Langsung ke konten utama

Perang Paderi di Sumatera Barat 1821 - 1838 ( Bagian I)

Oleh : Syamsuar Said

Pertentangan Adat dan Agama.

Di antara berbagai gerakan meawan Kolonialisme Belanda di Indonesia, maka Perang Paderi di Sumatera Barat memiliki ciri dan tempat tersendiri di hati bangsa Indonesia. Paderi berasal dari kata Padre yang berarti Ulama. Jadi gerakan Paderi adalah gerakan kaum Ulama. Mereka bermaksud untuk memurnikan ajaran Islam dengan jalan merombak adat kebiasaan buruk masyarakat Minangkabau saat itu.

Seperti kita ketahui, struktur sosial masyarakat Minangkabau pada sekitar akhir abad 18 atau awal abad 19 menempatkan raja, bangsawan, dan penghulu adat sebagai pemegang peranan penting dalam pemerintahan adat di Tanah Minang. Dalam kehidupan sehari-hari, di masyarakat berjangkitlah kebiasaan buruk yang bertentangan dengan syara' Islam. Menyabung ayam, minum tuak, madat, berjudi, dan lain-lain dianggap sebagai kebiasaan umum atau adat warisan nenek moyang. Menghadapi hal itu, ternyata para penghulu dan pemuka adat tidak mampu mengatasinya. Sebaliknya mereka bahkan bertindak sebagai pembela adat buruk itu.

Para Ulama amat prihatin melihatnya. Syara' banyak dilanggar oleh adat dan berbagai macam bid'ah. Maka tampillah Tuanku Kota Tua, seorang ulama besar dari kampung Kota Tua di dataran Agam. Ia mulai mengajarkan pembaharuan dan mengajak masyarakat agar kembali ke ajaran Islam yang murni. Meninggalkan bid'ah dan adat kebiasaan kafir. Tindakan beliau ini diikuti oleh murid-muridnya, antara lain Tuanku nan Renceh dari kampung Bansa di Kamang. Ia terkenal keras, berani, alim, dan fasih berpidato.

Sementara itu pada tahun 1803 telah kembali dari Mekah tiga orang haji, yakni Haji Miskin dari Pandai Sikat, Haji Sumanik dari VIII Kota dan Haji Piabang dari Tanah Datar. Mereka adalah penganut aliran Wahabbi yang saat itu sedang berkembang di Mekah. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana kaum Wahabbi di Tanah Suci bergerak memurnikan ajaran Islam. Sekembali dari Mekah, mereka bermaksud menerapkannya di negerinya, Minangkabau.

Dalam pada itu, ketika larangan Haji Miskin pada anak negeri Pandai Sikat agar tidak menyabung ayam diabaikan, ia bertindak tegas. Pada suatu malam balai tempat menyabung ayam dibakar. Akibatnya kaum Adat marah. Haji Miskin dikejar-kejar dan mencari perlindungan pada Tuanku Mensiangan di Kota Lawas. Api pertentangan mulai disulut.

Atas anjuran Tuanku nan Renceh, maka bermusyawarahlah delapan orang Tuanku dari Luhak Agam. Tuanku Lubuk Aur, Tuanku Berapi, Tuanku Ladang Lawas, Tuanku Padang Luar, Tuanku Gabung, Tuanku Biaro, Tuanku Kapau, dan Tuanku nan Renceh. Mereka itulah yang bergelar Harimau nan Salapan. Mereka sepakat untuk memulai pembaharuan. Bila perlu dengan cara kekerasan, karena guru mereka Tuanku Kota Tua tidak sepakat bila pembaharuan dilaksanakan dengan keras, akhirnya diangkatlah Tuanku Mensiangan menjadi Ketua.

Kaum Adat pun tidak tinggal diam. Mereka memandang remeh kaum Ulama. Pesta sabung ayam pun diadakan secara besar-besaran di Batipuh dekat Sungai Puar. Pertikaian tak terhindarkan lagi, pecahlah pertempuran di Batipuh. 

Pertentangan antara kaum Adat dan Ulama yang menamakan dirinya Paderi meluas sejak pertikaian di Batipuh dan terbunuhnya bibi Tuanku nan Renceh. Semakin lama pengikut Paderi bertambah banyak. Satu demi satu kampung tunduk di bawah pengaruh Paderi. Mereka yang dikalahkan harus menganut faham baru dan didenda 400 ringgit.

Berkat perjuangan Tuanku nan Renceh dan Tuanku Mensiangan, maka dalam waktu singkat hampir seluruh Luhak Agam dan IV kota memeluk faham Paderi. Perlawanan kaum Adat yang kuat mereka jumpai di Batipuh, Gunung Raja, dan Ladang Lawas. Tidak sedikit korban jatuh di kedua belah pihak.

Dari Luhak Agam faham Paderi meluas ke Alahan Panjang. Di lembah yang subur, penuh persawahan inilah berdiri kampung Bonjol yang terkenal. Bonjol terletak di antara sungai Batang Alahan Panjang dan Bukit Terjadi sehingga amat strategis letaknya.

Bonjol diperintah oleh empat orang ulama yakni Datuk Malim Basa atau Tuanku Muda, Tuanku Hitam, Tuanku Gapuk, dan Tuanku Keluat. Mereka bergelar Raja nan Berempat atau Berempat Sela. Tuanku Muda itulah yang berkat kecerdikan dan kearifannya kemudian bergelar Tuanku Imam dari Bonjol. Di bawah perintahnya, Bonjol diperkuat dengan benteng besar dan rakyat mengalami masa-masa kemakmuran. Selanjutnya Bonjol menjadi pusat gerakan Paderi di Tanah Minangkabau.

Dari Luhak Agam dan Alahan Panjang, faham Paderi meluas ke Lima Puluh Kota. Namun di Tanah Datar, pusat pemerintahan dan tempat kedudukan raja Minangkabau, Paderi mendapat tentangan keras. Tanjung Barulak misalnya baru jatuh setelah Tuanku Pasaman dan Tuanku Lintau menggempurnya hingga tiga kali. Begitu pula daerah-daerah yang lain.

Menghadapi kekerasan kaum Adat dan agar tidak banyak korban yang jatuh, kaum Paderi berusaha menyelesaikan pertikaian secara damai. Raja Minangkabau dan pemuka Adat diundang ke Kota Tengah untuk berunding. Namun bukanlah kata sepakat yang mereka capai, sebaliknya justru pertengkaran hebat. Dalam perkelahian di situ banyak pemuka Adat terbunuh. Hanya karena satu mukjizat saja Raja dapat lolos dan lari ke Kuantan. Karena sangat masygul Baginda berniat mengundurkan diri dari urusan negeri. Seterusnya beliau menetap di Lubuk Jambi.

Akibat kejaran dan tekanan kaum Paderi, banyak kaum Adat yang lari ke Padang minta perlindungan Inggris yang saat itu berkedudukan di sana. Gerakan Paderi tidak terbendung lagi. Satu demi satu kampung di Tanah Datar jatuh ke tangan Paderi. Peraturan agama mulai dilaksanakan dengan ketat. Cara hidup sehari-hari bahkan cara berpakaian pun ditertibkan sesuai perintah agama.

Campur Tangan Asing.

Menghadapi tindasan kaum Paderi, maka terbitlah pikiran kaum Adat untuk minta bantuan Gubernur Jenderal Inggris Sir Thomas Stamford Raffles untuk menghadapinya. Raffles yang agaknya juga mengincar daerah Sumatera Barat mulai bersiap-siap. Agaknya ia sudah memperhitungkan bahwa pada suatu saat Inggris harus meninggalkan tanah Jawa. Sebagai gantinya maka ia akan mempertahankan daerah Sumatera Barat.

Untuk itu pada tanggal 16 - 30 Juli 1818 Raffles berkunjung ke Suruaso, Pagarruyung dan lain-lain dan mencoba berhubungan dengan pihak Paderi. Beberapa perjanjian sementara telah dibuat dengan kerajaan Minangkabau. Tetapi maksud Raffles berantakan akibat berlakunya perjanjian antara Inggris dan Belanda tahun 1814. Pada bulan Februari 1819 Inggris terpaksa meninggalkan Padang digantikan Belanda.

Sepeninggal Inggris, maka penghulu Adat dari Pagarruyung, Suruaso, Batusangkar, Singkarak, Saung Bakar, Bunga Tanjung, Pitalah, Tanjung Barulak, Gunung Raja, Sumpur, Malalo, IX Kota dan Simawang mengajukan permintaan pada Residen Du Puy agar memerangi Paderi. Atas nama kerajaan Minangkabau, mereka pada tanggal 10 Februari 1821 membuat perjanjian dengan Belanda. Sejak itu mulailah kerajaan Minangkabau yang berdaulat tergadai pada Belanda. 

Mulailah pecah pertempuran antara Paderi melawan kaum Adat yang dibantu Belanda. Agaknya kaum Adat tidak menyadari bahwa dirinya hanya menjadi boneka Belanda. Mereka tidak sadar bahwa dirinya pun kelak akan ditelan pula oleh Belanda. Sebaliknya kaum Paderi justru semakin sadar akan arti perjuangannya. Mereka berperang bukan hanya untuk mematahkan kekuasaan adat, tetapi Perang Sabil menegakkan agama Islam dan mengusir Belanda.

Perang Paderi Periode Tahun 1821 - 1825

Pada tanggal 29 April 1821 kaum Adat dan Kompeni Belanda menyerbu Sulit Air, tetapi dipukul mundur. Mulailah pecah Perang Paderi yang terkenal itu. Kaum Paderi di seluruh negeri bergerak mengangkat senjata. Takbir bergema menandai gerakan kaum Paderi di Sumatera Barat. Kekuatan mereka mengalir bagai air bah menyerbu kedudukan kaum Adat dan Belanda.

Sulit Air baru jatuh pada serangan kedua, menyusul kemudian serangan Belanda atas Gunung dan Simabur pada bulan Agustus 1821. Ternyata kaum Paderi tidak tinggal diam. Mereka membalas serangan Belanda dengan gagah berani. Sewaktu Belanda menyerbu Bukit Sipinang, di lain pihak Paderi telah mengepung Simawang hingga kedudukan Belanda terancam.

Untuk mengatasi kesulitan di Sumatera Barat, pemerintah Hindia Belanda mengirim Letkol. Raaf ke sana. Dari pengamatannya, maka Raaf memutuskan untuk menyerang VI Kota, Tanah Datar, dan Lintau terlebih dahulu, baru menyusul daerah yang lain.

Ternyata Raaf tidak dapat segera menjalankan rencananya. Di Tanah Datar mereka hampir kewalahan menghadapi serangan Paderi pimpinan Tuanku Lintau. Untuk menduduki Belimbing mereka terpaksa mengorbankan banyak serdadunya. Ibukota kerajaan Minangkabau baru berhasil direbut pada tanggal 4 Maret 1822. Untuk mempertahankannya, maka dibangunlah sebuah benteng di Batusangkar yang diberi nama Fort Van der Capellen.

Berulang kali Raaf membujuk Tuanku Lintau untuk berunding, tetapi dtolak. Dalam pada itu penyerbuan atas Lintau pada bulan Maret 1822 gagal, sementara di Rao dan Kota Gadang Raaf menderita kekalahan pahit. Tanjung Alam pun terpaksa dilepaskan karena tak kuat menahan serangan Paderi dari Lima Puluh Kota, Alahan Panjang, dan Luhak Agam.

Dengan datangnya bantuan tentara dari Padang pada bulan Agustus, maka secara serentak Kompeni menyerang Kapau, Kota Baru, dan Luhak Agam, namun kembali Belanda menjumpai kegagalan. Di Kapau Belanda banyak menderita kerugian. Serdadunya banyak yang tewas bahkan dua buah meriam besar direbut Paderi. Sebaliknya Paderi bahkan berhasil merebut Tanah Datar dan mendudukkan kembali Tuanku Mensiangan di Padang Lawas.

Untuk mengurangi tekanan kaum Paderi, Belanda membujuk Tuanku Kota Tua. Atas pengaruh beliau, maka kaum Paderi dari Alahan Panjang dan Rao mau diajak berdamai dan kembali ke kampung halamannya. Dengan demikian untuk sementara waktu Luhak Agam kembali aman sampai akhir tahun 1822. Belanda memanfaatkan situasi tersebut untuk menghimpun kekuatan di Pagarruyung, Tanjung Alam, dan Gunung, sambil menunggu datangnya bala bantuan dari Jawa.

Ketika bantuan dari Jawa tiba pada bulan Februari 1823, Kompeni segera menyerbu Marapalam yang menghubungkan Tanah Datar dengan Lintau. Paderi menangkis serangan Belanda hingga terpaksa mundur ke Pagarruyung. Sementara itu pos Belanda di Gunung Gedug dan bukit Bomo pun mulai goyah.

Bersamaan dengan itu Paderi dari Bonjil dan Padai Sikat berhasil menduduki Pariaman hingga Padang Hilir terancam. Namun mereka terpaksa melepaskan Padang Hilir kembali karena Kompeni telah bergerak ke Penjalaian, Kota Lawas, Singgalang, dan mengancam Pandai Sikat.

Namun menjelang akhir tahun 1823, kaum Paderi mulai menderita kegagalan. Sementara serangan atas Kota Tua gagal, maka pertahanan Paderi di Kapau jatuh ke tangan Belanda. Malahan dalam pertempuran di Biaro tidak kurang 250 orang Paderi gugur dalam pertempuran yang gagah berani. Berangsur-angsur Kompeni menundukkan kampung-kampung di kaki Gunung Merapi dan Singgalang hingga Pandai Sikat terpencil.

Sementara itu pada bulan Januari 1824 Letkol. Raaf menggantikan kedudukan Du Puy sekaligus merangkap sebagai Komandan Militer Belanda di Sumatera Barat. Ia berupaya berunding dengan Paderi. Akibatnya tercapailah Perjanjian Masang tanggal 22 Januari 1824 yang banyak merugikan Paderi.

Namun baru satu bulan perjanjian itu berjalan, Belanda sudah mengingkarinya. Kota Lawas diserang, menyusul Pandai Sikat yang jatuh pada bulan Maret 1824. Pengkhianatan itu dibalas Paderi hingga berhasil merebut Mangganang.

Pada tanggal 17 April 1824 sekonyong-konyong Raaf meninggal pada usia 30 tahun. Sementara waktu kedudukannya digantikan oleh Residen GA. Baud dan Mayor Laemlin, baru pada bulan November diganti oleh Kolonel HIJL de Stuers. Sambil menunggu datangnya bantuan Stuers menempuh upaya damai. Tetapi di lain pihak ia juga memperkuat benteng di Batusangkar, Tanjung Alam, Guguk Sigandang, Gunung, Suruaso, dan Padang Ganting.

Dalam pada itu antara Belanda dan sekutunya yakni kaum Adat mulai timbul perselisihan. Adat banyak dilanggar, begitu kata mereka. Meluasnya perdagangan candu, pungutan pajak yang bertambah berat, pengurangan upah kuli, dan lain-lain membuat kaum Adat membenci Belanda. Lebih-lebih dengan diangkatnya dua Regent yakni Sutan Alam Begagar Syah atas Tanah Datar dan Datuk Baginda Khatib atas Luhak Agam, banyak penghulu Adat kecewa karena kekuasaan mereka dirampas.

Perlawanan pun meluas. Regent Luhak Agam Datuk Baginda Khatib terbunuh dengan dalih suka mengganggu istri orang. Anak negeri Batipuh, Sampur, Malalo, Singkarak, Saung Bakar, Sulit Air, dan Tanjung Belit mengangkat senjata. Semakin lama perlawanan menjalar ke Padang Hilir hingga Belanda cemas.

Kekacauan itu banyak menguntungkan pihak Paderi. Selama tahun 1825 Kompeni banyak menemui kekalahan di pertempuran Kurai, Tanjung Barulak, Tingkar, dan Tujuh Batu. Kedudukan mereka benar-benar terjepit, sementara mengharap datangnya bantuan dari Jawa adalah mustahil. Sebab Kompeni di Jawa juga sedang menghadapi kesulitan akibat Perang Diponegoro. Satu-satunya jalan hanyalah berdamai dengan pihak Paderi.

Akhirnya pada tanggal 15 November 1825 Belanda berhasil membujuk beberapa orang datuk dari Lintau, Lima Puluh Kota, Talawi, dan Agam untuk berdamai. Belanda berjanji tidak akan mencampuri agama. Saat itu Kompeni benar-benar dihadapkan pada kesulitan. Bagaikan makan buah simalakama, kata pepatah. Kalau dimakan ayah mati, bila tidak dimakan, ibu yang mati. Di satu pihak Paderi menuntut agar Raja Pagarruyung dan Regent Tanah Datar dipecat diganti Said Salim Aljafrid. Kecuali itu Belanda harus melarang adat yang bertentangan dengan agama. Tuntutan itu jelas bertentangan dengan kehendak Kaum Adat. Karena mempertahankan Adat itulah maka sekutunya mau menyabung nyawa.

Periode 1826 - 1830

Untuk melemahkan kaum Paderi Kompeni Belanda tidak kurang akal. Perundingan dibuat dengan kelompok Paderi tertentu untuk menimbulkan kecurigaan satu sama lain sehingga terjadi saling berbunuhan.

Dalam masa-masa ini banyak pengikut Paderi yang pulang ke kampung halaman, sehingga pertahanan mereka kurang kuat. Sementara itu pertentangan di antara mereka juga semakin luas. Banyak pula yang sudah mulai melupakan perjuangan karena berebut pengaruh, kedudukan, ataupun harta. Namun demikian jumlah Paderi yang tetap gigih menentang kaum Adat dan Belanda masih lebih banyak.

Satu keuntungan bagi kaum Paderi ialah bahwa saat itu Belanda benar-benar dalam kedudukan yang lemah. Belanda terpaksa berdiam diri melihat Paderi menyerbu Suruaso, Padang Tarab, Luhak Agam, Tanjung Alam, Bukit Tinggi, dan XX Kota pada sekitar bulan Agustus 1828.

Selama tahun 1828 akhir Luhak Tanah Datar, Padang Ganting, Tanjung Barulak, Sungai Salak, Kubang Landi, dan Kota Tengah menjadi bulan-bulanan serangan Paderi. Begitu pula Tanjung, Sungai Tarab, Sumanik, IV Kota, Laras Empat Kampung, dan Empat Angkat tak luput dirambah, sehingga anak negeri banyak yang mengungsi ke daerah pertahanan Belanda.

Pada bulan Juli 1829 kekuasaan Belanda beralih pada dua orang yakni Residen Mac Gillavry dan Kapten DL. Rochemont. Sementara itu di kalangan anak negeri pun terjadi pula perubahan penting. Pada awal 1829 beberapa orang haji kembali dari Mekah dengan membawa faham pembaharuan baru yang lebih lunak. Faham ini mendapat sambutan hangat dari anak negeri.

Dalam pada itu Mac Gillavry berusaha memanfaatkan perubahan tersebut. Ia berusaha membujuk tokoh pembaharu seperti Tuanku Garang dan Tuanku Ibrahim untuk menghadapi Paderi, tetapi ditolak. Kesulitan Belanda bertambah dengan gagalnya upaya damai dengan Tuanku Lintau.

Pada awal tahun 1830 Paderi berasil memperkuat kedudukan di sekitar Fort Van der Capellen dan Tanjung Alam. Di Kota Gadis dekat Tanjung Alam Paderi menyusun basis pertahanan untuk mengisolir pos-pos tentara Belanda. Belanda benar-benar cemas melihat kemajuan itu. Pada bulan Juli 1830 menyerbu Biaro terus ke Kota Gadis tetapi dipukul mundur. Untuk merebutnya Kompeni terpaksa mengulang serangannya hingga tiga kali.

Di lain pihak daerah pesisir antara Tikur hingga Air Bangis jatuh ke tangan Paderi. Kedudukan Belanda di Air Bangis terkepung. Sementara Paderi mendesak dari darat, sementara itu pula armada Aceh pimpinan Saidi Marah mengepung dari laut. Belanda berhasil membebaskan Air Bangis berkat bantuan armada Bugis pimpinan Nakhoda Langkap.

Dalam pada itu Belanda menjumpai kesulitan baru. Adanya larangan pembuatan garam rakyat membuat anak negeri Naras dan VII Kota mengangkat senjata di bawah pimpinan Tuanku nan Cerdik. Mereka bersumpah setia pada kaum Paderi. Setelah upaya damai mengalami kegagalan, pada tanggal 12 Desember 1830 Belanda menyerbu Naras. Meriam Kompeni Belanda menghujani Naras dari darat maupun laut. Tetapi rakyat Naras bertahan dengan gigih. Hingga dua kali Belanda menyerbu Naras namun mengalami kegagalan.

Dengan demikian selama tahun 1826 - 1830 Belanda banyak menelan kekalahan pahit di Sumatera Barat. Kesulitan mereka bertepuk, sedang upaya mengatasinya banyak menemui kegagalan. Oleh sebab itu selama ini Belanda lebih banyak bertahan sambil menunggu perubahan situasi di Jawa. 

(Bersambung)



Sumber: KORPRI, Oktober 1981



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemerdekaan Bukan Tujuan, Hanya Jembatan Memperbaiki Nasib Bangsa

Oleh Mochtar Lubis PELURU mortir mengoyak udara dan daging serta tulang-tulang manusia. Peluru senapan mesin dan senapan berdesing-desing membelah udara. Kereta api yang saya tumpangi dan telah dekat ke jembatan besar di atas Kali Bekasi disuruh mundur, ketika tembak-menembak antara pasukan-pasukan RI (pasukan resmi maupun pasukan pejuang rakyat) dengan pasukan Belanda di seberang kali bertambah sengit.  Saya turun dari kereta api hendak melihat jalan pertempuran dari dekat. Ini hanya sebuah dari sekian banyak insiden tembak-menembak antara pasukan kolonial Belanda dengan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dan tiap kali jatuhlah korban di kedua belah pihak. Suatu waktu yang lain, di tempat yang sama, rombongan orang-orang Republik Indonesia yang menuju ke Yogyakarta, setelah melewati jembatan Kali Bekasi, dihentikan oleh sebuah pasukan RI. Mereka bertanya apakah dalam kereta api ada dokter. Kebetulan ada dokter Subandrio (yang di kala itu menjabat sekretaris jenderal Departemen Peneran...

Peran Sarekat Islam Tak Bisa Diabaikan

Kontroversi yang mempertanyakan tonggak Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 1908 seharusnya tidak perlu dilakukan secara berlarut-larut hingga menghabiskan banyak energi. Dialog yang menggugat persoalan itu sebaiknya dilakukan sebagai upaya untuk melangkah maju ke depan demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Hal itu dikatakan Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa dalam Dialog Peradaban Centre for Information and Development Studies di Jakarta, Kamis (22/5). "Budi Utomo memang organisasi modern yang memiliki anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. Namun, peranan Sarekat Dagang Islam yang kemudian menjadi Sarekat Islam tidak dapat diabaikan," katanya. Budi Utomo dan Sarekat Islam sama-sama memiliki andil besar dalam menciptakan Indonesia merdeka. Sebagian kalangan menganggap tonggak Kebangkitan Nasional ada pada 16 Oktober 1905 saat terbentuknya Sarekat Dagang Islam, bukan pada hari kelahiran Budi Utomo, 20 Mei 1908. (MZW) Sumber: Tidak diketahui, Tanpa tanggal

Kepahlawanan Pemuda dan Rakyat Jakarta dalam Mempertahankan Kemerdekaan

Walau peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 Nopember 1982 sudah lewat, baiklah kita semua khususnya generasi muda penerus perjuangan bangsa senantiasa menghargai dan menghormati jasa-jasa para pahlawan pendahulu kita yang telah mempunyai andil besar dalam menghantarkan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Di sini penulis mencoba mengetengahkan sejauh mana bukti perjuangan bersenjata yang dapat diukur mempunyai nilai kepahlawanan selama perang mempertahankan kemerdekaan di Jakarta. Penulis sengaja membatasi scope wilayah Jakarta, dengan maksud agar lebih jelas pengungkapan ciri kepahlawanan dari berbagai pertempuran di Jakarta antara pihak kita (yang mayoritas personalnya terdiri dari para pemuda berbagai unsur yang mempunyai kesamaan tujuan) dengan pihak kekuatan asing (Inggris, Belanda) yang ingin menghancurkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan kita. Untuk menghimpun suatu kekuatan besar yang menampung hasrat rakyat membela dan mempertahankan kemerdekaan, maka pada tanggal 20 Agustus 19...

Tank Rampasan dan Gerbong Maut, Saksi-saksi Sejarah

M useum Brawijaya yang terletak di Jalan Ijen, Malang, merupakan tempat menyimpan dan memamerkan benda-benda yang memiliki nilai-nilai sejarah erat kaitannya dengan perjuangan kemerdekaan RI. Inilah museum yang membangkitkan semangat seperti sesantinya "Citra Utthapana Cakra". Dalam bahasa Sanskerta, Citra berarti sinar. Utthapana berarti membangun, menggairahkan, atau membangkitkan, dan Cakra berarti semangat, daya, atau kekuatan. Dengan luas bangunan 3.300 m2, museum ini mengkoleksi benda-benda bersejarah dari tahun 1945 sampai dengan sekarang yang merupakan bukti nyata perjuangan TNI-AD khususnya dan ABRI pada umumya dalam menegakkan, membela dan mempertahankan kemerdekaan RI. Koleksi museum dipamerkan pada dua bagian. Di ruang dalam museum, sebagian besar berupa benda-benda yang pernah punya andil besar dalam merebut dan mempertahankan Tanah Air, serta sejumlah barang bersejarah lainnya. Seperti senapan mesin ringan, mortir, serta alat-alat komunikasi model kuno. Sedangka...

Bagaimana Wali Mengislamkan Nusantara?

Sebuah seminar unik, akhir pekan lalu, berlangsung di Surabaya. Temanya Sejarah Perjuangan Sunan Drajat dalam Jaringan Penyebaran Islam di Nusantara. Pembukaan seminar ilmiah ini dibuka dengan tari, gamelan, dan Dandang Gulo  dan Piwulang . "Ini seminar yang gayeng  (semarak, red)," ujar seorang peserta dari Jakarta. Panitia yang dimotori Bupati Lamongan HM Faried SH, tampaknya merancang pertemuan para pakar dan ulama dengan dua pendekatan, budaya dan ilmiah. Suasana itu membuat Gubernur Jatim Basofi Sudirman dan Dr Roeslan Abdulgani turut melantunkan Dandang Gulo dan Piwulang (ajaran), yang berisi wejangan dari Sunan Drajat. Tari Sekar Giri dan Kenduran  diiringi tembang Tombo Ati  dan Lir Ilir  membikin suasana kian semarak. Penyair asal Madura, D. Zawawi Imran, lantas membaca puisinya, Episode Gelombang , bertutur tentang kiprah para wali dalam menyebarkan Islam di Nusantara, khususnya di Jawa. Toh, pengantar yang 'meriah' tak membuat acara tersebut keh...

JEJAK KERAJAAN DENGAN 40 GAJAH

Prasasti Batutulis dibuat untuk menghormati Raja Pajajaran terkemuka. Isinya tak menyebut soal emas permata. K ETERTARIKAN Menteri Said Agil Husin Al Munawar pada Prasasti Batutulis terlambat 315 tahun dibanding orang Belanda. Prasasti ini telah menyedot perhatian Sersan Scipiok dari Serikat Dagang Kumpeni (VOC), yang menemukannya pada 1687 ketika sedang menjelajah ke "pedalaman Betawi". Tapi bukan demi memburu harta. Saat itu ia ingin mengetahui makna yang tertulis dalam prasasti itu. Karena belum juga terungkap, tiga tahun berselang Kumpeni mengirimkan ekspedisi kedua di bawah pimpinan Kapiten Adolf Winkler untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Hasilnya juga kurang memuaskan. Barulah pada 1811, saat Inggris berkuasa di Indonesia, diadakan penelitian ilmiah yang lebih mendalam. Apalagi gubernur jenderalnya, Raffles, sedang getol menulis buku The History of Java . Meski demikian, isi prasasti berhuruf Jawa kuno dengan bahasa Sunda kuno itu sepenuhnya baru dipahami pada awa...

Komunitas Arab di Pekojan dan Krukut: Dari Mayoritas Menjadi Minoritas

M asjid itu masih tampak kokoh sekalipun usianya telah hampir dua setengah abad. Hanya di bagian atas menaranya yang menjulang tinggi sedikit berlumut dimakan usia. Di bagian dalamnya yang luas dan sejuk di tengah-tengah perkampungan yang gersang dan panas, terhampar permadani warna-warni buatan Persia. Siang itu sekitar 100 orang--kebanyakan berkopiah putih--tengah menunaikan salat dzuhur berjamaah dipimpin imam H. Achmad Basarah (81). Imam Basarah adalah keturunan keluarga Arab yang sudah tinggal di daerah itu sejak beberapa generasi lalu. Masjid Annawir yang dapat menampung lebih dari seribu jamaah itu dikenal juga dengan sebutan Masjid Pekojan. Dibangun tahun 1760 Masehi atau 1180 Hijriah. Saat ini Masjid Annawir Pekojan adalah masjid terbesar di Kelurahan Pekojan, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, yang mayoritas penduduknya keturunan Cina. Sekitar empat kilometer sebelah selatan Kelurahan Pekojan, terdapat Kelurahan Krukut, Kecamatan Taman Sari, Jakarta Barat. Di kelurahan sini be...