi Politik waktu itu. Untuk orang yang mengerti Jong Indonesia, adalah bukan organisasi muda-mudi biasa karena banyak elemen politiknya dari pada elemen relax-nya setelah bekerja keras di sekolah. Hal ini terbukti dari kongresnya yang diadakan pada tahun 1927 itu juga.

Sebelum R. Kontjosungkono pergi dari Bandung ke Solo, dia pernah diajak oleh Bung Karno (sebelum Bung Karno menjadi gurunya di sekolah (Douwes Dekker) untuk mengunjungi rapat permulaan (maksudnya mendirikan) Algemeene Studie Club Bandung, di mana beliau melihat dan mendengar untuk pertama kalinya Dr. Tjipto Mangoekosomo dan kemudian O.M.G Koch berbicara. Dirasakannya suasana rapat waktu itu, seperti Indische Partij-nya Doewes Dekker, Tjipto Mangoenkoesomo, dan Soewardi Soerjoningrat hidup kembali. Artinya seperti suasana yang diceritakan oleh ketiga kakak-kakaknya ketika Indische Partij sedang jaya, apalagi setelah seorang teman sekolah Bung Karno seorang peranakan Eropa bernama Jansens (candidaat Ingenieur) berbicara, yang mengatakan bahwa Indie ini juga tanah airnya. Pendek kata dia akhirnya masuk menjadi anggota Algemeene Studie Club itu.

Di Solo pada tahun 1927 itu R. Kotjosungkono mudah mulai mempergunakan media massa dengan sering kali menulis di dalam surat kabar Darmo Kondo dengan nama samaran Tjarwaka. Sewaktu P.N.I mengadakan kongresnya yang pertama di Surabaya tanggal 27 s/d 30 Mei 1928, dilaporkannyalah dengan verslaag-nya yang dimuat secara berseri-seri di Darmo Kondo dengan nama samaran lainnya yaitu Cardium. Semenjak itu dikenal oleh Hoofdredacteur Darmo Kondo, R.M. Soedarjo Tjondrosisworo, dipandang dan disebut sebagai Propagandis P.N.I dan nyatanya R. M. Soedarjo Tjondrosisworo sendiri dari Boedi Oetomo condong kepada ideologi P.N.I. Sejak itu disadarilah akan kegunaan dan pentingnya Pers Nasional yang bersifat Strijd - Journalistik, dan semenjak itu pula lebih memusatkan tenaganya kepada penulisan artikel-artikel ataupun verslaag, yang kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan dipahami oleh publik yang lebih besar pula kalau dibandingkan dengan berpidato di tempat yang sempit dengan waktu yang terbatas pula.

Antara tanggal 25-28 Desember 1927 menjadi utusan ke Kongres Jong Indonesia yang diadakan di Bandung. Berlangsungnya kongres itu ada di bawah Pertandaan Jaman (Zeit geiste) dan di bawah situasi politik ekonomi yang mencekik leher rakyat Indonesia pada umumnya.

Tahun 1928 R. Kotjosungkono menjadi utusan perhimpunan Pemoeda Indonesia (sebelumnya bernama Jong Indonesia) dengan surat yang ditandatangani oleh ketua Soekamso (pengganti ketua pertama Soegiono). Pada Kongres Pemuda Indonesia Kedua 28 Oktober 1928 itu, selain duduk di dalam Bestuur-congres, juga sebagai Notulist.

Tidak lama setelah Kongres Pemuda Indonesia Kedua, pada bulan Desember 1928 diutus oleh Pengurus P.P.P.I. waktu itu (Ketua: Soegondo, Sekretaris: Soewirjo, dan Bendahara: Soekirno) untuk mengunjungi Kongres Jong Java di Yogyakarta dengan tugas memajukan kembali serta membela usul lama dari P.P.P.I. yang pernah ditolak oleh Kongres Jong Java di Semarang bulan Desember 1927, yaitu usul Fusi. Setelah utusan P.P.P.I. berpidato, maka angkat bicaralah Mohammad Jamin dari Jong Sumatranen Bond (tidak sebagai utusan), dengan menerangkan bahwa Jong Sumatranen Bond akan dileburkan di dalam fusi asal Jong Java setuju akan peleburan itu.

Atas ketangkasan Goenadi (kemudian dokter), utusan dari Jawa Timur semua sepakat menyatakan setuju, sehingga usul fusi itu diterima dengan aklamasi. Sehingga mulai terwujudlah udara baru persatuan di kalangan pergerakan pemuda, karena Jong Java adalah suatu perkumpulan/organisasi pemuda terbesar dan terbanyak anggotanya, sehingga kalau Jong Java sudah setuju akan fusi, pasti yang lainnya akan mengikutinya dan kalau sudah demikian persatuan pemuda akan terwujud.

Kemudian atas anjuran Sigit, R. Kotjosungkono dimasukkan di Redaksi Indonesia Raya yaitu organ dari P.P.P.I. yang diketuai oleh R.T. Djaksodipoero (K.R.M.T. Mr. Wongsonegoro), dengan komposisi sebagai berikut: Sekretaris Redaksi Imam Soedjahri (kemudian Mr), Abdoel Hakim (kemudian Mr), Roespandji, Sigit, dan R. Kontjosungkono.

Sementara itu oleh Pengurus Besar Pemuda Indonesia di Bandung diberi tugas memimpin Redaksi Majalah Pemuda Indonesia yang dipindahkan dari Bandung ke tangannya di Jakarta dengan alamat Kramat 106 Batavia Centrum (sekarang Gedung Sumpah Pemuda Jl. Kramat Raya 106 Jakarta). Pada pertengahan tahun 1929, dari Jakarta pergi ke Yogyakarta dan di sana diterima oleh Ki Hadjar Dewantoro (Suwardisurjoningrat) untuk mengajar di Kweek School (Sekolah Guru) dan MULO (Sekolah Menengah Pertama). Sepeninggalannya ke Yogyakarta, Redaksi Pemuda Indonesia diambil alih oleh Abu Hanifah (1929).

Setelah itu, R. Kontjosungkono kurang aktif dalam gelanggang Pergerakan Pemuda, tetapi lebih aktif dalam pendidikan, persurat-kabaran, dan aktivis politik di P.N.I. Menurut R. Kontjosungkono bahwa semenjak Sumpah Pemuda 1928 beliau selalu dikawani oleh Lagu Indonesia Raya, maka Indonesia Raya = Indonesia Merdeka. Kewartawanannya didukung oleh semangat zaman dan diarahkan kepada terlaksananya cita-cita suci Indonesia Raya.

NASKAH SUMPAH PEMUDA

Sumpah Pemuda adalah produk perjuangan pemuda yang pada hakekatnya menghendaki terwujudnya Persatuan Indonesia. Suatu Sumpah Pengakuan Pemuda yang lahir dari aktivitas pergerakan pemuda dengan Kongres Pemuda Indonesia Kedua tahun 1928. Kongres itu sendiri terbagi dalam tiga persidangan rapatnya yang bersifat umum, pada persidangan rapat yang terakhir (ketiga) Sumpah Pemuda itu lahir, yang kemudian semakin dewasa dan kuat seiring sejauh mana besarnya semangat perasaan persatuan rakyat Indonesia. Gedung Indonesische Clubgebouw (sekarang Gedung Sumpah Pemuda Jl. Kramat Raya 106 Jakarta) mendapatkan kehormatan sebagai tempat lahirnya Sumpah Pemuda itu dan kemudian menjadi gedung terhormat sebagai gedung bersejarah yang dapat membangkitkan inspirasi semangat persatuan selama-lamanya.

Pada hari Minggu malam tanggal 28 Oktober 1928, berlangsunglah kegiatan persidangan rapat Kongres Pemuda Indonesia Kedua di gedung tersebut, dengan berbagai pidato/ceramah, tanggapan dan saran. Dengan terseling berbagai perdebatan, semangat jiwa persatuan yang berkobar-kobar, serta bentakan dan hardikan dari pihak polisi/petugas pemerintah Belanda karena ada beberapa peserta kongres mengeluarkan kata-kata terlarang, tetapi kongres terus berjalan.

Menurut R. Kotjosungkono, pada waktu kongres itu akan ditutup, Mohammad Jamin muncul dengan menyodorkan sesuatu resolusi Kongres yang ditulis tangannya sendiri dan kemudian diberikan kepada R. Kotjosungkono (sebagai Notulist) yang kemudian diteruskan kepada Ketua Kongres Soegondo untuk dibacakan di hadapan peserta Kongres. Waktu itu Ketua Kongres sudah memberikan pidato penutupannya, dan pada pidato penutupan itu pula dibacakanlah resolusi kongres, berbunyi sebagai berikut:

POETOESAN KONGRES

PERTAMA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH YANG SATOE, TANAH INDONESIA.

KEDUA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

KETIGA

KAMI POETERA DAN POETERI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Setelah dibacakan resolusi kongres tersebut, dengan gegap gempita sorak sorai, dan pekik persatuan, para peserta kongres menyetujui secara aklamasi. Menurut Soegondo (Ketua Kongres) bahwa resolusi itu isinya tidak lain ialah tiga pernyataan/sumpah yang kemudian lebih terkenal dengan Sumpah Pemuda. Resolusi kongres berupa secarik kertas kecil ukuran 10 x 20 cm yang memuat tiga pernyataan/sumpah, yang kita sebut Sumpah Pemuda.

Soegondo juga menjelaskan, bahwa naskah resolusi (naskah Sumpah Pemuda), sesudah disetujui secara aklamasi kemudian diparaf oleh masing-masing anggota panitia kongres. Hanya sayang naskah yang begitu penting itu sekarang tidak jelas di mana beradanya, tetapi menurut Soegondo dahulu dipegang oleh Mohammad Jamin setelah diparaf oleh masing-masing pemuda anggota panitia kongres; bahkan palu sidang pun ada waktu itu, tetapi di mana sekarang tidak tahu.

Para anggota panitia kongres berasal dari sembilan perhimpunan/organisasi pemuda, sebagaimana yang telah penulis sebutkan, yaitu Jong Java, Jong Sumatera (Pemuda Sumatera), Pemoeda Indonesia, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Pemuda Kaum betawi, dan Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia. Menurut R. Kontjosungkono, pada hari Minggu tanggal 28 Oktober 1928 pada saat naskah Sumpah Pemuda (resolusi) diberi paraf, utusan dari Jong Celebes yaitu Senduk tidak tampak hadir/tidak kelihatan (menurut keyakinan R. Kotjosungkono), di samping itu utusan dari Jong Islamieten Bond berganti yang mula-mula bernama Djohan Moehammad Tjai diganti dengan Ramelan (kaki tangan Agus Salim). Sedangkan yang lain hadir, yaitu Djoko Marsaid dari Jong Java, menurut R. Kotjosungkono diwakili Soedjono Djoenet Poesponegoro, Mohammad Jamin dari Jong Sumatera, R. Kotjosungkono dari Pemuda Indonesia, Rochjani dari Pemuda Kaum Betawi, Antapermana dari Sekar Rukun, Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks Bond dan Soegondo dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia.

Kesemua utusan dari perhimpunan/organisasi pemuda yang ikut membubuhkan paraf pada naskah Sumpah Pemuda sudah tiada: hanya satu-satunya yang masih hidup utusan dari Perhimpunan Pemuda Indonesia yaitu R. Kontjosungkono. Soegondo yang waktu itu sebagai Ketua Kongres telah meninggal beberapa tahun yang lalu, di Yogyakarta.

Untuk itu, kita berbesar hati karena masih memiliki tokoh yang pernah mempunyai andil besar dalam mencanangkan gema persatuan Indonesia, yang perlu kita pelihara, yang perlu kita jaga dan perlu kita pertahankan. Persatuan Bangsa Indonesia wajib kita lestarikan!

Jakarta, September 1982


Sumber: Suara Karya, 26 Oktober 1982


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dr. Soetomo: Himpun Persatuan dan Kesatuan Berdasarkan Irama Gamelan

"Tujuh puluh delapan tahun yang lalu, 20 Mei 1908, Dokter Soetomo telah membuat percikan api kebangkitan nasional di Gedung Stovia. Dan sampai kini nyalanya tetap memberi jiwa dan semangat untuk mengisi cita-cita kebangkitan nasional!" begitu antara lain sambutan Menteri Penerangan H. Harmoko, ketika meresmikan monumen Dokter Soetomo di Desa Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur. Monumen itu diresmikan pada tanggal 6 Mei yang lalu, di atas tanah seluas 1,75 hektar. Memang sepantasnya dibuat monumen agung untuk mengenang jasa-jasa beliau sebagai salah seorang pendiri Boedi Oetomo . Suatu wadah yang merupakan organisasi modern pertama lahir di Indonesia, bertujuan untuk memajukan pengajaran dan kebudayaan bangsa Indonesia. Sejak adanya Boedi Oetomo  bangsa kita bangkit, untuk membebaskan diri dari penjajah. Itulah yang membuat Soetomo pernah diancam akan dikeluarkan dari STOVIA. Tapi dia tidak gentar. Soetomo dan kawan-kawannya terus melebarkan sayap Boedi Oetomo demi kemajuan bangsa Ind...

Pendidikan Itu untuk Rakyat ....

Oleh: INDIRA PERMANASARI S ekitar 70 tahun lalu, tepatnya 1927, seorang anggota Volksraad (dewan perwakilan rakyat buatan Belanda dalam rangka politik etis) Meyer Ranneft, berpidato tentang pendidikan di Hindia Belanda. " ... Masyarakat Hindia Belanda, yang kini diusahakan untuk dibangun lebih cepat oleh pemerintah melalui pendidikan, mempunyai dua ciri penting. Pertama, masyarakat ini adalah suatu masyarakat yang mempunyai pertentangan-pertentangan yang tajam; ia adalah konglomerasi dari suatu equilibrium yang labil. Kedua, negeri ini miskin. Bilamana meneliti sistem pendidikan, kita melihat adanya kekurangan justru pada dua masalah pokok ini. Apakah pendidikan kita turut mempertajam kontras sosial ekonomi, sehingga melonggarkan sendi-sendi persatuan? ...." Cuplikan pidato itu dibacakan Dr Mestika Zed, sejarawan dari Universitas Negeri Padang dalam forum diskusi 60 Tahun Indonesia Merdeka dalam Lintasan Sejarah di Bandung pekan lalu. Menurut Mestika, pada masanya Ranneft me...

JEJAK NASIONALISME DI BOVEN DIGOEL (1) Penjara yang Memerdekakan

Pengantar Redaksi: Jejak nasionalisme mencoba menginventarisasi warisan bangsa yang menjadi energi perjuangan yang membebaskan negeri ini. Jejak-jejak itu terserak sepanjang bentangan Nusantara. Setelah laporan jejak nasionalisme di Banda, Maluku, diturunkan bulan lalu, bulan ini "Kompas" menurunkan laporan jejak nasionalisme di Boven Digoel, Papua, yang di masa lalu menurunkan tempat pengasingan tokoh-tokoh bangsa. Dalam catatan historis, nama Boven Digoel tentu tidak asing lagi. Pemerintah Hindia Belanda pernah menjadi Boven Digoel di pedalaman Papua sebagai salah satu tempat pengasingan bagi para pejuang perintis kemerdekaan Indonesia. Walaupun teralienasi, mereka tetap menyalakan suluh perjuangan. Oleh KORANO NICOLASH LMS P ada awalnya, menurut Andrianus Moromon, sarjana sejarah Universitas Cenderawasih, Papua, Boven Digoel dijadikan Belanda sebagai tempat tahanan sekaligus pengasingan baru akibat tempat tahanan dan pengasingan lainnya sudah penuh. Salah satu sebabnya, Be...

Arti Bhinneka Tunggal Ika

Arti kata per kata dalam semboyan "Bhinneka Tunggal Ika" sering disalahartikan, termasuk oleh tokoh-tokoh masyarakat yang berpendidikan tinggi. Kesalahan terakhir dilakukan oleh Bung Harry Roesli dalam artikelnya berjudul: Kaus Partai dan Baju Besi (Kompas , 15/5/99). Walaupun isi artikel enak dibaca, namun mengandung kesalahan fatal menyangkut semboyan di atas. Di artikel tersebut Bung Harry menulis bahwa saat ini Bhinneka Tunggal Ika telah dipelesetkan menjadi Bhinneka tidak Ika, atau Bhinneka susah Ika, atau juga Bhinneka lawan Ika. Jelas di sini Bung Harry berpikir, bahwa kata Ika-lah yang mengandung arti bersatu/satu. Kesalahan serupa juga telah banyak dilakukan oleh kaum terdidik di negeri ini. Padahal dalam semboyan ini, arti kata satu (atau bersatu) dikandung dalam kata tunggal. Sedangkan kata Ika, kalau saya tidak keliru, artinya kira-kira adalah atau begitu adanya. Secara lengkap artinya adalah berbeda-beda (Bhinneka), namun satu (Tunggal) adanya (Ika). Kemungkinan ...

Manusia Pincang dari Pacitan

Fosil manusia Punung dan sejumlah peralatannya telah selesai diteliti. Ada kesinambungan kehidupan sejak zaman pletosin di sana. D IA ditemukan dalam keadaan utuh dari ujung kepala sampai kaki. Terkubur dalam sebuah gua di daerah Punung, Pacitan, Jawa Timur, tangan kirinya mencengkeram tengkorak monyet. Ada lubang yang cukup besar di gigi bawah bagian kirinya, tembus sampai ke gusi. Ini pertanda bahwa manusia gua itu, yang hidup sekitar 9.000 tahun lalu, pernah mengalami sakit gigi yang parah. Fosil "manusia Punung" ini diperbincangkan lagi di kalangan arkeolog setelah Francois Semah membeberkan temuan ini pada pertemuan ilmiah arkeologi di Kediri, akhir Juli silam. Bersama kawan-kawannya, arkeolog dari Prancis ini baru saja selesai mengurai fosil yang ditemukan pada 1997 ini. Hasilnya cukup memuaskan. Apalagi bersamaan dengan manusia Punung, ditemukan juga sejumlah peralatan yang menggambarkan berbagai era kehidupan manusia. "Ini temuan luar biasa," ujar Semah, ilm...

Kami

Pada masa Lenin mendirikan Negara Sovyet, adakah rakyat Sovyet sudah cerdas?  (Bung Karno, 1 Juni 1945) S EBUAH negara tak pernah didirikan di atas kecerdasan. Uni Soviet, sebuah percobaan pertama untuk menerapkan "sosialisme ilmiah", dimulai dengan sebuah pemerintahan yang bekerja di atas 170 juta petani, yang, seperti kata Bung Karno, umumnya buta huruf. Begitu juga Amerika Serikat. Thomas Jefferson dan para pendiri republik itu memang pintar, dan negara yang mereka rancang berdasarkan ide-ide filsafat yang mutakhir, tapi ada benarnya kalimat lucu penulis Inggris Malcolm Bradbury: "Sejarah Amerika seluruhnya adalah cerita tentang orang yang membenci ayah mereka dan mencoba membakar tiap hal yang dilakukan ayah itu." Sebuah kemerdekaan lahir lebih karena kemarahan, bukan karena kedahsyatan pikiran. Perasaan dizalimi, perasaan tertindas, bukan datang dari otak, tapi dari seluruh pengalaman, termasuk tubuh yang tertekan. Itu juga yang dapat dikatakan tentang Indonesi...

Karena Kasih Sepanjang Jalan

Betawi mempertemukan Mohammad Hatta dengan Mak Etek Ayub Rais, anak sahabat kakeknya. Saudagar perantau Minang ini mengabaikan rasa takutnya sendiri untuk Hatta. T AHUN baru 1908. Mohammad Hatta datang dari sekolah dengan menimang sebuah kapal-kapalan dari kaleng bekas--hadiah tahun baru dari Sinterklas di sekolahnya. Sepulang sekolah, ia mengajak sahabatnya, Rasjid Manggis, melayarkan kapal kecil itu di tebat kecil sembari menunggu jam mengaji di surau Inyiak Djambek tiba. Di hari yang lain, waktu lowong Hatta diisi dengan menyepak bola rotan. Kapal-kapalan dan bola rotan adalah mainan yang membuat Hatta begitu riang di masa kecil. Selebihnya, hari-hari Hatta adalah belajar. Sejak berumur lima tahun, siang hari ia belajar di Sekolah Melayu Paripat dan les bahasa Belanda pada Tuan Ledeboer di waktu petang. Alhasil, Hatta tak menemukan kesulitan ketika ia akhirnya bersekolah di Europeesche Lagere School, sekolah dasar khusus untuk anak-anak Belanda, di Bukit Tinggi. Orang-orang tua di B...