Benarkah Indonesia telah merdeka? Begitulah kira-kira keraguan masyarakat Tegal ketika terdengar santer tentang Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dikumandangkan oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Kesangsian itu timbul karena sistem komunikasi yang belum sempurna waktu itu dan pihak penguasa Jepang yang selalu merahasiakan kejadian yang sebenarnya.
Pada 19 Agustus 1945, berita tentang proklamasi semakin santer dan ramai dibicarakan oleh para pemuda Tegal. Keragu-raguan itu sedikit reda setelah para prajurit Heiho dan Peta saling berdatangan kembali ke rumah masing-masing karena telah dibubarkan oleh penguasa Jepang di daerah Tegal.
Dalam situasi perjuangan yang belum menentu dan belum diketahui secara pasti, muncul 4 orang pemuda masing-masing Moh Yusup, Iding Rana keduanya bekas Sodhanco Peta, Sumarna, dan Kadarisman. Mereka berempat mempelopori para pemuda dan mendatangi Walikota Tegal R Soengeb Reksoatmodjo, mendesak agar segera mengumumkan/menyatakan kemerdekaan yang telah diproklamasikan di Jakarta kepada masyarakat Tegal. Permohonan delegasi pemuda tersebut ternyata ditolak mentah-mentah oleh Walikota dengan alasan belum ada perintah dari Gunsaikanbu di Jakarta.
Ketidakberanian walikota tersebut membuat para pemuda berang dan marah, apalagi setelah diketahui bahwa berita proklamasi semakin jelas dan benar adanya. Maka pada tanggal 26 Agustus Moh Yusup dengan 11 pemuda mendatangi balaikota. Mereka diterima oleh Darmo Prawiro, memaksa minta sebuah bendera. Mereka keluar dengan gagah membawa sebuah bendera. Begitu dilihatnya bendera Hinomaru masih berkibar di depan rumah penjara (kantor polisi), mereka segera menghambur masuk ke kantor kepala rumah penjara dan diterima oleh seorang perwira Jepang dengan pistol yang siap tembak tergeletak di mejanya. Pembicaraan berlangsung tegang, karena perwira Jepang itu menolak menurunkan bendera Hinomaru. Tindakan psikologis berupa ancaman perwira Jepang sama sekali tidak digubris oleh para pemuda. Karena perwira Jepang itu tetap bersikeras tidak mau menurunkan bendera Hinomaru, maka Moh Yusup dan teman-temannya mengancam akan memporakporandakan rumah penjara dan akan melepaskan para napi. Perwira Jepang itu akhirnya tidak dapat berbuat banyak. Segera dua orang keluar untuk menurunkan Hinomaru. Di bawah ancaman perwira Jepang tersebut para pemuda berdiri tegap memberi hormat dengan penuh hikmat kepada Sang Merah Putih yang dikibarkan pelan-pelan. Sambil terisak karena tidak dapat menahan haru, seorang pemuda memerintah dengan ultimatum agar seorang pegawai penjara menjaganya.
Selesai penyerbuan dan pengibaran di depan kantor polisi tersebut, para pemuda kembali lagi ke balaikota. Mereka memaksa minta 5 buah bendera merah putih ukuran besar. Rombongan terus bergerak ke tempat-tempat strategis seperti Stasiun KA, gedung Biro SCS, dan gedung Menara Saluran Air Minum. Karena ketiga gedung itu bersebelahan, maka diputuskan untuk mengibarkan di atas gedung Saluran Air Minum. Dengan berkibarnya sang Merah Putih di gedung tertinggi di Tegal itu tentu akan memberikan pengaruh psikologis kepada masyarakat. Mereka kemudian terdorong untuk ikut bergerak menurunkan Hinomaru yang masih banyak berkibar di gedung-gedung pemerintahan. Hari itu juga, dengan kendaraan pinjaman dari Koeswoyo mereka ke Slawi (14 km selatan Tegal). Di depan gedung Saluran Air Miinum Slawi mereka mengibarkan Merah Putih. Perjalanan dilanjutkan ke Jatibarang dan Brebes. Masing mengibarkan bendera Merah Putih di puncak Menara Saluran Air Minum. Kemudian mereka kembali ke Tegal jam 16.30. Tindakan Moh Yusup dan teman-temannya itu sempat menggugah semangat para pemuda untuk mengenyahkan penguasa Jepang.
Pagi tanggal 27 Agustus 1945, di pelabuhan tidak begitu jauh dari Kantor Polisi terjadi upacara penaikan bendera Hinomaru sebagaimana biasa. Sambil menunggu komandan upacara tiba, sekonyong-konyong muncul seorang pemuda Yakup Mangunkusumo bekas Danco Kaibodan Laut merebut Hinomaru yang sedang dipegang petugas. Yakup memasukkan bendera itu ke dalam bajunya. Kemudian dengan gagah berani dia mengibarkan Merah Putih yang telah dia siapkan. Selesai memberi penghormatan pemuda Yakup lari dan menghilang sampai tiga hari. Sembunyi dari kejaran kempetai yang kejam dan sadis.
Menghadapi hari raya Idul Fitri perjuangan menegakkan sang Merah Putih nampaknyya agak mereda. Tetapi ternyata diam-diam para pemuda tengah mempersiapkan "acara" yang menarik dan penuh risiko karena yang dihadapi mereka adalah polisi militer Jepang, Kempe, yang terkenal kejam. Tanggal 6 September bertepatan dengan hari raya Idul Fitri di bengkel kereta api, stasiun KA dan Biro SCS, Hinomaru masih berkibar seolah-olah dia mengejek para pemuda. Pemuda Rachmat merasa tergerak semangat kemerdekaannya, diam-diam dia menurunkan Hinomaru dan mengibarkan sang merah putih. Karena hari libur, bendera itu sempat sehari suntuk berkibar. Keesokan harinya pemuda Rachmat diperingatkan keras oleh Jepang. Tetapi ia sempat berbantah dan berdebat sengit. Karena di bawah ancaman dan dirasakannya perjuangan masih jauh, pemuda Rachmat mengalah dan menurunkan kembali sang Merah Putih.
Melihat situasi bengkel kereta api masih dikuasai penuh oleh penguasa Jepang dan terdorong oleh keberanian Rachmat, dua pemuda yaitu Yunus dan Suwadri pergi ke Jakarta untuk menyaksikan dari dekat situasi perjuangan rekan-rekannya. Juga untuk minta penjelasan dari pimpinan pusat bengkel. Tanggal 9 September mereka kembali dan menyusun kekuatan di kalangan pemuda buruh kereta api. Mereka mempersiapkan pengibaran Merah Putih yang menemui kegagalan beberapa hari yang lalu.
Keesokan harinya (10/9-1945) para pemuda mengibarkan sang Merah Putih dengan tiang setinggi 13 m di atas gedung Biro SCS. Dengan pengawalan berpuluh-puluh pemuda bersenjatakan kelewang, pemuda Yunus dan Tjiptohardjo mengibarkan sang Merah Putih. Pada saat penghormatan tiba-tiba muncul seorang Kempetai lengkap dengan pistol di pinggang. Pemimpin pemuda diperintahkan untuk menurunkan Merah Putih. Perintah tersebut ditolak mentah-mentah oleh para pemuda, bahkan para pemuda menantang agar Kempetai menurunkannya sendiri. Tapi ingat risikonya, gertak para pemuda, Kempetai itu dengan lesu ngeloyor pergi.
Melihat kenyataan bahwa Kempetai sudah tidak punya gigi lagi, perjuangan para pemuda untuk menegakkan Merah Putih semakin menjadi-jadi. Mereka beramai-ramai mengibarkan Merah Putih di kantor-kantor pemerintah, sementara orang-orang Jepang yang melihat tidak berani berbuat apa-apa. Selesai bertindak, mereka kumpul di kantor KNI (Jl Sudirman sekarang).
Demonstrasi pengibaran Merah Putih oleh pemuda kereta api ternyata mempunyai buntut. Begitu para pemuda kumpul di kantor KNI, 10 orang Kempetai datang dan mengepung kantor KNI. Sebuah mitraliyur diarahkan ke pintu kantor. Mereka bermaksud menangkap pimpinan pemuda yang mengadakan demonstrasi pengibaran bendera. Kemudian diadakan perundingan antara pimpinan Kempetai dan pimpinan KNI Tjitrosakmoko. Tetapi kejadian ini ternyata didengar dan diketahui oleh para pemuda. Dalam waktu singkat datanglah beratus-ratus massa pemuda membanjiri kantor KNI. Melihat kenyataan kekuatan dan semangat yang menggelora di kalangan pemuda, Kempetai tidak dapat berbuat banyak. Bahkan kemudian dengan memberi salam MERDEKA!, Kempetai itu pergi.
Melihat situasi perjuangan yang semakin memuncak dan tidak dapat dibendung, pihak penguasa Jepang melucuti senjata dari tangan Kepolisian Negara. Kejadian dan berita ini benar-benar membakar kemarahan para pemuda. Sebagai imbalan tindakan Kempetai tersebut dua orang Jepang diseret dari rumahnya dan dibunuh beramai-ramai oleh massa rakyat.
Sejak peristiwa pembunuhan tersebut semua orang Jepang dikumpulkan menjadi satu di markas Kempetai. Seolah-olah mereka siap sedia menghadapi segala kemungkinan dengan senjata-senjata siap di tangan mereka.
Pada 13 September 1945 datang seorang Pimpinan Pusat Pemuda Kereta Api (Moh Mansyur). Dia datang membawa misi untuk menyelesaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan pengambilalihan kekuasaan Pemerintah di daerah Tegal dan mencoba menginsafkan walikota Tegal dan Kepala Polisi Kota Tegal yang masih pro Jepang.
Sejak saat itulah mulai ada pengkoordinasian perjuangan massa pemuda. Para pemimpin pemuda, para bekas Peta dan Heiho tampil menjadi motivator dan pemimpin perjuangan. Perjuangan mulai terkendali. Tujuan pertama adalah menyadarkan para pemimpin pemerintahan untuk berpaling kepada perjuangan bangsa bahkan menjadi pemimpin mereka. Penculikan dalam rangka operasi "menyadarkan" pemimpin pemerintahan segera dimulai. Kadarman (kepala Polisi), Wiryono (kepala texin), dan R Sungeb Reksoatmodjo diambil dari rumahnya untuk "disadarkan".
Penyerbuan ke Markas Kempetai
Puncak kemarahan rakyat terjadi pada 20 September 1945. Dengan didahului demonstrasi unjuk kekuatan, para pemuda pawai keliling kota. Selesai pawai, beratus-ratus massa pemuda, anggota kepolisian negara, para bekas Peta dan Heiho bergerak mengepung markas Kempetai di bekas hotel Storek Tegal. Sementara orang-orang Jepang baik sipil maupun militer sudah mengumpul di dalam markas Kempetai.
Pengepungan dilakukan dengan ketat. Di bagian belakang sebelah timur dijaga oleh anggota kepolisian negara dan rakyat, sebelah depan oleh para bekas Peta dan Heiho bersama rakyat, di bagian barat oleh para bekas Kaibodan laut bersama rakyat. Massa yang sedang dilanda puncak kemarahan sulit untuk dikendalikan. Mereka berteriak, serbu ...! serbu ...! serbu ...! Bunuh semua orang Jepang. Kemudian massa mulai melempari gedung markas Kempetai dengan batu.
Semua jalur komunikasi, penerangan dan air minum diputuskan dan dirusak. Karena massa sudah tidak dapat terkendalikan, para pengepung di sebelah barat mulai bertindak. Seorang pemuda memasukkan sobekan karung goni ke lubang ventilasi, disiram minyak dan dibakar. Kontan saja Jepang yang di dalam panik dan mulai bertindak melepaskan senapan dengan gencar disertai ledakan-ledakan bom gas air mata. Jatuhlah korban di pihak kita. Warja menjadi orang pertama yang gugur sebagai tumbal revolusi.
Jatuhnya korban pertama tidaklah meredakan ketegangan, malah sebaliknya. Massa pemuda mulai nekat dan sudah tidak sabar lagi untuk segera menghancurkan markas Kempetai. Seorang pemuda dari Desa Panggung, dengan keberanian yang luar biasa meloncat dan naik tembok dengan maksud melemparkan benda ke dalam gedung tapi malang nasibnya, seorang Kempetai menembaknya. Korban kedua jatuh sebagai kusuma bangsa, jenazahnya kemudian dimakamkan sore hari di makam Panggung dengan satu upacara penghormatan.
Walaupun ada korban jatuh, pengepungan terus berlangsung sehari suntuk, sampai akhirnya seorang Kempetai keluar memberikan isyarat menyerah dan minta berunding. Keesokan harinya diadakan perundingan. Mr Iskak Tjokrohadisuryo Wakil Residen Banyumas bertindak sebagai panitia pelucutan tentara Jepang.
Akhirnya Jepang bersedia menyerahkan semua senjata dengan syarat keselamatan semua orang Jepang dijamin. Setelah senjata diserahkan kepada pemuda, 75 orang Jepang diangkut ke Purwokerto.
Sejak saat itulah, 21 September 1945, kekuasaan pemerintah daerah Tegal sepenuhnya berada di tangan bangsa kita. Dengan bersenjatakan senjata rampasan para pemuda dan bekas Peta dan Heiho serta bekas Kaibodan laut mempertahankan daerah/menjaga keamanan daerah sampai terbentuknya BKR/TKR dan badan-badan perjuangan lainnya. Sisdiono Ahmad
Sumber: Tidak diketahui, 16 Agustus 1984


Komentar
Posting Komentar