Langsung ke konten utama

17 Agustus 1984: Pemuda Tegal Berjuang Kibarkan Sang Saka

Benarkah Indonesia telah merdeka? Begitulah kira-kira keraguan masyarakat Tegal ketika terdengar santer tentang Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Kesangsian itu timbul karena sistem komunikasi yang belum sempurna waktu itu dan pihak penguasa Jepang yang selalu merahasiakan kejadian yang sebenarnya.

Pada 19 Agustus 1945, berita tentang proklamasi semakin santer dan ramai dibicarakan oleh para pemuda Tegal. Keragu-raguan itu sedikit reda setelah para prajurit Heiho dan Peta saling berdatangan kembali ke rumah masing-masing karena telah dibubarkan oleh penguasa Jepang di daerah Tegal.

Dalam situasi perjuangan yang belum menentu dan belum diketahui secara pasti, muncul 4 orang pemuda masing-masing Moh Yusup, Iding Rana keduanya bekas Sodhanco Peta, Sumarna, dan Kadarisman. Mereka berempat mempelopori para pemuda dan mendatangi Walikota Tegal R Soengeb Reksoatmodjo, mendesak agar segera mengumumkan/menyatakan kemerdekaan yang telah diproklamasikan di Jakarta kepada masyarakat Tegal. Permohonan delegasi pemuda tersebut ternyata ditolak mentah-mentah oleh Walikota dengan alasan belum ada perintah dari Gunsaikanbu di Jakarta.

Ketidakberanian walikota tersebut membuat para pemuda berang dan marah, apalagi setelah diketahui bahwa berita proklamasi semakin jelas dan benar adanya. Maka pada tanggal 26 Agustus Moh Yusup dengan 11 pemuda mendatangi balaikota. Mereka diterima oleh Darmo Prawiro, memaksa minta sebuah bendera. Mereka keluar dengan gagah membawa sebuah bendera. Begitu dilihatnya bendera Hinomaru masih berkibar di depan rumah penjara (kantor polisi), mereka segera menghambur masuk ke kantor kepala rumah penjara dan diterima oleh seorang perwira Jepang dengan pistol yang siap tembak tergeletak di mejanya. Pembicaraan berlangsung tegang, karena perwira Jepang itu menolak menurunkan bendera Hinomaru. Tindakan psikologis berupa ancaman perwira Jepang sama sekali tidak digubris oleh para pemuda. Karena perwira Jepang itu tetap bersikeras tidak mau menurunkan bendera Hinomaru, maka Moh Yusup dan teman-temannya mengancam akan memporakporandakan rumah penjara dan akan melepaskan para napi. Perwira Jepang itu akhirnya tidak dapat berbuat banyak. Segera dua orang keluar untuk menurunkan Hinomaru. Di bawah ancaman perwira Jepang tersebut para pemuda berdiri tegap memberi hormat dengan penuh hikmat kepada Sang Merah Putih yang dikibarkan pelan-pelan. Sambil terisak karena tidak dapat menahan haru, seorang pemuda memerintah dengan ultimatum agar seorang pegawai penjara menjaganya.

Selesai penyerbuan dan pengibaran di depan kantor polisi tersebut, para pemuda kembali lagi ke balaikota. Mereka memaksa minta 5 buah bendera merah putih ukuran besar. Rombongan terus bergerak ke tempat-tempat strategis seperti Stasiun KA, gedung Biro SCS, dan gedung Menara Saluran Air Minum. Karena ketiga gedung itu bersebelahan, maka diputuskan untuk mengibarkan di atas gedung Saluran Air Minum. Dengan berkibarnya sang Merah Putih di gedung tertinggi di Tegal itu tentu akan memberikan pengaruh psikologis kepada masyarakat. Mereka kemudian terdorong untuk ikut bergerak menurunkan Hinomaru yang masih banyak berkibar di gedung-gedung pemerintahan. Hari itu juga, dengan kendaraan pinjaman dari Koeswoyo mereka ke Slawi (14 km selatan Tegal). Di depan gedung Saluran Air Miinum Slawi mereka mengibarkan Merah Putih. Perjalanan dilanjutkan ke Jatibarang dan Brebes. Masing mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Menara Saluran Air Minum. Kemudian mereka kembali ke Tegal jam 16.30. Tindakan Moh Yusup dan teman-temannya itu sempat menggugah semangat para pemuda untuk mengenyahkan penguasa Jepang.

Pagi tanggal 27 Agustus 1945, di pelabuhan tidak begitu jauh dari Kantor Polisi terjadi upacara penaikan bendera Hinomaru sebagaimana biasa. Sambil menunggu komandan upacara tiba, sekonyong-konyong muncul seorang pemuda Yakup Mangunkusumo bekas Danco Kaibodan Laut merebut Hinomaru yang sedang dipegang petugas. Yakup memasukkan bendera itu ke dalam bajunya. Kemudian dengan gagah berani dia mengibarkan Merah Putih yang telah dia siapkan. Selesai memberi penghormatan pemuda Yakup lari dan menghilang sampai tiga hari. Sembunyi dari kejaran kempetai yang kejam dan sadis.

Menghadapi hari raya Idul Fitri perjuangan menegakkan sang Merah Putih nampaknyya agak mereda. Tetapi ternyata diam-diam para pemuda tengah mempersiapkan "acara" yang menarik dan penuh risiko karena yang dihadapi mereka adalah polisi militer Jepang, Kempe, yang terkenal kejam. Tanggal 6 September bertepatan dengan hari raya Idul Fitri di bengkel kereta api, stasiun KA dan Biro SCS, Hinomaru masih berkibar seolah-olah dia mengejek para pemuda. Pemuda Rachmat merasa tergerak semangat kemerdekaannya, diam-diam dia menurunkan Hinomaru dan mengibarkan sang merah putih. Karena hari libur, bendera itu sempat sehari suntuk berkibar. Keesokan harinya pemuda Rachmat diperingatkan keras oleh Jepang. Tetapi ia sempat berbantah dan berdebat sengit. Karena di bawah ancaman dan dirasakannya perjuangan masih jauh, pemuda Rachmat mengalah dan menurunkan kembali sang Merah Putih.

Melihat situasi bengkel kereta api masih dikuasai penuh oleh penguasa Jepang dan terdorong oleh keberanian Rachmat, dua pemuda yaitu Yunus dan Suwadri pergi ke Jakarta untuk menyaksikan dari dekat situasi perjuangan rekan-rekannya. Juga untuk minta penjelasan dari pimpinan pusat bengkel. Tanggal 9 September mereka kembali dan menyusun kekuatan di kalangan pemuda buruh kereta api. Mereka mempersiapkan pengibaran Merah Putih yang menemui kegagalan beberapa hari yang lalu.

Keesokan harinya (10/9-1945) para pemuda mengibarkan sang Merah Putih dengan tiang setinggi 13 m di atas gedung Biro SCS. Dengan pengawalan berpuluh-puluh pemuda bersenjatakan kelewang, pemuda Yunus dan Tjiptohardjo mengibarkan sang Merah Putih. Pada saat penghormatan tiba-tiba muncul seorang Kempetai lengkap dengan pistol di pinggang. Pemimpin pemuda diperintahkan untuk menurunkan Merah Putih. Perintah tersebut ditolak mentah-mentah oleh para pemuda, bahkan para pemuda menantang agar Kempetai menurunkannya sendiri. Tapi ingat risikonya, gertak para pemuda, Kempetai itu dengan lesu ngeloyor pergi.

Melihat kenyataan bahwa Kempetai sudah tidak punya gigi lagi, perjuangan para pemuda untuk menegakkan Merah Putih semakin menjadi-jadi. Mereka beramai-ramai mengibarkan Merah Putih di kantor-kantor pemerintah, sementara orang-orang Jepang yang melihat tidak berani berbuat apa-apa. Selesai bertindak, mereka kumpul di kantor KNI (Jl Sudirman sekarang).

Demonstrasi pengibaran Merah Putih oleh pemuda kereta api ternyata mempunyai buntut. Begitu para pemuda kumpul di kantor KNI, 10 orang Kempetai datang dan mengepung kantor KNI. Sebuah mitraliyur diarahkan ke pintu kantor. Mereka bermaksud menangkap pimpinan pemuda yang mengadakan demonstrasi pengibaran bendera. Kemudian diadakan perundingan antara pimpinan Kempetai dan pimpinan KNI Tjitrosakmoko. Tetapi kejadian ini ternyata didengar dan diketahui oleh para pemuda. Dalam waktu singkat datanglah beratus-ratus massa pemuda membanjiri kantor KNI. Melihat kenyataan kekuatan dan semangat yang menggelora di kalangan pemuda, Kempetai tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kemudian dengan memberi salam MERDEKA!, Kempetai itu pergi.

Melihat situasi perjuangan yang semakin memuncak dan tidak dapat dibendung, pihak penguasa Jepang melucuti senjata dari tangan Kepolisian Negara. Kejadian dan berita ini benar-benar membakar kemarahan para pemuda. Sebagai imbalan tindakan Kempetai tersebut dua orang Jepang diseret dari rumahnya dan dibunuh beramai-ramai oleh massa rakyat.

Sejak peristiwa pembunuhan tersebut semua orang Jepang dikumpulkan menjadi satu di markas Kempetai. Seolah-olah mereka siap sedia menghadapi segala kemungkinan dengan senjata-senjata siap di tangan mereka.

Pada 13 September 1945 datang seorang Pimpinan Pusat Pemuda Kereta Api (Moh Mansyur). Dia datang membawa misi untuk menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengambilalihan kekuasaan Pemerintah di daerah Tegal dan mencoba menginsafkan walikota Tegal dan Kepala Polisi Kota Tegal yang masih pro Jepang.

Sejak saat itulah mulai ada pengkoordinasian perjuangan massa pemuda. Para pemimpin pemuda, para bekas Peta dan Heiho tampil menjadi motivator dan pemimpin perjuangan. Perjuangan mulai terkendali. Tujuan pertama adalah menyadarkan para pemimpin pemerintahan untuk berpaling kepada perjuangan bangsa bahkan menjadi pemimpin mereka. Penculikan dalam rangka operasi "menyadarkan" pemimpin pemerintahan segera dimulai. Kadarman (kepala Polisi), Wiryono (kepala texin), dan R Sungeb Reksoatmodjo diambil dari rumahnya untuk "disadarkan".

Penyerbuan ke Markas Kempetai

Puncak kemarahan rakyat terjadi pada 20 September 1945. Dengan didahului demonstrasi unjuk kekuatan, para pemuda pawai keliling kota. Selesai pawai, beratus-ratus massa pemuda, anggota kepolisian negara, para bekas Peta dan Heiho bergerak mengepung markas Kempetai di bekas hotel Storek Tegal. Sementara orang-orang Jepang baik sipil maupun militer sudah mengumpul di dalam markas Kempetai.

Pengepungan dilakukan dengan ketat. Di bagian belakang sebelah timur dijaga oleh anggota kepolisian negara dan rakyat, sebelah depan oleh para bekas Peta dan Heiho bersama rakyat, di bagian barat oleh para bekas Kaibodan laut bersama rakyat. Massa yang sedang dilanda puncak kemarahan sulit untuk dikendalikan. Mereka berteriak, serbu ...! serbu ...! serbu ...! Bunuh semua orang Jepang. Kemudian massa mulai melempari gedung markas Kempetai dengan batu.

Semua jalur komunikasi, penerangan dan air minum diputuskan dan dirusak. Karena massa sudah tidak dapat terkendalikan, para pengepung di sebelah barat mulai bertindak. Seorang pemuda memasukkan sobekan karung goni ke lubang ventilasi, disiram minyak dan dibakar. Kontan saja Jepang yang di dalam panik dan mulai bertindak melepaskan senapan dengan gencar disertai ledakan-ledakan bom gas air mata. Jatuhlah korban di pihak kita. Warja menjadi orang pertama yang gugur sebagai tumbal revolusi.

Jatuhnya korban pertama tidaklah meredakan ketegangan, malah sebaliknya. Massa pemuda mulai nekat dan sudah tidak sabar lagi untuk segera menghancurkan markas Kempetai. Seorang pemuda dari Desa Panggung, dengan keberanian yang luar biasa meloncat dan naik tembok dengan maksud melemparkan benda ke dalam gedung tapi malang nasibnya, seorang Kempetai menembaknya. Korban kedua jatuh sebagai kusuma bangsa, jenazahnya kemudian dimakamkan sore hari di makam Panggung dengan satu upacara penghormatan.

Walaupun ada korban jatuh, pengepungan terus berlangsung sehari suntuk, sampai akhirnya seorang Kempetai keluar memberikan isyarat menyerah dan minta berunding. Keesokan harinya diadakan perundingan. Mr Iskak Tjokrohadisuryo Wakil Residen Banyumas bertindak sebagai panitia pelucutan tentara Jepang.

Akhirnya Jepang bersedia menyerahkan semua senjata dengan syarat keselamatan semua orang Jepang dijamin. Setelah senjata diserahkan kepada pemuda, 75 orang Jepang diangkut ke Purwokerto.

Sejak saat itulah, 21 September 1945, kekuasaan pemerintah daerah Tegal sepenuhnya berada di tangan bangsa kita. Dengan bersenjatakan senjata rampasan para pemuda dan bekas Peta dan Heiho serta bekas Kaibodan laut mempertahankan daerah/menjaga keamanan daerah sampai terbentuknya BKR/TKR dan badan-badan perjuangan lainnya. Sisdiono Ahmad



Sumber:  Tidak diketahui, 16 Agustus 1984



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perang Kemerdekaan Indonesia 1945-1949: Pejuang Muslim Gigih Melawan

KEKAYAAN sumber daya alam Indonesia, khususnya di daerah Jawa Barat, menjadi sasaran utama pihak Belanda melalui Operasi Produk mulai 21 Juli yang dinyatakan berakhir 5 Agustus 1947. W ALAU Operasi Produk yang dilakukan pasukan Belanda berakhir pada 5 Agustus 1947 dengan dinyatakannya gencatan senjata Belanda dengan pihak Republik Indonesia, tapi perlawanan pihak pejuang di Jawa Barat terus dilakukan. Memasuki September 1947, pasukan Belanda terus melakukan aksi militer, terutama ke sejumlah pelosok di selatan Jawa Barat yang menjadi kantong-kantong perlawanan pihak Republik dan para pejuang Muslim, seperti di Sukabumi, Cianjur, Bandung, Garut, Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, dan Majalengka. Sejumlah bentrokan antara pasukan Belanda dengan pihak Indonesia terekam dalam arsip sejumlah surat kabar di Perpustakaan Nasional Australia, Trove. Dalam sejumlah arsip berita, perlawanan dari pihak Indonesia terhadap Belanda diberitakan dalam media terbitan September 1947. Surat kabar The West Au...

Potongan Catatan Masa Pendek September 1945 - Februari 1946: Kisah Cimahi pada Masa Bersiap

KAWASAN Cimahi dikenal menjadi salah satu catatan sejarah yang memiliki nilai historis tinggi pada zaman serangan dan pendudukan Jepang di Perang Dunia II tahun 1942-1945, lalu Perang Kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949. Demikian catatan peristiwa masa pendek setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 sampai awal Februari 1946. S ALAH satu catatan dari situasi Cimahi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 lalu disusul pernyataan menyerahnya Jepang dari Perang Dunia II kepada pihak Sekutu, pada 2 September 1945. Catatan itu menjelang lalu diikuti Masa Bersiap adalah situasi sejumlah kamp interniran di Cimahi yang umumnya ada sekitaran lingkungan eks kompleks militer di sekitaran Stasiun Cimahi. Dalam sejumlah catatan dikumpulkan "PR" sejumlah sumber, pada banyak tempat di Pulau Jawa pada masa-masa itu semangat rakyat Indonesia mempertahankan kemerdekaannya yang baru saja diproklamasikan. Di Cimahi pun, masih banyak interniran terdiri ora...

Catatan Sejarah Perjuangan Bangsa: Pergerakan Wahidin Soedirohoesodo Beranjak dari Sebuah Desa Kecil

Oleh: Sudarto Wartawan Suara Karya Hari lahirnya Boedi Oetomo, tanggal 20 Mei 1908, yang kini ditetapkan menjadi Hari Kebangkitan Nasional, untuk ke-75 kalinya diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia tanggal 20 Mei lalu. Hal ini dilakukan sebagai penghormatan, dan rasa terima kasih segenap bangsa Indonesia terhadap para pendiri Boedi Oetomo, yang telah mampu membangkitkan pergerakan bangsa Indonesia, hingga bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya, dan mengusir kaum penjajah dari bumi Nusantara. Sudah menjadi catatan sejarah, Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei 1908 telah mampu menggerakkan pemuda Indonesia ke arah persatuan, dan kesatuan bangsa, hingga mereka tanggal 28 Oktober 1928 mencetuskan Sumpah Pemuda, Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. Semangat Kebangkitan Nasional tidak hanya berhenti sampai di situ, sebab ia terus memancarkan sinarnya di dada setiap insan Indonesia, yang kemudian meledak menjadi api perjuangan merebut kemerdekaan, dan tanggal 17 Agustus 1945...

Sumpah Pemuda dan Disrupsi Bangsa

Yudi Latif Pengurus Aliansi Kebangsaan Sumpah Pemuda adalah kisah konektivitas dan inklusivitas keragaman identitas di awal pembentukan bangsa Indonesia. Ini adalah kisah spektakuler perjuangan anak-anak muda mengarungi jalan terjal multiseleksi, dalam proses adaptasi terhadap tantangan kehidupan sehingga tampail sebagai penyintas. U ntuk menggambarkan jalan panjang dan berliku yang dilalui manusia (muda) Indonesia, dari seorang individu menjadi warga bangsa, kita bisa meminjam deskripsi Jonathan Haidt dalam bukunya yang memukau, The Righteous Mind: Why Good People are Divided by Politics and Religion (2012). Kisah ini bermula dari anak-anak jajahan, dengan watak alamiah menyerupai simpanse yang mengutamakan kepentingan pribadi, harus berlomba untuk bisa menjadi "priayi baru" (bangsawan pikiran) dalam sistem kompetisi masyarakat kolonial yang tidak fair . Pada etape selanjutnya, aneka diskriminasi yang dialami di sepanjang perlintasan menjadi "priayi baru" mempersam...

Sumarsono dan "Bandung Lautan Api"

"H anya satu yang saya jadikan pegangan, berjuang mengamankan proklamasi tanpa kompromi!" Inilah yang mendasari semangat juang pemuda Sumarsono untuk ikut serta mempertahankan kota Bandung agar tidak dikuasai Sekutu. Maka ia pun, yang waktu itu baru berusia 23 tahun, sebagai Komandan Batalyon II/Resimen 8/Divisi II Siliwangi bersama anak buahnya membumihanguskan kota Bandung. Pembumihangusan itu terjadi pada tanggal 24 Maret 1946, yang dicatat dalam sejarah kita sebagai peristiwa Bandung Lautan Api. Sumarsono yang waktu itu berpangkat mayor dikenal oleh pihak Sekutu sebagai penjahat perang yang paling berbahaya. Maka dari itu, Sekutu berusaha mati-matian untuk bisa menangkap Sumarsono. Antara lain, Sekutu menjanjikan hadiah 1.000 dollar Singapura bagi siapa saja yang bisa menangkap Sumarsono. "Ya, waktu itu saya disayembarakan melalui radio British Broadcast di Singapura," kenang Sumarsono, nadanya datar tetapi mantap. "Tetapi saya tidak takut. Saya justru...

Bukan Federalis

Ganjar Kurnia Ketua Dewan Kebudayaan Jawa Barat B AGI orang Sunda, Negara Pasundan sering kali dirasakan sebagai dosa warisan dengan duduk persoalan yang tidak jelas. Walaupun masih banyak hal yang harus diungkap, Agus Mulyana melalui bukunya yang berjudul Negara Pasundan , telah menguak tabir sejarah kelabu orang Sunda tersebut. Selama ini, ada pandangan bahwa berdirinya Negara Pasundan identik dengan kehendak untuk menjadikan Indonesia sebagai negara federal ala Van Mook. Hal yang tidak diketahui masyarakat umum, ada dua bentuk negara Pasundan, yaitu Negara Pasundan yang didirikan oleh Soeria Kartalegawa dan Negara Pasundan sebagai produk dari Konferensi Jawa Barat dengan Wali Negara RAA Wiranatakoesoemah. Walaupun versi Soeria Kartalegawa dianggap terkait dengan persoalan atau ambisi pribadi (buku Negara Pasundan halaman 70-71), terungkap pula alasan rasional pendiriannya yang dapat dijadikan pembelajaran bagi kehidupan bernegara masa kini dan masa depan. Partai Rakyat Pasundan yang...

Surosowan, Istana Banten yang Dua Kali Dibakar

N ama istana ini diambil dari nama Sultan Banten pertama yaitu Maulana Hasanuddin. Sultan yang naik tahta tahun 1552 ini bergelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan. Tercatat 21 sultan Banten bertahta dan tinggal di dalamnya. Tercatat banyak renovasi yang dilakukan para sultan terhadap istana ini. Tercatat dua kali dibumihanguskan. Ya, itulah Istana Surosowan. Istana kebanggaan Kesultanan Banten (berdiri tahun 1522 dan berakhir tahun 1820). Istana ini berdiri di atas tanah seluas 4 ha. Di sekelilingnya dibangun tembok kokoh dan parit yang bersambung dengan Sungai Cibanten. Dahulu, rakyat berkegiatan di alun-alun di muka istana. Pasar, kesenian rakyat, dan segala kegiatan digelar di alun-alun. Bahkan Sultan secara rutin menjumpai rakyatnya di pekarangan istana. DIBANGUN, DIBAKAR, DIBANGUN LAGI, DIBAKAR LAGI Istana Surosowan merupakan saksi kemegahan dan kehancuran Kesultanan Banten. Tercatat dua kali istana ini dibumihanguskan. Pembumihangusan yang pertama terjadi tahun 1680. Ketik...